Belenggu Seorang Istri

Belenggu Seorang Istri
Salah paham


__ADS_3

^^^Happy Reading readers 🌼🌼🌼^^^


^^^Jangan lupa like dan komentarnya ya🌻🌻🌻^^^


^^^Terima kasih karena selalu mendukung karyaku 🌸🌸🌸^^^


...••••...


Pagi harinya, Kinaya terbangun dari tidurnya. Akan tetapi, ia tidak melihat sosok sang suami. Kinaya pun mengernyitkan keningnya. Tidak biasanya Samuel meninggalkannya pagi-pagi gini. Kinaya pun mengangkat bahunya. Memilih untuk melihat sang anak. Terlihat Reza bangun dari tidurnya dan tiba-tiba saja menangis kejang.


Kinaya dengan cepat mengendong tubuh kecil Reza.


"Sayang. Kamu kenapa? Lapar ya. Kalau begitu Mama mandikan dulu ya. Habis itu kita makan ya, sayang. " ucap Kinaya mengendong Reza ke kamar mandi. Sebelum itu, Kinaya sudah menyiapkan perlengkapan mandi Reza.


Setelah selesai mandi. Kinaya pun pergi mencari sang suami. Entah kemana perginya suaminya tersebut. Kinaya pun melihat Ibu panti sedang menyapu lantai.


"Ibuk. Apa Ibuk lihat mas Samuel? " tanya Kinaya.


"Ooh. Tadi suamimu sempat pamit sama Ibuk. Katanya ada urusan mendadak. Dia bilang jika kamu bangun tolong katakan kepadanya. " ucap Ibu panti. Kinaya pun manggut-manggut. Tapi, ada perasaan tidak enak di rasakannya. Entah apa yang terjadi. Dia pun tidak tau.


"Oh iya, Buk. Kinaya titip Reza ya. Soalnya Kinaya mau bersih-bersih dulu. " ucap Kinaya.


"Yaudah. Sini anaknya. Kamu mandilah dulu. Reza biar Ibu yang urusin. " balas Ibu panti.


"Makasih ya, Buk. " balas Kinaya.


"Sama-sama, sayang. " balas Ibu panti.


Kinaya pun langsung bersiap-siap. Setelah beberapa saat akhirnya dia sudah selesai berdandan. Memakai pakaian rapi dan bersih. Saat hendak keluar kamar. Tiba-tiba Kinaya mendapatkan pesan masuk dari nomor asing.


📩 Datang ke hotel Hyundai nomor 2702. Kamu akan tahu bahwa kamu bukanlah apa-apa di mata suamimu.


Itulah isi pesan tersebut. Tiba-tiba, tubuh Kinaya merosot ke lantai. Mengelengkan kepalanya. Mencoba untuk tidak mempercayai isi pesan tersebut. Kinaya selalu berpikir positif agar kekhawatiran tidak terjadi. Tapi, melihat sang anak menangis sedari tadi dan Samuel yang tidak biasanya meninggalkan dia sendirian membuat rasa cemas menghantuinya.


"Mas Samuel tidak mungkin mengkhianatiku. Itu tidak mungkin. " lirih Kinaya. Kinaya pun bangkit dari lantai. Berjalan mendekati Ibu panti.


"Buk. Kinaya titip Reza ya. Kinaya ada urusan sebentar. " ucap Kinaya pada akhirnya. Rasa cemas menghantuinya. Membuat dia tidak punya pilihan selain melihat sendiri apa yang langsung ke lokasi yang di kirim oleh orang asing tersebut.


Beberapa saat kemudian, Kinaya sudah berada di loby hotel. Kinaya langsung mencari kamar yang tertera di dalam pesan asing tersebut. Kinaya pun langsung memasuki lift. Menekan tombol lantai tujuannya.


Beberapa saat setelah itu. Kinaya pun sampai di lorong hotel.


"Kenapa mas Samuel bisa ada di sini? Apa yang telah mereka lakukan? " lirih Kinaya.


Kinaya pun mencari-cari nomor kamar yang ada di ponselnya. Entah kenapa, hatinya begitu mengkhawatirkan keadaan suaminya sekarang. Apa dia harus melihatnya atau menunggu respon dari sang suami. Entahlah. Tapi, dia butuh bukti langsung.


Sampai akhirnya, Kinaya sudah berada di depan kamar hotel berangka 2702.


Kinaya terlihat khawatir. Tubuhnya gemetaran hanya untuk sekedar menekan bel.


"Emm. Semoga ini hanya perasaanku saja. " Kinaya pun menekan menekan bel agar orang di dalam sana membukakan pintu.


Beberapa saat setelah itu. Pintu pun di buka oleh wanita cantik. Tubuhnya tinggi semampai. Hidungnya mancung dan kulitnya putih bersih.


"Ada yang bisa saya bantu, Mbak? " tanya wanita itu ramah. Kinaya pun tertegun. Karena mendengar suara sang suami dari dalam. Sepertinya pria itu sedang menerima telepon dari orang lain.


