
Gerry menatap ke arah Emilia sambil mengulum senyum, sang istri tampak menggeliat pelan di atas kasur, dia fikir tidur Emilia cukup nyenyak setelah perbincangan semalam dan itu cukup membuat dirinya lega.
Secara perlahan Emilia membukakan bola matanya, membiasakan keadaan dengan cahaya lampu yang masih bersinar terang, sejenak dia melirik ke arah kaca besar di hadapannya, dia fikir hari masih cukup gelap.
Sejenak Emilia berusaha untuk mengendurkan semua otot-otot nya, menaikkan kedua tangannya ke atas sambil menggeliat pelan.
Tapi tiba-tiba bola matanya bertemu dengan bola mata Gerry yang duduk di atas kursi sofa yang terletak tidak jauh dengan kasur mereka, Seketika Emilia menghentikan gerakan nya, lantas langsung menarik bantal, membalikkan tubuhnya dan langsung menutupi wajahnya karena malu.
Gerry jelas terkekeh, berdiri dari duduknya kemudian berjalan cepat mendekati Emilia lantas naik ke atas kasur, merebahkan tubuhnya tepat di belakang Emilia lantas memeluk lembut sang istri.
"Ini memalukan"
Emilia bicara sambil menggigit bibir bawahnya.
Gerry terkekeh pelan, kemudian mencium lembut tengkuk Emilia.
"Hmmm tapi itu terlihat cantik saat kamu bangun tidur"
Bisiknya pelan.
"Itu seperti rayuan gombal"
Emilia tertawa renyah.
"Tidak, memang cantik"
Ucap Gerry lagi sambil terus memeluk erat Emilia.
"Hari masih terlalu dini, tidurlah lagi jika masih mengantuk"
Gerry bicara sambil menggesek tangannya ke tangan Emilia.
"Sudah tidak begitu mengantuk"
Emilia menjawab dengan wajah memerah karena malu.
"Kalau begitu coba balikkan tubuh mu, sayang"
__ADS_1
Gerry meminta agar Emilia tidak memunggungi dirinya, menunggu Emilia berbalik lantas menatap dalam bola mata itu.
Beberapa waktu Gerry berusaha mengelus wajah Emilia, menatap hangat sang istri.
"Aku harap kamu bahagia dengan pernikahan ini nantinya"
Ucap Gerry pelan.
"He em"
Emilia tampak mengangguk.
"Aku hanya ingin tahu, kapan kamu mulai menyukai ku?"
Emilia bertanya sambil menatap balik bola mata Gerry.
"Saat di Itali, kamu ikut acara makan malam yang cukup kacau dengan kekasih mu"
Sejenak Emilia mengerutkan keningnya.
"Itali? kekasih ku?"
"Aku tidak suka dengan laki-laki itu"
Emilia bicara dengan perasaan kesal ke arah Elma dan satu temannya Sera, Elma tampak sibuk membenahi gaun yang akan Emilia pakai di pertemuan makan malam itu.
"Maafkan aku, aku kebablasan bilang kalau kamu menerima tawarannya, Elma"
Sera menggosok-gosok kan telapak tangannya sambil menatap dalam bola mata Emilia dengan wajah penuh penyesalan.
"Bisa lakukan sesuatu? maksud ku bukan kah kamu ahlinya Elma? membuat semua menjadi kacau balau!"
Seketika Elma tekekeh, gadis itu mengedipkan sebelah matanya lantas berkata.
"Dengan senang hati, tuan putri"
Pada akhirnya kencan buta itu berakhir kacau balau, Elma menciptakan kekacauan di dalam kafe yang laki-laki itu siapkan untuk Emilia. Elma mengeluarkan beberapa anak hamster yang mereka kira adalah anak tikus, membuat sang pemilik kafe menjadi berang dan mengusir mereka dari sana.
__ADS_1
Seketika Emilia terkekeh saat mengingat kejadian malam itu.
"Malam itupun benar-benar kacau balau"
Ucap Emilia cepat.
"Aku dan Elma sengaja membuat makan malam saat itu jadi kacau balau"
Gerry tampak ikut terkekeh.
"Tapi... dimana posisi mu waktu itu? aku sama sekali tidak ingat dan Elma bahkan tidak bilang pada ku"
Gerry mengembangkan Senyuman nya beberapa waktu.
"Aku terus mengawasi mu dari ruangan kaca di balik meja kasir"
Ucap Gerry pelan.
"Ya?"
Emilia langsung menaikkan alisnya.
"Terdengar jahat, tapi saat itu aku cemburu, begitu kekacauan terjadi, aku yang minta pada manager nya untuk membuat makan malam nya semakin kacau dan membiarkan kalian bubar dan pulang"
Seketika Emilia menatap dalam bola mata Gerry, menelisik pandangan itu begitu dalam.
"Kamu jatuh cinta pada ku sejak dulu?"
Gerry melebarkan senyumannya.
"Mungkin sebelum kamu jatuh cinta pada ku"
Bisik Gerry lembut sambil terus mengelus wajah Emilia.
"Bukankah cinta itu aneh? kadang sejauh apa kita melangkah dan menghindar pada akhirnya mereka akan kembali ke tempatnya juga"
Ucap Gerry pelan.
__ADS_1
"Hati selalu tahu dimana pemiliknya"
Setelah berkata begitu, Gerry secara perlahan mendekati wajah Emilia, menyatukan hidung mereka beberapa waktu, mencoba saling mendengarkan deru nafas masing-masing, membiarkan suara jantung saling bersahutan hingga akhirnya Gerry menaut kan bibir mereka secara perlahan dan dalam.