Belenggu Seorang Istri

Belenggu Seorang Istri
Menebarkan


__ADS_3

Hari ini Samuel menahan Kinaya agar tetap berada di kantornya. Dirinya ingin pulang dari kantor bersama sang istri. Samuel sudah menyuruh kedua pengawal Kinaya untuk pulang terlebih dahulu. Samuel tidak mau jauh-jauh dari sang istri dan juga Reza. Samuel pun menoleh ke arah Kinaya yang sedang bermain bersama Reza di sebuah sofa yang ada di ruangan itu. Samuel tersenyum melihat 2 orang yang dicintainya itu. Samuel pun menatap perut Kinaya. Dirinya sudah tidak sabar menunggu kehadiran buah hatinya bersama Kinaya yang sudah lama mereka nantikan. Samuel pun mendekati Kinaya. Duduk di samping sang istri. Samuel memegang perut Kinaya. Mengusapnya lembut. Menundukkan kepalanya agar bisa berbicara dengan anaknya yang masih di dalam perut Kinaya.


"Anak papa. Bagaimana kabarnya? Apa kamu mau sesuatu, nak? " tanya Samuel yang membuat Kinaya tersenyum. Kinaya menimang-nimang keinginannya.


"Aku baik-baik saja, Pa. Emm aku mau makan air, Pa. " jawab Kinaya polos. Seperti suara anak-anak. Samuel pun mengernyitkan keningnya. Bagaimana bisa kita makan air pikir Samuel. Samuel hanya bisa tersenyum membalas permintaan istrinya.


"Dedek kecil serius, Pa. " menatap wajah Samuel yang seperti tidak percaya kepadanya. "air yang di campur dengan gula merah terus diberi kecap manis. Dan tidak lupa buah-buahan muda yang di petik langsung dari pohonnya. " lanjut Kinaya yang membuat Samuel tersenyum, paham.


"Baiklah. Mas akan  mennyuruh Hiro untuk menyiapkannya. Kamu tunggu sebentar, ya. " jawab Samuel yang membuat Kinaya tersenyum, senang.


Beberapa menit kemudian, Hiro datang dengan membawa pesanan Samuel. Hiro terlihat ragu-ragu untuk memberikan pesanan presdirnya. Tapi, karena tidak mau membuat ibu negara kesal Hiro pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam. Sebelum masuk, Hiro menarik napasnya pelan-pelan dan membuangnya perlahan-lahan. Sampai akhirnya pintu terbuka dan Hiro masuk dengan senyuman di bibirnya.


Semoga ini adalah pesanan dari nyonya. Aku belum siap untuk di depak dari pekerjaanku. batin Hiro


"Maaf presdir. Ini pesanan yang presdir minta. " seru Hiro menghampiri Samuel di mejanya. Samuel pun mendekat dan membuka pesanan istrinya. Samuel terkejut bukan main ketika melihat pesanan istrinya. Samuel pun menatap tajam ke arah Hiro.


"Apa-apaan ini. Kamu memberikan makanan basi untuk istriku. " teriak Samuel yang membuat Kinaya terkejut kaget.


"Astaga, mas. Apa kamu mau membuat aku dan anakmu jantungan. Pelankan sedikit suaranya. " seru Kinaya menatap kesal Samuel. Samuel pun menatap Kinaya dengan wajah yang penuh penyesalan.


"Maaf, Nay. Mas reflek saja tadi. Kamu tidak apa-apa kan? " tanya Samuel mendekati sang istri. Memegang kedua bahu Kinaya.


"Emm. Lain kali jangan ulangi lagi. " balas Kinaya. "Mana pesananku? " pinta Kinaya yang sudah menampungkan tangannya di depan Samuel.


"Itu Nay. Kamu tunggu sebentar lagi, ya. Ada kesalahan dengan pesanannya. Mas akan menyuruh koki perusahaan  untuk membuatkan yang baru. " ucap Samuel penuh rasa bersalah.


