
Jerry tampak mengulum senyumannya ketika melihat Alicia yang sejak tadi sibuk mengurusi ertan sejak tadi pagi hingga siang ini tanpa sedikitpun keluhan, tidak meminta pelayan rumah Menggantikan nya atau mencari baby sister untuk mengurus Ertan, dia selalu berkata dia begitu menyukai ertan.
Meskipun lelah Jerry bisa melihat guratan kebahagiaan yang terpancar di balik wajah sang istri.
Saat Ertan mulai terlelap dari tidur siang nya, Alicia baru beranjak meninggalkan ertan Menuju ke kamar mereka setelah melesatkan ciuman hangat nya.
"Lelah?"
Jerry Bertanya sambil mendekati Alicia, memijat pelan bahu sang istri Secara perlahan.
"Hmmm tidak begitu"
Jawab Alicia pelan.
"Berbaring lah, aku akan bantu pijat kan"
Ucap Jerry sambil membawa Alicia menuju ke atas kasur mereka.
Alicia secara perlahan menghempas tubuh nya ke atas kasur, dalam posisi tidur tengkurap perempuan itu memeluk bantal kepalanya.
Jerry mulai memijat-mijat punggung Alicia untuk beberapa waktu, membiarkan sang istri mendapatkan kenyamanan nya.
"Terima kasih banyak untuk hal-hal yang telah kamu lakukan untuk aku dan Ertan selama ini hmm"
Ucap Jerry pelan.
"Merawat Ertan dengan dan penuh kasih sayang, serta juga melakukan tugas sebagai seorang istri tanpa pernah mengeluh hmm"
Tambah Jerry lagi.
Alicia tampak mengembangkan senyuman nya, masih dalam posisi mata terpejam perempuan itu berkata.
"Bukan kah itu memang kewajiban seorang istri? melayani suami sebisa yang aku mampu."
Alicia bicara sambil terus menikmati pijatan dari Jerry.
__ADS_1
"Perihal Ertan itu karena aku benar-benar merasa jika dia benar-benar adalah putra ku sendiri"
Alicia tertawa kecil.
"Aku hampir lupa jika dia putri kakak perempuan ku"
Lanjut nya lagi.
Lalu Kemudian perempuan itu tiba-tiba diam sejenak, Alicia tahu-tahu membalikkan tubuhnya lantas menatap dalam bola mata Jerry.
"Kata nya kak Emilia akan mengambil Ertan setelah acara rapat perusahaan?"
Tanya Alicia pelan.
"He em"
Jerry mengangguk pelan.
Alicia tampak diam, ekspresi sedih jelas terlihat di balik wajah nya, mungkin karena sudah terbiasa bersama hingga membuat perempuan itu lupa jika Ertan adalah putra sang kakak nya bukan putra nya.
"Kenapa?"
Alicia menggeleng kan kepala pelan.
"Jika Ertan kembali kerumah Gerry dan Emilia kita bisa menjemput nya nanti"
Ucap Jerry pelan.
"Hmmm atau jika tidak kita bisa membuat yang sama seperti milik mereka"
Goda Jerry tiba-tiba.
"Ishhh"
Alicia langsung memunyungkan bibirnya.
__ADS_1
"Aku fikir kita memang seharusnya mempercepat proses pembuatan yang serupa, ah tidak mungkin tidak akan mirip Ertan sebab Ertan jelas-jelas cetakan Gerry, pasti cukup berbeda jika itu cetakan milik ku"
Jerry tampak terkekeh saat membicarakan nya, lantas langsung naik ke atas tubuh Alicia.
"Jerry"
Rengek sang istri.
Jerry terus tertawa geli, menggenggam erat pipi Alicia untuk beberapa saat lantas mencium lembut bibir Alicia sejenak.
"Mari membuat nya setelah acara ulang tahun perusahaan Fawad"
Goda laki-laki itu lagi.
Wajah Alicia jelas memerah mendengar ucapan sang suami.
"Dasar"
Jerry kembali mencium bibir Alicia berkali-kali, mencium keningnya, pipi nya bahkan hidung nya juga.
"kalau sekarang waktunya terlalu sempit, aku tidak suka melakukan nya hanya dalam satu ronde saja"
"Jerry...."
Pekik Alicia sambil memukul kesal dada sang suami.
"Sayang ini sakit"
"Biarkan saja, siapa suruh terus menggoda ku?"
"Apa itu membuat kamu mulai ber..gelora?"
Goda Jerry cepat.
"Sayang..."
__ADS_1
Rengek Alicia kesal.
Jerry tertawa terbahak-bahak, kemudian laki-laki itu memeluk erat tubuh Alicia sambil mencium hangat puncak kepala nya.