Belenggu Hasrat Kakak Ipar

Belenggu Hasrat Kakak Ipar
Tidak punya pilihan lain


__ADS_3

Emilia menundukkan kepalanya berkali-kali ke arah Gerry, meminta maaf lagi-lagi harus merepotkan laki-laki itu. Sang teman yang dia cari rupanya tidak tinggal lagi disana.


"Maafkan aku"


Emilia menggigit pelan bibir bawahnya.


Emilia mencoba merapat kan tubuh nya di pinggiran mobil taxi itu, mencoba meringkuk untuk tidur disana, hari benar-benar cukup menjadi gelap, dan dia jelas Bingung harus pergi kemana.


"Apakah kau tersesat?"


Gerry bertanya pelan ke padanya.


Emilia sedikit bingung untuk menjelaskan keadaan diri nya yang sesungguhnya.


"Hmm aku berasal dari Indonesia, aku fikir apakah tuan bisa membantu ku membelikan aku tiket untuk kembali ke negara asal ku?"


Wajah Emilia jelas menyiratkan kesedihan, keadaan nya sangat kacau, tanpa alas kaki, menggunakan gaun tidur berwarna putih, dengan penampilan yang cukup berantakan namun wajah cantik nya masih terlihat begitu memukau.


"Kamu punya pasport? aku akan membantu membelikan tiket nya"


Seketika Emilia tercekat.


Pasport? tentu saja ada, tapi Lincoln jelas tah menahan semuanya.

__ADS_1


Sepersekian detik kemudian Emilia menggelengkan pelan kepalanya.


"Aku tidak memiliki nya"


"Itu artinya cukup berbahaya untuk mu, tanpa tanda pengenal juga tanpa pasport , jika terus berkeliaran di jalan tanpa tujuan pihak petugas keamanan akan mencurigai mu dan pada akhirnya mereka akan menangkap mu sebagai pendatang ilegal"


Emilia tampak menelan salivanya.


"Aku punya teman yang bekerja di bagian pemerintahan, kau bisa tinggal di apartemen ku selagi dia mencoba membantu untuk mencari data-data mu dan membuat kan kamu pasport yang baru"


Gerry Lincoln fikir, ini adalah satu-satunya cara agar Emilia tidak pergi jauh dari diri nya sementara waktu ini.


Sejenak Emilia tampak berfikir dengan ragu-ragu, dia fikir bagaimana mungkin dia tinggal bersama laki-laki asing yang baru dia kenal, tapi dia juga dalam kondisi terjepit saat ini.


Tanya Gerry pelan.


Emilia menggeleng pelan.


Emilia jelas bukan type perempuan yang gampang berteman dengan siapapun, jadi bagaimana mungkin dia bisa punya banyak teman di Paris.


"Aku menunggu jawaban mu Miss, sebab ini sudah cukup larut malam dan aku butuh istirahat sejak sore tadi"


pada akhirnya Emilia menyetujui tawaran laki-laki dihadapan nya itu, dia juga butuh membersihkan diri dan... berganti pakaian.

__ADS_1


Hmm bahkan aku tidak punya pakaian ganti.


ucap Emilia dalam hati.


Pada akhirnya Emilia tidur meringkuk di sisi kanan mobil dengan bersandar pada pintu mobil. Gerry menarik pelan nafasnya, melepaskan jas milik nya lantas menutup tubuh perempuan muda itu Dengan jas milik nya.


Sejenak Emilia menggeliat, lantas kembali terlelap dalam tidurnya. Gerry secara perlahan meraih kepala Emilia, mencoba menyandarkan nya pada bahu Gerry dengan gerakan lembut.


Gerry menatap lekuk wajah Emilia secara seksama, dia tampak tersenyum, Gerry fikir mereka memang memiliki kemiripan, Emilia dan sang bocah kembar junior nya, mereka memiliki hidung dan bibir yang begitu mirip.


"Kenapa tidak kembali ke mansion saja, tuan?"


Pria didepan bertanya sambil melirik melalui kaca depan.


"Bukankah kalian sudah sah menjadi suami istri, Jerry mengatur pernikahan kalian di Indonesia sebelum anda bangun kemarin"


Lanjut pria itu lagi.


"Itu terlalu berbahaya untuk nya, jika 2 tahun yang lalu ada yang berusaha untuk melenyapkan nya, maka kali ini orang itu pasti akan berniat melenyapkan nya lagi saat tahu dia kembali ke Paris"


Pria didepan tampak diam, dia terus fokus menyetir dalam keheningan.


"Aku juga butuh waktu untuk menjelaskan semua pada nya secara perlahan"

__ADS_1


Gerry fikir, meletakkan Emilia ke mansion saat ini jelas berbahaya, ditambah lagi dia butuh waktu untuk menjelaskan keadaan pada perempuan ini, jika di bicarakan secara terburu-buru, jelas dia takut kembali kehilangan Emilia sekali lagi.


__ADS_2