
^^^Happy Reading readers πΌπΌπΌ^^^
^^^Jangan lupa like dan komentarnya yaπ»π»π»^^^
^^^Terima kasih karena selalu mendukung karyaku πΈπΈπΈ^^^
...β’β’β’β’...
Malam harinya. Samuel dan Kinaya tengah makan bersama anak-anak panti di sebuah meja makan yang panjang. Cukup untuk 20 orang di tiap mejanya. Di sana terdapat 4 meja yang saling berdekatan. Sehingga semua anak-anak yang tinggal di panti tidak perlu bergantian untuk menyantap makanannya. Sebelum Kinaya mengenal Samuel.
Biasanya anak-anak akan makan di lantai beralasan tikar. Dengan menu makanan yang seadanya. Tapi, semenjak Kinaya menikah dengan Samuel. Pria itu ikut membantu mensponsori biaya kehidupan anak-anak panti. Untung-untung untuk sedekah. Apalagi, Samuel tau jika sang istri dulunya pernah tinggal di sana. Entah kenapa, menurut Samuel semua yang ia lakukan sebagai jaminan karena sudah merawat istri tercintanya tersebut.
"Mau nambah lagi, mas? " tanya Kinaya ketika melihat suaminya tersebut melamun menatap anak-anak di depannya. Samuel pun menoleh ke arah istrinya. Samuel tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Boleh di lebihkan kuahnya? " tanya Samuel kepada Kinaya yang sedang menyendokkan kuah kari ayam. Kinaya pun tersenyum. Kinaya tau suaminya itu sangat menyukai kari ayam. Dengan senang hati Kinaya menambahkan kuah kari sesuai permintaan suaminya tersebut.
"Ada lagi, nggak? " tanya Kinaya. Samuel pun mengelengkan kepalanya.
Kembali Kinaya fokus dengan makanannya. Kinaya senang sekali melihat adik-adiknya makan dengan lahap. Seputaran masa lalu berputar di benak wanita itu. Yang mana dulunya ia makan malam hanya dengan bersambalkan dengan tempe juga kecap asin. Plus minyak goreng hangat bekas menggoreng tempe. Meski terkesan sederhana atau mungkin kurang. Kinaya tetap bersyukur dengan jalan hidupnya. Dan sampai akhirnya buah dari rasa syukurnya ia bisa hidup dengan layak sekarang. Bahkan, lebih dari kata layak.
Kinaya menatap ke arah Samuel. Seolah berkata 'Terima kasih, mas. Semua ini terjadi karena kamu yang dikirim oleh allah kepadaku. Melalui dirimu aku dan adik-adikku bisa hidup senang seperti sekarang. Jika aku tidak kenal kamu entah seperti apa hidupku sekarang. '
"Sayang. Kamu tidak apa-apakan? " tanya Samuel yang membuyarkan lamunan Kinaya. Kinaya pun tersadar lalu menganggukkan kepalanya dengan senyuman di bibirnya. Kinaya pun meraih tangan Samuel yang ada di bawah meja.
"Makasih ya, mas. " lirih Kinaya yang masih di dengar oleh Samuel. Samuel pun bingung.
"Hei! Untuk apa berterima kasih, hem? " tanya Samuel mengusap punggung tangan Kinaya.
"Untuk semuanya. Terima kasih untuk semua yang telah kamu lakukan selama ini. " balas Kinaya. Samuel pun tersenyum. Tidak mau berlarut-larut dalam hal seperti sekarang ini. Dia hanya ingin melihat istrinya itu bahagia. Bukan larut dalam hal kesedihan.
"Makan yang banyak, ya istriku. " ucap Samuel. Kinaya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Di sela-sela makan malamnya. Tiba-tiba ponsel Samuel berdering. Samuel pun mencoba mengacuhkan nya tapi lagi-lagi panggilan ituΒ masuk lagi dari ponselnya. Samuel pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Angkat saja mas. Mana tahu penting. " uca Kinaya menatap hangat suaminya. Samuel pun melihat ponselnya. Terdapat ID Naura.
Naura! Kenapa dia nelpon? Gumam Samuel. Samuel pun melihat ke arah istrinya. Samuel tahu. Sang istri tidak akur dengan adiknya tersebut. Tapi, Samuel tidak punya pilihan juga. Karena di satu sisi Kinaya adalah istrinya. Wanita yang amat berharga dalam hidupnya. Dan di satu sisi lagi Naura adalah adiknya. Gadis yang jelas tidak bisa ia jauhkan dari hidupnya.
"Kenapa, mas? " tanya Kinaya karena melihat sang suami yang melamunkan sesuatu.
"Eh. Tidak apa-apa, Nay. Mas keluar dulu ya. Mau angkat telepon. " ucap Samuel. Kinaya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Setelah beberapa saat. Kinaya pun menyelesaikan makan malamnya. Dilihatnya Samuel tidak kembali masuk ke dalam panti. Kinaya pun berinisiatif untuk mencari keberadaan sang suami.
