
Kinaya mengikuti langkah Samuel yang saat ini menariknya ke kamar mereka yang di lantai 2 rumah itu.
" Kamu istirahatlah jangan sampai sakit lagi. " seru Samuel yang hendak keluar. Kinaya pun memanggil Samuel. Dia pun menghentikan langkahnya tanpa menatap ke arah Kinaya.
" Mas. Apa kamu akan pulang? Aku tidak bisa tidur tanpa mu disisiku mas." seru Kinaya lirih tapi masih bisa didengar Samuel.
Samuel pun pergi keluar dan menutup pelan pintu kamarnya. Samuel mengambil ponsel di saku celananya lalu di menekan ID seseorang.
" Pergi ke Basecamp sekarang juga." perintah Samuel yang langsung menutup ponselnya sepihak.
Samuel kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celananya lalu dia mengeluarkan kunci mobilnya di saku celananya yang ada di belakang. Dia cepat Samuel melangkah keluar.
__ADS_1
Setelah beberapa menit akhirnya Samuel tiba di basecampnya. Dia disambut oleh beberapa orang pria. Mereka memberi hormat kepada Samuel. Mereka juga dengan hormat mengarahkan Samuel untuk duduk di kursi kebesarannya. Setelah duduk di kursi kebesarannya Samuel pun menopang dagunya dengan kedua tangannya. Seakan menunggu respon dari bawahannya.
" Bagaimana? Apa yang kalian temukan? " tanya Samuel to the point.
Salah satu dari mereka pun kedepan. Dia adalah kepala para bawahan Samuel bernama Rio. Samuel pun menatapnya dengan penuh aura dingin dan mata tajam juga menyertainya. Dengan berani Rio mencoba menjelaskannya. Dia tidak meninggalkan sedikit pun informasi yang dia dapat. Samuel tampak marah dan menggenggam erat sandaran kursi di samping tangannya, sesekali Samuel memukul sandaran itu dengan tangannya. Dia marah karena Kinaya berani-beraninya menyimpan itu semua sendirian tanpa menceritakan semua masalahnya selama ini. Dia lebih marah lagi karena tante dan teman istrinya sendiri mengambil andil dalam masalah ini. Setelah mendapat informasi itu Samuel akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah mamanya karena saat ini Kinaya membutuhkan dirinya disampingnya. Belakangan ini Kinaya seperti tidak bisa jauh-jauh darinya. Dia bingung juga kenapa Kinaya jadi begini namun Samuel tidak mempermasalahkannya.
Hari sudah jam 11 malam. Samuel memilih untuk langsung ke kamarnya. Dia membuka pintu pelan-pelan dan melihat Kinaya yang masih duduk di sofa dengan satu buku dongeng di tangannya. Samuel melangkahkan kakinya dan menghampiri Kinaya.
" Aku nunggu kamu mas. Aku tidak bisa tidur bila tidak ada kamu disampingku mas. "seru Kinaya memeluk Samuel.
" Yaudah. Kita tidur yuk sekalian bikin Samuel junior. " goda Samuel yang langsung mengendong Kinaya ala Bridal Style. Samuel meletakkan pelan tubuh mungil Kinaya ke kasur kingsizenya. Dia pun ikut berbaring di samping sang istri. Di setiap sudut wajah Kinaya Samuel mengecapnya. Sampai akhirnya hasrat untuk memiliki sang buah hati membuat mereka menyatukan diri mereka masing-masing. Beberapa kali desahan dari mulut Kinaya membuat Samuel bergairah untuk meninggalkan benih cintanya ke Kinaya. Setelah beberapa saat akhirnya hasrat itu memberikan nikmat yang luar biasa bagi pasutri itu. Kinaya pin tertidur pulas di lengan kekar Samuel. Samuel menarik selimut sampai ke leher Kinaya agar istrinya tidak kedinginan. Samuel pun ikut memejamkan matanya setelah melihat sang istri terlelap di lengannya. Dia peluk erat tubuh istrinya lalu mengecup lama pucuk kepala Kinaya.
__ADS_1
" Selamat tidur Nay. Semoga mimpi indah menyertaimu."seru Samuel mengecap bibir mungil Kinaya. Samuel pun ikut tertidur bersama Kinaya di dalam pelukannya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.