Belenggu Seorang Istri

Belenggu Seorang Istri
Saran


__ADS_3

Samuel menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah keluarganya. Dia berjalan keluar dan membukakan pintu untuk Kinaya. Samuel terlihat gemetar namun Kinaya memberikan kekuatan untuknya agar terus berpikir positif. Dia terus menenangkan Samuel dan memberikan saran-saran positif untuk Samuel.


Saat ini mereka sudah berada didalam rumah keluarga besar Samuel. Terlihat sepi di dalam rumah, karena semua orang pasti berada di samping mamanya saat ini. Samuel pun mengandeng tangan Kinaya. Mereka melangkahkan kakinya dua kali lebih cepat dari biasanya. Tidak lupa Samuel memegang tangan Kinaya kuat-kuat agar sang istri tidak terpeleset di deretan jenjang panjang yang melingkar itu. Samuel memegang handle pintu lalu membukanya pelan. Ada ayah, nenek, pak Des dan juga beberapa kerabatnya yang juga tinggal disana. Dokter terlihat sedang memeriksa keadaan sang mama dan disampingnya ada sang ayah yang tengah menggenggam kuat tangan mamanya. Samuel pun mendekati mamanya disisi lain mamanya terbaring.


" Dok! Bagaimana dengan mama saya dok? Mama saya tidak apa-apa kan? " tanya Samuel yang ikut menggenggam tangan mamanya yang lain.


" Nyonya sudah tidak apa-apa tuan. Hanya kelelahan saja. Saya sarankan agar nyonya tidak melakukan apapun untuk sementara ini. Baiklah kalau begitu saya pamit dulu. " seru sang dokter yang kembali mengemas peralatan rumah sakitnya.


" Baiklah tuan Malaka. Saya mau kembali ke rumah sakit. Kalau ada apa-apa kabarkan saya langsung."


" Makasih dok. Maaf saya tidak bisa mengantarkan sampai keluar. Pak Des akan mewakilkan saya untuk mengantar dokter." seru Malaka ayahnya Samuel. Malaka mengkode pak Des agar mengantarkan dokter sampai keluar rumah. Pak Des pun mengangguk dan dia pun menghampiri sang dokter sampai keluar rumah.

__ADS_1


Saat ini Kinaya hanya bisa berdiri di belakang sang suami. Tiba-tiba terdengar bisikan ditelinga Kinaya. Kinaya pun menoleh dan melihat tante Samuel berada di sampingnya. Lalu mengisyaratkan agar Kinaya mengikutinya. Kinaya pun mengikuti tante Samuel sampai mereka berada di sofa dekat kolam renang. Mereka hanya berdiri. Kinaya bingung, apalagi yang akan tantenya lakukan.


" Kamu lihatlah. Apa kamu masih belum memikirkan hal itu? Nyawa kakakku tidak akan lama lagi. Aku tidak akan bisa dan tidak akan menerima jika keinginannya belum terkabul. Kamu sebagai menantunya harus tahu bahwa sudah saatnya memberikan kakakku keturunan. Aku tahu kamu masih belum bisa memberikannya oleh karena itu aku sarankan sama kamu agar meminta suamimu untuk punya istri lagi. Biarkan dia punya anak dari istri keduanya. Kalau menunggu kamu takutnya kakakku keburu pergi dan terbayang-bayang dengan seorang cucu nanti di surga. Kamu harus pikirkan sekarang juga, jangan sampai kamu membuat kesalahan nantinya dan membuat suamimu membenci dirimu sendiri." seru tante Samuel.


" Baiklah tante Melany akan saya usahakan untuk mengatakannya sama mas Samuel. " balas Kinaya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


" Baguslah. Akan tante pegang perkataanmu ini." seru Melanya yang pergi meninggalkan Kinaya sendirian.


Setelah mama Samuel tertidur dia pun mencari Kinaya di setiap sudut ruagan namun matanya tidak melihat sosok istrinya. Samuel pun keluar dari kamar mamanya dan mencari sang istri. Semua tempat sudah Samuel jelajahi namun tidak melihat sosok Kinaya. Samuel terlihat panik karena tidak melihat istri tercintanya. Ketika hendak menuju pintu yang ada diluar tiba-tiba dia melihat Kinaya yang berdiri di samping sofa dekat kolam renang. Samuel menghela napas lega karena tidak terjadi apa-apa pada istrinya. Samuel pun mendekati Kinaya dan memeluk Kinaya dari belakang.


" Nay. Mas pikir terjadi sesuatu padamu. Lain kali Jangan pergi kemanapun tanpa pemberitahuan dari mas yah." seru Samuel memeluk Kinaya dari belakang, meletakkan kepalanya di bahu Kinaya, mencium wangi yang memberinya semangat. Seolah beban di pikirannya pergi di tepis oleh wangi tubuh Kinaya.

__ADS_1


.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2