
Emilia sejenak membeku saat Gerry menautkan bibir mereka, bola matanya jelas membulat dengan sempurna
Gerry melepas tautan nya, menatap wajah Emilia yang tampak memerah, dia mengulum senyumannya.
"Mau mencobanya?"
Tanya Gerry pelan sambil mengelus lembut wajah Emilia.
Sejenak Emilia menelan Saliva nya, dia hanya takut jika tiba-tiba tidak siap ditengah jalan karena rasa trauma nya di masa lalu.
"Aku... takut melukai mu di tengah jalan"
Ucap Emilia lirih, mencoba menelisik wajah Gerry, dia tahu mereka sudah menikah, surat nikah nya benar dirinya dan Gerry, itu artinya jika Gerry menginginkan hak nya Emilia jelas tidak bisa menolak nya.
"Kita akan mencobanya, jika kamu ingin berhenti kita bisa langsung berhenti di tengah jalan"
Emilia menggigit pelan bibir bawahnya.
"Bagaimana jika aku menyakiti mu?"
Gerry terus mengelus lembut pipi Emilia.
"itu tidak akan menyakiti ku sayang,kita harus membuat diri mu nyaman lebih dulu, jika sudah mendapatkan rasa nyaman kita bisa melakukan nya tanpa beban"
Emilia mencoba mengangguk pelan.
Sepersekian detik kemudian Gerry secara lembut kembali menautkan bibir mereka, mencoba bergerak selembut mungkin, menjaga agar emilia tidak merasa terganggu dengan gerakan nya, membuat Emilia nyaman dengan cara lembut nya, Gerry berusaha agar Emilia bisa menerima dirinya mengingat ketakutan Gerry soal kejadian 7 tahun lalu bisa membuat Emilia merespon takut dirinya jika tergesa-gesa atau terburu-buru dalam melakukan semua nya.
Tangan kanan Gerry menyentuh Daun telinga Emilia, membuat gesekan sempurna dengan jari-jari nya, sedangkan bibirnya terus bergerak mengabsen bibir Emilia hingga melesat masuk ke dalam nya, mencoba mengajar kan Emilia untuk saling bertaut li .dah sedangkan tangan kirinya dengan gerakan lembut dan perlahan Mencoba menyapu telinga kanan emilia, turun ke leher hingga ke da..da Emilia.
Saat tangan itu Menyentuh da..da nya Seketika Emilia merasa seperti sebuah aliran listrik menerjang tubuhnya memacu adrenalin dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya.
"Gerry"
Seketika Emilia jelas merasa malu, suaranya keluar secara spontan, tapi terdengar persis seperti sebuah rengekan manja yang bisa membuat laki-laki manapun yang mendengar nya menjadi tergoda.
"Men..de..sah lah, aku suka mendengar nya"
__ADS_1
Gerry berbisik lembut, Li..dah nya mulai menyapu bagian telinga Emilia hingga turun ke lehernya, lantas Gerry mencoba menyesap nya dan membuat sebuah tanda berwarna disana.
"Akhh"
Lagi-lagi suara memalukan itu keluar dari bibir Emilia, wajah nya memerah dengan sempurna, ingin sekali dia menahan suara nya tapi realita nya bibirnya sama sekali tidak ingin berhenti mengeluarkan suara-suara manja itu.
Semakin turun sapuan Gerry hingga ke bagian dada nya, semak Emilia menggila, bahkan tanpa dia sadari tangan-tangan kokoh Gerry dengan perlahan telah melepaskan semua penutup tubuhnya dari atas hingga ke bawah sana,bahkan Gerry telah melepas kan semua pakaian Gerry sendiri hingga membuat mereka persis seperti anak bayi yang baru saja dilahir kan.
Bahkan tanpa dia sadari Jemari Gerry secara perlahan mulai menyapu hingga ke bawah sana, dan dengan gerakan lembut mengusap serta 1 jemarinya mulai mencoba melesat masuk secara perlahan, membuat Emilia mencoba meraih leher Gerry dan dengan gerakan cepat memeluk laki-laki itu sebab tiba-tiba saya terasa sesuatu yang aneh menyentak hingga ke ubun-ubun Emilia.
"Ahhh"
Sebuah de..Sahan halus keluar dari bibir indah nya, Emilia mencoba meremas rambut Gerry dengan kedua belah tangannya.