Hati Kinaya tiba-tiba sakit. Berdenyut-denyut tak jelas. Kinaya pun mencoba berpikir positif tapi tidak bisa. Tiba-tiba perutnya merasa kram.


"Akhhh. " Kinaya mengaduh kesakitan di bagian perutnya.


"Mbak. Mbak tidak apa-apakan? " tanya wanita itu panik melihat keadaan Kinaya.

__ADS_1


Samuel yang memang ada di sana langsung berdiri karena mendengar rintihan sang istri. Dengan cepat Samuel melangkahkan kakinya keluar.


"Mau kemana, Mbak? " tanya wanita tadi yang melihat Kinaya pergi dengan masih memegang perutnya. Kinaya berhenti di dekat dinding kamar yang tidak jauh dari tempat Samuel berada.


Samuel pun berdiri di samping wanita tadi.


"Ada apa? Apa yang telah terjadi? " tanya Samuel khawatir. Karena tadi ia merasa mendengar suara istrinya. Kinaya yang tidak jauh di sana mendengarkan ucapan suaminya tersebut. Kinaya menoleh ke belakangnya. Melihat sang suami.


"Itu, Tuan. Ada wanita hamil yang mungkin salah kamar. " jawab wanita itu sopan. Samuel menoleh ke arah yang di tunjukkan oleh wanita tadi. Betapa terkejutnya dia melihat sang istri tengah berdiri tidak jauh dari posisinya.


"Sayang. " panggil Samuel. Kinaya pun kembali membalikkan badannya ke depan.  Meninggalkan Samuel yang sedang berjalan ke arahnya.


"Sayang! Kenapa kamu datang ke sini? " tanya Samuel. Kinaya tidak mendengarkan ucapan suaminya. Tiba-tiba perutnya merasa semakin sakit. Kinaya bahkan tidak sanggup bahkan hanya untuk berjalan. Kinaya memegang erat pegangan yang ada di dinding. Mengigit bibir bawahnya untuk menetralkan rasa sakitnya.


"Sayang. " panggil Samuel yang sudah berada di depan istrinya itu.


"Astaga, sayang. Apa kamu baik-baik saja? " tanya Samuel khawatir karena melihat Kinaya yang tidak baik-baik saja. Dilihatnya wajah Kinaya yang pucat. Peluh di mana-mana.


"Bella. Tolong panggilkan dokter ke sini. " ucap Samuel kepada gadis tadi. Gadis itu adalah asisten dari kliennya yang datang secara mendadak pagi tadi. Dan mereka mengadakan rapat di hotel karena klien Samuel tidak ada waktu untuk bisa hadir ke kantor Samuel. Alhasil, Samuel pun menyusul ke penginapan kliennya.


"Baiklah, Tuan. " balas Bella.


"Apa yang terjadi, Tuan? " tanya klien Samuel.


"Istri saya sakit, Tuan. Biarkan saya memakai kamar, Tuan sebentar. " ucap Samuel.


"Silahkan, Tuan Samuel. " balas klien Samuel. Mempersilahkan Samuel masuk ke dalam kamar klien Samuel. Samuel pun membaringkan Kinaya di sana.


Samuel meletakkan Kinaya dengan hati-hati ke kasur.


"Apa yang terjadi, Nay? Apa perutmu masih sakit? " tanya Samuel mencoba memegang perut Kinaya tapi di tepis dengan lemah oleh wanita itu. Karena tubuh Kinaya memang terasa lemah saat ini. Apalagi kram di tubuhnya membuat Kinaya tidak bisa berbuat apa-apa selain menahan rasa sakit yang amat luar biasa.


"Jangan sentuh aku. " ucap Kinaya masih terdengar lemah oleh Samuel.


"Jangan pedulikan aku lagi. Aku ingin pergi dari sini. " balas Kinaya.


Samuel mengelengkan kepalanya.


"Tidak, sayang. Kamu tidak baik-baik saja. Kamu harus tetap di sini. " ucap Samuel.


"Bella. Kapan dokternya datang? " tanya Samuel yang mulai di hantu rasa takut.


"Aku tidak peduli. Aku ingin menjauh darimu. " Kinaya bangun dari tidurannya.


"Kamu harus di periksa, Nay. Jangan buat dirimu kesakitan seperti ini. Ini juga akan berdampak pada anak kita nantinya. " ucap Samuel memegang perut Kinaya. Kinaya pun mengikuti pergerakan tangan Samuel.


"Anakku baik-baik saja, kan? " tanya Kinaya kepada Samuel. Samuel pun tersenyum lalu menggenggam tangan Kinaya. Wanita itu sepertinya sudah lupa bahwa dia marah pada Samuel tadi.


"Anak kita baik-baik saja, sayang. Tidak akan mas biarkan terjadi sesuatu pada anak kita. Kamu tenang saja, hem. " ucap Samuel memberikan kecupan lembut di kening Kinaya.