"Kalau begitu, coba aku lihat yang sudah ada itu. " seru Kinaya.


"Tapi. ..." balas Samuel namun Kinaya menatap kesal Samuel. Samuel pun akhirnya menyuruh Hiro untuk memberikan pesanan yang sudah ada tadi ke depan Kinaya. Kinaya yang melihatnya sudah mulai menelan ludah, kelaparan. Kinaya pun mengambil tusuk buah yang sudah di sediakan dan akan hendak memakannya namun Samuel malah menahan tangan Kinaya.


"Jangan, Nay. Kamu tidak lihat. Itu makanan yang sudah tidak bisa di makan lagi. Kita buat yang baru aja, oke. " seru Samuel. Kinaya mengernyitkan keningnya mendengar ucapan sang suami.


"Apaan sih. Aku hanya mau makan ini. Lagian ini tidak apa-apa. Bahan-bahan masih baru kan? " tanya Kinaya menatap Hiro. Hiro pun menganggukkan kepalanya ketika Kinaya bertanya kepadanya.


"Baru apanya. Makanannya saja seperti itu. Mas tidak mau kamu makan itu. Itu tidak sehat untuk anak kita, Nay sayang. "

__ADS_1


"Tapi aku pengin. " jawab Kinaya.


"Tidak boleh, Nay. " jawab Samuel menggelengkan kepalanya. Lalu menjauhkan makanan tersebut.


"Mas. " panggil Kinaya mengiba. "Aku mau makan ini. Lagian bahan-bahannya masih higenis dan hanya bentuknya saja yang seperti ini. Kalau masalah rasa ini sangat enak. Aku sering membuat ini di rumah, kok. " seru


Kinaya meyakinkan Samuel. Samuel yang melihat wajah mengiba sang istri hanya bisa menghela napasnya dengan lembut. Samuel pun mengelus pipi Kinaya, lembut.


"Kalau begitu, biarkan mas yang mencobanya dulu agar mas tahu enak atau tidak bolehnya makanan ini dimakan. " seru Samuel. Kinaya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Samuel terlihat merasai makanan yang sudah berada di dalam mulutnya. Di akhir kunyahannya tiba-tiba Samuel memuntahkannya membuat Kinaya menatap kesal Samuel. Samuel hanya bisa terperanjak dengan apa yang dilakukan istrinya. Menggelengkan kepalanya, tidak setuju Kinaya menyantap makanan tersebut.


"Ini terlalu manis dan masam di akhirnya, Nay. Mas tidak mau kamu memakannya. Cukup mas yang merasakannya. " seru Samuel.


"Kalau begitu, aku tidak mau dekat-dekat dengan mas. Aku akan membawa Reza pulang. Jangan sampai aku melihat mas di rumah nanti. Jauh-jauh dariku sampai aku siap melihatmu, mas. " ucap Kinaya mengendong Reza dan berdiri dari duduknya. Kinaya hendak keluar tapi dengan cepat Samuel menahan tangan Kinaya.


"Kenapa bisa begitu! Mas melakukan semua ini untukmu juga, Nay. Mas tidak bisa jika tidak melihatmu dan anak kita. " seru Samuel.


"Kalau begitu, biarkan aku memakan itu. " ucap Kinaya melihat makanan yang di muntahkan oleh Samuel tadi dengan ekor matanya.


"Tapi...." ucap Samuel ragu.


"Baiklah. Mas akan menyuruh Hiro untuk menyiapkan yang baru. Sebagai gantinya tetaplah di sini menemani mas. " ucap Samuel. Kinaya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Samuel pun kembali mendudukkan Kinaya di sofa. Samuel menyuruh Hiro untuk menyiapkan permintaan yang di inginkan istrinya. Hiro pun paham dan menundukkan kepalanya. Memberi hormat kepada Samuel ketika hendak keluar.