Gerry Tampak mengulum senyuman nya, menatap dalam ekspresi wajah Emilia, dengan secepat kilat dia kembali menautkan bibir mereka, kembali menyesap nya berkali-kali sambil jemari kirinya terus bermain di bawah sana.
Sepersekian detik kemudian Gerry Dengan gerakan cepat melepaskan tautan nya, mencoba turun kebawah sana, Menyapu perut, pusar hingga bagian terpenting milik Emilia. Dengan gerakan lincah Li..dah nya mulai menyapu bagian ujungnya hingga membuat Emilia terpekik sempurna.
"Gerry"
Semakin Emilia menyebutkan nama nya berkali-kali dengan nada yang berat dan menggoda, semakin Gerry bermain lincah dibawah sana, menyapu, menyesap bahkan mengeluar masukkan Li..dah. nya di bawah sana hingga membuat kedua tangan Emilia menarik ujung spray kiri kanan dengan erat.
"Tumpahkan lah sayang"
Ucap Gerry cepat, lantas kembali bermain di bawah sana.
Dan benar saja, beberapa waktu kemudian sesuatu benar-benar terasa tumpah ruah, membuat Emilia berusaha untuk menarik nafasnya dengan tidak beraturan, seolah-olah seperti beban yang berat baru saja terlepas.
Namun sepersekian detik kemudian tiba-tiba bibir Gerry kembali bertaut dengan bibirnya, dan bisa Emilia rasakan sesuatu dibawah sana saling bergesekan dengan sempurna.
Kesalahan Emilia, tiba-tiba dia memejamkan bola matanya, mencoba memeluk Gerry dengan erat, saat Gerry baru akan menyatukan diri mereka, tiba-tiba Emilia tersentak kaget, dia merasakan hal yang sama pada kejadian 7 tahun yang lalu, sama persis, benar-benar sama persis, deru suara Gerry, aroma tubuhnya, sesuatu yang bergerak dibawah sana.
"No.."
Emilia langsung menggenggam erat lengan Gerry, Seketika rasa nikmat itu berubah menjadi sesuatu yang mengerikan.
Gerry dengan cepat menghentikan gerakan nya, menatap wajah Emilia yang memejamkan bola matanya.
__ADS_1
"Sayang, buka mata mu"
Gerry bicara cepat, mencoba untuk menyadarkan Emilia.
"Sayang... buka mata mu, jangan pejamkan bola mata mu hmm, lihat bola mata ku"
Gerry bicara sambil mengelus lembut wajah Emilia.
Seketika Emilia membuka bola matanya, deru nafasnya tampak tidak beraturan, keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya.
"Kita akan berhenti sekarang, lihat bola mata ku dan jangan mengingat soal kemarin"
Gerry langsung menghentikan seluruh gerakan nya, hasrat yang tadi menggebu secepat kilat menghilang berganti dengan jutaan kekhawatiran.
Gerry menyentuh lembut kedua belah pipi Emilia, membiarkan sang istri terus menatap bola matanya.
"Ini baik-baik saja hmm"
Seketika air mata Emilia tumpah, tidak tahu kenapa dia merasa semua yang nyaris terjadi tadi terasa tidak asing untuk nya, seolah-olah sama persis Dengan kejadian 7 tahun yang lalu, Baik dari ukuran tubuh, aroma tubuh Gerry, suara nafasnya, desahannya semua benar-benar terasa nyata dan sama.
Yang membedakan ya hanyalah, Gerry memperlakukan dirinya dengan begitu lembut, namun laki-laki dimalam itu memperlakukan nya dengan cara yang begitu kasar dan tergesa-gesa.
"Maafkan aku, maafkan aku"
Emilia tampak gemetaran, rasa takut dan rasa bersalah tampak menghantam diri nya menjadi satu.
"Tidak ada yang perlu di maafkan, aku yang seharusnya minta maaf"
Ucap Gerry cepat lantas langsung memeluk erat tubuh sang istri nya.
"Kita bisa mencobanya lagi di lain waktu"
Ucap Gerry sambil mencium puncak kepala Emilia berkali-kali.
"Ini akan baik-baik saja"
Bisik Gerry pelan.
__ADS_1
Sayang, maafkan aku.
Batin Gerry sambil menarik pelan nafasnya, dia terus memeluk erat tubuh Emilia dan membiarkan sang istri terlelap didalam dekapannya.