
"Dimana uncle Emre mu, ertan ?"
Lincoln bertanya pada linc junior ketika mobil mereka melesat meninggalkan bibi ke dua keluarga fawad yang mengantar sang junior.
"Kata uncle dia harus beltemu seseorang untuk menolak pelnikahan"
Lincoln tampak mengerutkan dahinya.
"Uncle Emre mu akan menikah?"
"he em, nenek fawad bilang uncle di jodohkan dengan untie dari Itali"
Lincoln mendengus.
"Mereka masih seperti orang kolot saja, menjodohkan anak-anak seperti kisah Putri Diana"
Saat Lincoln mengatakan soal itu jelas saja Emilia menatap Lincoln sambil melotot kesal.
Bukankah aku juga di jodohkan dan di nikahkan paksa seperti putri Diana?
Lincoln yang menyadari ekspresi Alicia langsung menoleh ke arah sang istri, dengan wajah sok dingin nya dia mengangkat bahunya pelan.
"Tidak termasuk kita"
Yang benar saja.
sungut Alicia dalam hati.
"Daddy, kenapa mommy balu datang sekalang? aku melasa bosan menunggu di lumah nenek fawad selama beltahun-tahun"
Lincoln tampak Terkekeh mendengar keluhan ertan.
__ADS_1
"Kamu boleh tanyakan pada mommy mu, kenapa datang begitu terlambat"
"Ya?"
Alicia jelas menatap tidak percaya pada jawaban yang lincoln berikan pada bocah sekecil itu.
"Mommy?"
Ertan mendongak, menatap dalam wajah Alicia.
Oh imut nya.
"Hmm begini sayang, mommy masih harus menyelesaikan pendidikan kemarin, dan Daddy mu juga salah karena terlalu lama menjemput mommy"
Lincoln langsung melirik ke arah Alicia.
"Daddy mu seperti nya lupa arah jalan pulang"
Ertan tampak membulat kan bola mata indahnya, mulut nya sedikit ternganga.
ertan tampak menatap Lincoln dan Alicia bergantian.
"Atau jangan-jangan Daddy belsama pelempuan yang seperti nenek sihil itu? aku benci pada pelempuan itu"
Ertan tampak menatap kesal ke arah Daddy nya.
"Nenek sihir?"
Alicia menatap ertan bingung.
"Pelempuan itu terus mengejar Daddy, aku tidak suka pada nya mommy, dia pernah menyakiti elhan dulu"
__ADS_1
"Siapa?"
Alicia mengerutkan keningnya.
"Kembalan ku, elhan"
Ah? kembar? bagaimana maksud nya?
otak Alicia lagi-lagi buntu seketika.
"Bibi pemyihil pelnah menalik kasar tangan elhan, sambil belkata jadi lah anak yang penulut"
wajah ertan tiba-tiba menjadi mendung.
"Lalu di..."
Alicia ingin bertanya dimana kembarannya itu, tapi Lincoln langsung menggelengkan kepalanya.
"Kami sudah lama tidak beltemu, dimana elhan mommy? kenapa dia pelgi jalan-jalan lama sekali?"
Alicia fikir apa yang terjadi pada si kembaran bocah laki-laki ini, Alicia berusaha untuk mencari tahu dari ekspresi Lincoln. Laki-laki itu seolah-olah berkata kau akan tahu setelah ini.
"Kemarilah"
Alicia bicara sambil meminta ertan duduk di pangkuan nya.
"Bukankah kau merindukan mommy? kau bisa memeluk mommy saat ini"
Seketika ekspresi wajah ertan menjadi begitu cerah, langsung memeluk tubuh Alicia dengan begitu erat.
Mereka tampak begitu asik mengobrol tentang banyak hal, Lincoln fikir Alicia cukup pandai merayu anak-anak, Alicia bahkan begitu sabar menghadapi ocehan ertan sejak awal mereka bertemu hingga akhirnya mereka mulai terlelap berdua dimana ertan tertidur didalam pangkuan Alicia dengan perasaan nyaman sambil Alicia terus membelai lembut rambut ertan dengan bola mata yang ikut tertutup.
__ADS_1
Bagi Lincoln mereka benar-benar persis seperti ibu dan anak.
Lincoln menarik pelan nafasnya sambil tersenyum senang, Perjalanan kali ini sedikit jauh, karena mereka akan menemui seseorang di satu tempat, melepas rindu bersama dan mencoba menjelaskan pada ertan soal sang kembaran nya.