Beberapa menit kemudian, Hiro sudah datang dengan membawa pesanan yang sama. Kinaya yang melihatnya sudah mulai tergiur. Dari tadi dia sudah menahannya. Samuel yang melihat istrinya yang sudah tergiur hanya menatap tidak rela. Tapi, Samuel tidak bisa melakukan apa-apa selain menemani istrinya menghabiskan makanannya.


"Apa kamu baik-baik saja ketika memakannya, Nay? Anak kita tidak apa-apakan? " tanya Samuel mengelus perut Kinaya lembut.


"Apaan sih. Ini enak tahu. Mas mau lagi? " Tanya Kinaya. Samuel hanya membalasnya dengan senyuman sambil mengelengkan kepalanya.


Samuel kembali ke meja kerjanya ketika sang istri dan anaknya tertidur di sebuah ruangan khusus miliknya. Belakangan ini Kinaya memang lebih sering tidur siang.


Samuel yang juga sudah menyelesaikan pekerjaannya, dia pun ikut masuk ke ruangan khusus tersebut. Samuel membuka beberapa giwang kemejanya dan mengulung lengan ke mejanya sampai ke siku. Samuel ikut berbaring memeluk Kinaya dari belakang. Karena tempatnya yang besar membuat Samuel bisa menyelip di belakang Kinaya tanpa mengeser kan posisi aman Reza. Samuel mencium tengkuk Kinaya lalu mencium wangi rambut sang istri yang membuatnya nyaman. Samuel pun terlelap setelah menikmati aroma tubuh sang istri dengan membenamkan wajahnya di leher Kinaya.


Hari sudah menunjukkan pukul setengah 6 . Kinaya terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Astaga. Kenapa aku bisa terlelap terlalu lama.  Aku harus memberi makan Reza dan membersihkannya. " lirih Kinaya yang melihat Reza yang sudah bangun tapi tidak rewel seperti anak pada umumnya. Mungkin nalurinya melarang untuk menganggu tidur nyenyak sang Mama.


"Mas. Bangun mas. " ucap Kinaya menggoyangkan tubuh Samuel untuk membangunkannya. Samuel pun mengerjapkan matanya. Menatap Kinaya yang juga menatapnya.


"Kenapa mas ikut tidur di sini. Aku harus membawa Reza pulang sebelum hari mulai gelap. " seru Kinaya menatap kesal Samuel. Samuel hanya tersenyum untuk membalas kekesalan istrinya.


"Kamu tidak perlu cemas. Di kantor mas sudah tersedia alat-alat untuk Reza. Kamu tenang saja. Kita akan kesana nanti. " ucap Samuel membuat Kinaya menghela napas lega.


"Kenapa tidak bilang-bilang. Aku kan tidak perlu khawatir lagi untuk memikirkannya. " seru Kinaya. Kinaya pun meninggalkan kecupan di bibir Samuel. Samuel tidak menghilangkan kesempatan itu dan malah menahan tengkuk Kinaya untuk memperdalam cinta mereka. Ketika sedang menebarkan kenikmatannya tiba-tiba ponsel Samuel berdering. Samuel pun mengangkatnya.


"Hei anak tengik. Mama sudah tiba di bandara. Nanti malam mama akan ke rumahmu. " seru Nyonya Malaka di seberang sana.


"Iya, ma. Kalau begitu, aku tutup dulu teleponnya. Dah mama. " balas Samuel yang langsung mematikan ponselnya.


"Mama sudah balik, mas? " tanya Kinaya.


"Emm. Habis ini kita akan langsung pulang. Mama mah datang katanya. " seru Samuel. Kinaya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


.


.


.


.


.


Bersambung.


IG : gx_shi7


Terima kasih 😊😊


Jangan lupa dukungannya yah kesayangan. Aku pada kalian 😚😙😙

__ADS_1


By : Nadila Sizy


#Kinaya&Samuel_LFR


__ADS_2