
Pagi-pagi sekali saat Gerry mencoba memeluk sosok Emilia di samping nya, tahu-tahu sang istri sudah tidak ada di kamar mereka, secepat kilat Gerry membuka bola matanya, dan jelas Seketika rasa panik menyergapi dirinya.
Gerry langsung memeriksa kamar mandi dan beranda depan kamar, namun tidak menemukan sosok Emila, dengan keadaan tergesa-gesa Gerry mencari kunci mobilnya lantas melesat keluar ke depan, meraih sandal nya dan berencana untuk keluar.
Dia fikir kemana sang istri pergi kali ini, apakah dia akan kehilangan Emilia di saat dia benar-benar membutuhkan sang istri, apakah benar tidak ada jalan dan kesempatan yang terbuka untuk diri nya memperbaiki masa lalu.
Gerry berusaha untuk meraih knop pintu, namun tiba-tiba sebuah suara mengejutkan dirinya.
"Sayang?"
Secepat kilat Gerry menoleh ke arah asal suara, Emilia tengah memegang piring makanan di tangan kirinya dan di tangan kanan nya membawa segelas susu.
"Apakah ada hal mendadak?"
Sejenak Gerry terpaku melihat ekspresi Emilia.
Dia fikir ini luar biasa, Emilia cukup bisa mengontrol emosi nya dalam beberapa waktu ini, jika sebelumnya Emilia akan menjadi histeris berhari-hari, menangis dengan cara yang luar biasa, tapi kali ini Emilia hanya melampiaskan kemarahannya sejenak,menangis kemudian terlelap.
Secepat kilat Gerry mendekati Emilia dan sepersekian detik kemudian gerry dengan gerakan cepat memeluk erat tubuh Emilia.
__ADS_1
Emilia yang masih memegang piring dan gelas tampak terkejut mendapati ekspresi Gerry,dia tampak diam tidak mengeluarkan sedikit pun suara nya dalam waktu yang cukup lama.
"Aku Fikir kamu akan meninggalkan aku seorang diri"
ucap laki-laki itu lagi, pelukan nya semakin erat menandakan seolah-olah Gerry takut emilia menghilang dari hadapan nya.
Emilia tampak memejamkan pelan bola matanya.
"Mari memulai semuanya dari awal"
Ucap Emilia tiba-tiba.
"Ya?"
Gerry bertanya sambil menatap dalam bola mata Emilia.
"Aku memikirkan nya semalam"
Ucap Emilia sambil meletakkan gelas susu dan piring makanan nya ke atas meja.
__ADS_1
"larut dalam penyesalan tidak akan menyelesaikan masalah yang kita hadapi. bukan? Aku harus belajar dari kesalahan masa lalu, berdamai dengannya, dan melanjutkan hidup dengan positif"
Ucap Emilia Sambil menatap dalam bola mata Gerry.
"Selama ini aku terlalu larut hingga lupa jika aku punya kehidupan masa depan yang terus menanti ku, aku lupa jika aku butuh menata kehidupan yang layak seperti orang-orang pada umunya"
"Aku sadar kita hanya korban yang tidak sengaja bertemu, mungkin ini cara tuhan untuk mempertemukan kita, sedikit kejam juga dengan cara yang sedikit salah, tapi aku yakin ini akan menjadi awal yang baik"
Gerry sejenak menyentuh lembut wajah Emilia, dia menganggukkan pelan kepala nya.
"Aku sedang belajar memaafkan diri sendiri, mencatat kepedulian tinggi akan kesehatan mentalnya yang aku hadapi, aku hanya terlalu takut menghadapi kenyataan di masa lalu yang tidak bisa untuk aku ubah"
"Aku butuh kamu menggenggam erat tangan ku, dan tidak lagi menoleh kebelakang untuk melihat masa lalu"
Gerry kembali mengelus wajah Emilia, kemudahan secepat kilat dia memeluk tubuh sang istri.
"Mari membuka kembali lembaran baru dan mencatat nya di jurnal masa depan kita hmm"
Bisik Gerry lembut kemudian laki-laki itu mencium puncak kepala Emilia beberapa waktu.
__ADS_1