Belenggu Hasrat Kakak Ipar

Belenggu Hasrat Kakak Ipar
Terlalu sakit untuk dikenang


__ADS_3

Malam sebelumnya.


Sebuah mobil Porsche Carrera hitam melesat menembus jalanan gelap di malam hari.



Alex tampak memejamkan sejenak bola mata nya sambil satu tangan nya naik keatas sisi pintu mobil, satu Jemari nya menggesek-gesekkan pelan bibirnya beberapa waktu, sedang kan bola mata nya sejenak menoleh kearah sebuah flashdisk yang ada di atas dashboard mobil dihadapan nya itu.


Dia menarik pelan nafas nya untuk beberapa waktu, ingatan soal masa lalu kembali terngiang di dalam kepala nya.


Flashback


Indonesia


2 tahun lebih yang lalu.


Hotel xxxxxxx Jakarta.


1 hari sebelum tragedi kecelakaan Emilia & Gerry Lincoln


Alex tampak berjalan secara perlahan menuju ke sebuah kamar dengan langkah bahagia, sejenak dia memandangi buket bunga yang ada di tangan nya bersama sebuah kotak cincin yang mendominasi berwarna putih tersebut.


Sebuah senyuman mengambang di balik bibirnya saat dia telah tiba di sebuah kamar, dengan gerakan pelan tangan kanan nya meraih handphone nya dan mencoba untuk menghubungi seseorang sedangkan tangan kiri nya yang dimana masih memegang buket bunga dan kotak cincin tersebut langsung dia sembunyi kan kebelakang punggungnya.


"Aku ada di depan"


Ucap Alex cepat dari balik handphone nya.


Sepersekian detik kemudian Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar yang ada dihadapan nya itu, sebuah wajah cantik dengan senyuman mengambang sempurna muncul dari dalam sana, gadis itu terlihat cantik dengan balutan gaun berwarna peach yang terlihat begitu sempurna melekat di tubuh nya.


Sejenak Alex terpesona, menatap dalam wajah gadis itu dengan jutaan cinta, kemudian Alex buru-buru memasukkan handphone nya kedalam kantong celananya, lantas tangan kirinya langsung meraih kotak cincin di tangan kanan nya itu dan langsung menyembunyikan nya di dalam kantong celananya.


Belum juga Gadis itu bicara dengan gerakan cepat Alex mengeluarkan buket bunga dari tangan kanan nya itu.


Seketika gadis itu kembali mengembangkan senyuman nya, dia menerima buket bunga itu dengan tatapan berbunga-bunga penuh cinta.


"Sudah siap?"

__ADS_1


Bisik Alex sambil mencium dengan lembut pipi kiri gadis cantik itu.


Sejenak gadis itu membeku, wajah nya tampak menampilkan rona merah nya.


"He em"


Gadis itu mengangguk pelan, langsung keluar dari pintu kamarnya lantas menutup pintu itu secara perlahan.


Setelah itu mereka melangkah menjauh dari sana menuju ke satu tempat yang telah Alex persiapkan untuk mereka menghabiskan malam bersama.


********


Seketika gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangan nya, setelah selesai melewati makan malam romantis bersama tahu-tahu laki-laki dihadapan nya itu melamar nya dengan cara yang luar biasa.


Bola mata gadis itu jelas berkaca-kaca, menatap Alex dengan penuh tatapan tidak percaya.


"Will you...?"


Alex kembali bertanya ke arah gadis cantik itu dengan posisi 1 kaki di lantai dan 1 lagi berjongkok menopang tubuh nya yang dimana kedua tangan nya mengulurkan Cincin didalam kotak indah itu.


*******


Indonesia


2 tahun lebih yang lalu.


Rumah sakit xxxxxxx Jakarta


Malam tragedi kecelakaan Emilia & Gerry Lincoln


Alex berjalan dengan tergesa-gesa saat pihak rumah sakit menghubungi nya jika gadis yang baru saja dia lamar kemarin mengalami kecelakaan bersama beberapa orang lain nya di salah satu sudut jalan kota Jakarta.


Dengan tubuh gemetaran Alex mencoba untuk menyakini diri jika semua pasti baik-baik saja, gadis itu pasti baik-baik saja, tapi siapa sangka saat dia tiba di satu ruangan khusus disana, beberapa dokter hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Gadis itu tampak terbujur kaku dengan wajah pucat dan luka dimana-mana, bahkan meskipun Alex telah mengguncang tubuh itu berkali-kali tubuh kaku itu tetap tidak bergeming, tetap membeku bagaikan batu, hanya menyisakan senyuman indah nya yang bahkan tidak akan pernah lagi Alex lihat dalam seumur hidup nya.


"Sayang...sayang...bangunlah...aku mohon"

__ADS_1


Dengan tubuh bergetar Alex masih berusaha untuk membangunkan gadis itu, tapi semua sia-sia.


"Aku Bagaimana hidup tanpa mu hmmm? kamu bilang kita akan menghabiskan waktu bersama setelah pernikahan kita, kamu bilang akan menyiapkan sarapan pagi, makan siang dan makan malam untuk ku, kamu bilang tidak akan meninggalkan aku"


"Bahkan kamu bilang akan jadi istri terbaik seperti yang kamu mampu, lalu sekarang??? berani nya kamu membohongi aku? sayang...sayang... Akhhhh..."


Teriakan nyaring mendominasi di seluruh ruangan itu memecah keheningan malam, Alex benar-benar kehilangan harapan.


*******


Kecelakaan itu Mommy mu yang mengatur nya, dia menjebak Neysa untuk bisa terlibat didalam nya, ingin memusnahkan Gerry Lincoln dan gadis yang terlibat dalam peristiwa malam 6 tahun lebih yang lalu.


Paman sudah berusaha untuk membantu mu memanipulasi rekaman CCTV untuk Neysa, tapi rupanya kekasih mu berada disana, paman membatalkan untuk melakukan manipulasi, tapi rupanya Mommy mu dan Anwar telah lebih dulu melakukan nya.


Mereka membuat seolah-olah kecelakaan malam itu, kekasih mu lah yang menjadi pemicu Utama nya bersama Emilia.


Emilia dan kekasih mu berada di mobil yang sama, mereka berteman baik bahkan begitu akrab, kekasih mu saat itu yang membawa mobil nya dan di buat seolah-olah mabuk dan menyebabkan kecelakaan nya.


Dan sepertinya Mommy mu tahu juga perihal gadis itu yang adalah kekasih mu, dia fikir kamu memang tidak pantas berhubungan dengan gadis yang level nya jauh di bawah kalian, meskipun kamu protes dan marah sekalipun, itu hanya akan menjadi sia-sia.


*******


Kembali ke masa ini.


"Akhhhhhh"


Alex berteriak dengan suara yang begitu kencang, dia memukul stir mobil nya dengan begitu keras, seketika dia menghentikan mobilnya dengan gerakan cepat.


Ciittttttt


Laki-laki itu secepat kilat menyambar handphone nya dan mencoba untuk menghubungi seseorang, cukup lama hingga akhirnya tersambung dengan seseorang di seberang sana.


"Ini aku..."


Ucap Alex pelan.


"Mari bertemu dan menentukan waktu nya untuk menghancurkan Anwar dan Mommy ku, untie Jihan"

__ADS_1


__ADS_2