Belenggu Hasrat Kakak Ipar

Belenggu Hasrat Kakak Ipar
Terlalu sakit untuk dilupakan


__ADS_3

"Aku Fikir Emre sama sekali tidak terlibat dengan kejadian 7 tahun yang lalu soal penculikan Elis dan Emilia dalam proses surogasi , dia hanya menukar sang pengantin perempuan karena takut keluarga besar MC Juan tahu jika Elis sudah bukan seorang gadis perawan"


Will bicara cepat ke arah maya sambil mencoba menyusun benang kusut, menampilkan banyak foto-foto di atas meja.


"Seseorang menculik Elis dan Emilia, Elis di per..kosa oleh orang tidak di kenal, Emilia ditukar dengan gadis pengganti yang di siapkan Emre, waktu dan kejadian berbeda, Elis 2 hari sebelum pernikahan mereka dan Emilia di malam pernikahan mereka"


ucap Will cepat sambil mengambil pion catur di depan nya.


"Yang menjadi pertanyaan adalah, keuntungan apa yang didapat ?"


Ucap Maya cepat.


"Untuk Elis awal nya tidak ada keuntungan, Tebakan ku yang menculik Elis mungkin laki-laki yang memang menginginkan nya sejak lama"


Ucap William sambil menarik 1 pion catur di hadapannya.


"Bisa jadi orang ini memang hanya berniat mendapatkan Elis"


Lanjut nya lagi.


Maya jelas menaikkan alisnya.


"Bagaimana bisa?"


"Laki-laki ini pasti bingung setelah melakukan nya, dan menurut ku yang menukar gadis di malam pertama Gerry Lincoln pasti orang yang berbeda"


Gerry berusaha menarik 1 pion catur di hadapannya.


Maya jelas menatap bingung ke arah Will.

__ADS_1


"Sistem kerjanya jelas terarah sempurna, dia memastikan menukar gadis pilihan Emre sebagai pengganti Elis dan Emilia dalam waktu yang cukup singkat, ini berarti sejak awal orang itu telah mengenal gadis pilihan Emre dan juga Elis dengan baik"


Seketika Maya menatap bola mata Will.


Will Tampak Balik menatap bola mata maya


"Kita melupakan gadis itu sejak awal, gadis yang di beli Emre dari pusat pelelangan club Pela..curan elit, dia bisa menjadi kunci untuk menjawab teka-teki ini"


"Oh God"


Maya jelas tercekat, dia baru sadar jika selama ini mereka selalu melewatkan gadis yang di jual itu.


*********


Emilia terus memundurkan langkahnya, dia fikir Gerry mungkin bakal jijik melihat dirinya saat tahu soal Kenyataan jika dia sudah bukan gadis suci lagi.


Ketidak berdayaan nya untuk memberontak, minuman nya yang di tukar di saat pesta acara kampus, saat seseorang menyeretnya dengan paksa, Ketika dia dibaringkan didalam kamar gelap yang dia tidak tahu milik siapa, saat seorang laki-laki yang tengah mabuk menjamah tiap inci tubuhnya, saat air matanya tumpah tapi seluruh tubuhnya jelas tidak bisa digerakkan seolah-olah lumpuh begitu saja, ciuman itu, sesapan itu, bahkan saat sesuatu menerobos dengan paksa dibawah sana.


"Akhhhh"


Emilia jelas berteriak histeris.


ingatan malam itu benar-benar menyakiti perasaan nya, dia merasa jijik, dia benci pada keadaan, dia benci pada tubuhnya sendiri.


"Emilia"


Gerry jelas panik melihat Emilia yang tiba-tiba berteriak histeris, kedua telapak tangan nya terlihat terus berusaha menghapus seluruh bagian di tubuh nya, Seolah-olah bergerak jijik atas sentuhan seseorang.


Secepat kilat Gerry meraih tubuh Emilia, mencoba menenangkan nya, bukannya mereda tapi Emilia jelas semakin histeris.

__ADS_1


"Lepaskan aku, ini menjijikkan, jangan sentuh aku, jangan sentuh aku.... akhhhhh"


Emilia mulai kehilangan akal sehat nya, kejadian malam itu benar-benar menyisakan trauma didalam dirinya.


"Kak?"


Alicia yang baru datang tiba-tiba terpaku menatap sang kakak, dengan perasaan bingung dia mencoba untuk menyambar tubuh Emilia.


"Kakak.."


"Tidak...tidak..."


"Kak"


Alicia mulai ikut menangis, dia mencoba mencari sesuatu di dalam tas miliknya, sejak dulu hingga sekarang mama nya selalu berpesan, bawa obat penenang kemana pun mereka berada jika Alicia tengah berdekatan dengan sang kakak, untungnya saat Jerry berkata akan membawa nya menemui sang kakak, Alicia sempat membawa nya.


Dengan tangan gemetaran Alicia meraih botol obat itu, mencoba mengeluarkan isi nya lantas mencoba memberikan pada sang kakak namun gagal.


"Kakak, jangan menakuti aku"


Alicia terus terisak, mencoba memunguti obat yang mulai tumpah satu persatu.


Gerry fikir mungkin dia telah melewati batasan pemikiran nya, dengan gerakan cepat dia meraih satu butir obat, mengambil air minum dan dengan gerakan cepat memasukkan obat itu kedalam mulutnya, lantas Gerry meraih wajah Emilia kemudian dalam hitungan detik dia menautkan bibir mereka, membiarkan obat itu perlahan masuk dari dalam mulutnya menuju kedalam mulut Emilia.


Ini benar-benar gila.


Batin Gerry lantas melepaskan pautan bibir mereka.


Beberapa waktu kemudian Emilia mulai tampak tenang, kemudian dalam beberapa menit kedepannya secara perlahan Emilia masuk ke dalam pelukannya dan terlelap didalam dada bidangnya.

__ADS_1


__ADS_2