"Maaf, Tuan. Dokternya sudah datang. " ucap Bella. Samuel pun mempersilahkan dokter tersebut untuk memeriksa keadaan istrinya.


"Bagaimana keadaan istri dan anak saya, dok?  " tanya Samuel khawatir. Dokter itupun tersenyum.


"Pasien tidak apa-apa. Hanya syok saja, Tuan. Lain kali jangan buat pasien tertekan. Itu akan berdampak buruk terhadap kesehatan janin. " jawab dokter. Samuel terlihat bernafas lega. Samuel pun mendekati Kinaya.


"Dengarkan. Anak kita baik-baik saja. Tapi, kenapa kamu bisa ada di sini, sayang? " tanya Samuel khawatir.


"Aku mau pulang saja. " balas Kinaya yang sudah duduk.


"Tapi kamu baru saja di periksa. Nanti kita balik ya. Tunggu keadaanmu baik-baik dulu. " ucap Samuel lembut.

__ADS_1


"Aku tidak mau melihat kamu berduaan dengan wanita lain. " balas Kinaya yang membuat Samuel mengernyitkan keningnya.


"Berduaan? Apa maksudmu, sayang? " tanya Samuel. Kinaya pun menoleh ke arah Bella. Samuel pun melihat arah pandangan istrinya.


"Maksudnya Bella? Dia sekretaris klien mas, Nay. Kamu jangan berpikir macam-macam ya. " ucap Samuel.


"Tapi aku menerima pesan ini. " balas Kinaya memberikan ponselnya kepada Samuel. Samuel pun membaca pesan tersebut.


"Sayang. Kamu salah paham. Ini pasti orang yang berniat jahat padamu. Biar mas pegang ponselnya. Mas akan mengurus semuanya. " ucap Samuel. Kinaya perlahan mulai membaik. Menerima ucapan Samuel. Kinaya yakin. Suaminya tidak akan berbuat buruk padanya. Ataupun berselingkuh darinya.


"Jadi, dia bukan pacar mas kan?" tanya Kinaya yang berhasil membuat Samuel tersenyum. Samuel pun menoleh kepada orang-orang yang ada di sana.


"Apa saya boleh berbicara dengan istri saya? " tanya Samuel kepada kliennya.


"Tentu, Tuan. " balas klien Samuel. Mereka pun meninggalkan kamar.


Samuel membawa Kinaya ke dalam pelukannya. Mencium pucuk kepala sang istri.


"Kamu satu-satunya wanita yang ada di sisi mas. Kamu wanita yang hanya ingin mas temui. Kamu adalah wanita yang ingin selalu mas peluk. Mana mau mas berduaan dengan wanita lain jika bukan karena tuntutan pekerjaan. Kamu harus percaya pada mas, Nay. " ucap Samuel memberikan kenyamanan pada sang istri melalui pelukannya. Kinaya membalas pelukan tersebut.


"Aku percaya pada, mas. Hanya saja kehamilan ini membuat aku selalu berpikir buruk. Maafkan aku ya, mas. " balas Kinaya. Samuel pun tersenyum lalu mengusap lembut kepala Kinaya.


"Mas tidak marah kok. Mas maklum jika berada di situasi Kamu, Nay. Lain kali kalau ada apa-apa bilang sama mas ya. Jangan langsung ambil keputusan. Percayalah hanya kamu wanita yang ada di hati mas. " balas Samuel.


"Iya mas. Aku percaya kok. " Kinaya memeluk erat tubuh Samuel.


kruk.


Bunyi perut Kinaya. Samuel pun menundukkan kepalanya.


"Kamu lapar? Belum makan, hem? " tanya Samuel. Kinaya hanya diam sembari menundukkan kepalanya. Kepalanya terlihat manggut-manggut. Samuel pun tersenyum melihatnya.


"Yaudah, mas pesankan makanan ya. " ucap Samuel.


"Tidak mau. Kita makan di restoran saja. Aku bisa memilih makanannya. " balas Kinaya.


"Yaudah. Ayuk. " ucap Samuel menggenggam tangan Kinaya. Membawanya turun dari tempat tidur.


"Bagaimana dengan pekerjaan mas? " tanya Kinaya.


"Kamu tenang saja. Semuanya sudah selesai kok. " balas Samuel.


"Mas yakin. Mas bukan karena tidak ingin aku sedih saja kan? " tanya Kinaya. Samuel pun tersenyum lalu mengusap lembut kepala Kinaya.


"Mas serius, Nay. Ayuk. Mas pamit sama klien mas dulu. " balas Samuel. Kinaya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


.


.


.


.


.


Bersambung.


Oke. Episode ini aku banyakkin untuk menyambut episode ke 100. Selamat membaca ya


...INGAT! SIMBIOSIS MUTUALISME 😊...

__ADS_1


IG : gx_shi7


Akan ada Visual-visual tokoh novel ini. Dan nantinya juga boleh bertanya-tanya seputar novel atau yang lainnya


__ADS_2