
Begitu mendapat kan kabar dari Manaf soal Jihan yang adalah mommy kandung nya yang dia anggap telah meninggal it, Elis jelas langsung kehilangan kata-kata, dia secepatnya kilat menemui perempuan itu tanpa berfikir lagi dua tiga kali.
Elis tampak gemetaran menatap perempuan muda dihadapan nya itu, Jihan perempuan itu yang selama ini melindungi dirinya dari banyak hal, yang selalu berada di garda terdepan untuk , bahkan ketika Nayla mencoba menyakiti dirinya, Jihan satu-satunya sosok yang Terus melindungi dirinya.
Perempuan itu bahkan sudah seperti kakaknya sendiri, memperlakukan dirinya begitu hangat, bahkan saat dia terperosok jatuh ke dalam kehidupan paling menyedihkan Pun Jihan yang selalu menemani dirinya, menguatkan dirinya bahkan selalu memberikan punggung serta dada nya untuk tempat Elis bersandar.
Hingga saat Suli menyulitkan dirinya, mencekoki nya obat-obatan Jihan yang terus mencari cara memusnahkan nya.
Tidak ada sedikit pun kecurigaan yang menerjang soal identitas Jihan Selama ini, sebab perempuan itu bergerak begitu rapi dan telisi, bersih serta sangat santai sekali.
Tapi siapa sangka sosok itu rupanya adalah Mommy nya, ibu kandung nya, perempuan yang mati-matian menyelamatkan kehidupan nya berkali-kali sejak dulu hingga kini.
Elis berusaha untuk mendekati diri, menatap sosok itu begitu lama kemudian secara perlahan menyentuh wajah perempuan itu.
Bola mata Elis Tampak berkaca-kaca, dengan tubuh gemetaran Elia mulai bicara.
__ADS_1
"Kenapa? kenapa tidak pernah memberitahukan nya kepada ku?"
Tanya Elis cepat sambil terus menatap dalam bola mata Jihan.
"Aku menjalani semua kehidupan ini begitu berat, kadang ingin sekali aku menangis dan mengadu kepada Mommy, tapi ingatan ku terus mengarah pada kejadian malam itu bagaimana saat orang-orang itu membuang Mommy"
"Kenapa tidak memberitahukan saol Realita pada ku soal siapa mommy yang sebenarnya, hingga aku tidak perlu menangis sesenggukan di bawah bantal tanpa adanya seorang teman?"
Jihan mencoba menahan tangisan nya, dia menggeleng pelan sambil berusaha menyentuh wajah Elis.
Tangisan pilu Elis terdengar begitu menyesakkan di dada Jihan.
"Aku sering kali berkhayal jika Mommy masih hidup kita bisa menghabiskan banyak waktu bersama, Kita bisa pergi menjauh dari semua orang dan tidak lagi kembali ke negara ini, mungkin aku bahkan bisa baik-baik saja"
"Kenapa Mommy tetap diam?katakanlah sesuatu Mommy"
__ADS_1
Jihan mencoba menyentuh wajah Elis, air mata nya ikut tumpah ruah, hanya jutaan permintaan maaf yang bisa perempuan itu lontarkan pada sang putri.
"Aku benar-benar terluka, mom"
Jihan tampak menangis sesenggukan, dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Maafkan aku, maafkan aku, tapi ini adalah satu-satunya cara untuk bisa melindungi kamu agar tidak semakin hancur di tangan Suli"
Yah dia jelas tidak berani membuka status nya selama ini karena dia takut saat 1 orang tahu siapa diri nya Maka ke depan nya akan ada semakin banyak orang-orang tahu soal diri nya hingga lamban laut akan membahayakan nyawa diri nya dan Elis.
Jihan menyambar cepat tubuh Elis, berusaha untuk memeluk erat sang putri sambil memecah jarak yang terbentang saat ini.
"Mommy hanya belum menemukan saat yang tepat untuk memberitahu kan diri kamu soal Mommy"
Ucap nya pelan sambil memeluk erat tubuh sang putri nya itu.
__ADS_1