"Mas. " panggil Kinaya masih dengan suara kecilnya. Takut mengganggu waktu anak-anak panti.
"Mas. " panggil Kinaya lagi.
"Iya, Nay. Mas di sini. " balas Samuel yang sedang duduk di bangku taman. Kinaya pun menoleh ke arah suaminya. Dilihatnya sang suami yang habis menutup teleponnya.
"Itu. Urusan kantor. " balas Samuel berbohong. Kinaya pun manggut-manggut.
"Yaudah. Aku ke dalam dulu ya. Takut Reza bangun. " ucap Kinaya. Samuel pun tersenyum lalu mengusap lembut pipi Kinaya.
"Mas tidak akan masuk? " tanya Kinaya.
"Tidak, Nay. Mas mau mencari udara segar dulu. Kamu masuklah duluan. " balas Samuel.
"Yaudah, aku duluan dulu ya. Jangan lama-lama. Aku tidak bisa tidur bila tidak ada mas. " ucap Kinaya. Samuel pun tersenyum lalu memberikan kecupan lembut di bibir mungil Kinaya.
"Sebentar saja kok. Nanti mas akan menyusul ke dalam. " balas Samuel. Kinaya pun tersenyum.
Setelah itu Kinaya pergi. Tiba-tiba ada panggilan masuk lagi di ponsel Samuel.
__ADS_1
"Ada apa lagi sekarang? " tanya Samuel kepada orang di seberang.
π : Aku sudah memilihkan hari untuk pertemuan kakak dengannya. Kakak harus hadir atau aku ... kakak tahu kan apa maksud ucapanku. " ucap orang di seberang.
"Jangan buat kakak marah, Naura. Atau kamu akan menerima akibatnya. " ancam Samuel tapi wanita di seberang masih kekeh dengan pendiriannya. Lagi pula mana berani kakanya menyakitinya hanya karena istrinya tersebut.
π : Aku tidak peduli. Aku akan tutup teleponnya. " ucap Naura yang langsung mematikan ponselnya.
Setelah melayani ucapan adiknya itu. Samuel pun kembali ke kamarnya. Lebih tepatnya di kamar yang dulu di tepati oleh istrinya saat muda. Di bukannya pintu kamar pelan-pelan. Dilihatnya sang istri tengah tertidur dengan menyandarkan kepala di dashboard kasur.
Samuel pun melangkahkan kakinya ke arah sang istri. Samuel duduk di samping ranjang yang Kinaya duduki.
"Coba jelaskan pada mas, Nay. Apa mungkin mas mengkhianatimu. Itu tidak akan mungkin, Nay. Jika memang ada orang yang sepertimu di luar sana. Tidak akan membuat mas berpaling. Selagi air laut berlimpah ruah. Gunung menjulang tinggi dan matahari terbenam di porosnya. Mas akan tetap memilihmu untuk menjadi istri mas satu-satunya. Meski kamu sudah tidak ada lagi di dunia ini. Hanya kamu yang mas pilih untuk menjadi istri mas. Posisimu di hati mas tidak akan pernah di gantikan oleh wanita manapun. Meski ia cantik dan lebih baik darimu. Mas tidak akan pernah mengkhianatimu. Jika memang mas harus melakukan kekerasan kepada orang yang berani menyakitimu. Maka, mas akan melakukannya. Karena mas tidak akan membuatmu terluka lagi. Itu adalah janji mas padamu saat mas sudah sah menjadi suamimu saat itu. Dan janji itu sampai sekarang masih mas jaga. Semua itu mas lakukan karena mas mencintaimu, Nay sayang. " lirih Samuel memberikan kecupan di bibir mungil Kinaya. Kinaya mulai terusik tidurnya karena ulah kecupan lembut dari Samuel. Pria itu dengan cepat mengusap lengan sang istri agar kembali tertidur. Benar saja. Kinaya kembali tertidur dalam hitungan detik. Samuel pun tersenyum melihatnya. Meresa gemes dengan sang istri. Samuel pun lagi-lagi memberikan kecupan di kening Kinaya.
"Selamat tidur, istriku tersayang. Selamat malam jagoan Papa dan selamat malam juga sayangku. " lirih Samuel. Memberikan kecupan di bibir mungil Kinaya. Lalu, kecupan lembut secara bergantian di kening Reza dan perut Kinaya yang sudah mulai membesar. Samuel pun ikut tidur di samping kanan Reza. Dengan Reza ada di tengah-tengah Samuel dan Kinaya.
.
.
.
.
.
Bersambung.
...INGAT! SIMBIOSIS MUTUALISME π...
IG : gx_shi7
__ADS_1
Akan ada Visual-visual tokoh novel ini. Dan nantinya juga boleh bertanya-tanya seputar novel atau yang lainnya