
Hari semakin sore, Kinaya bangun dari tidurnya. Dia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket. Saat ini Kinaya sudah memakai baju kaos dengan rok jeans selutut. Disaat Kinaya hendak turun ke dapur tiba-tiba ponselnya berdering. Dia pun mengambil ponselnya yang di letakkan di kasurnya. Beberapa saat Kinaya mematung ketika melihat id pemanggil. Kinaya pun menggeser tombol warna hijau dan meletakkan ponselnya di telinga kirinya.
" Bagaimana? Kamu sudah puas bersama suamimu beberapa minggu kemarin kan? Apa aku bisa menemui suamimu besok? Aku akan mengatur tempat pertemuannya. Jadi, kamu harus segera mengabarkan aku saat suamimu sudah bersedia. Ingat, nyonya Mearly sudah tidak sabar mengendong seorang cucu. Kamu harus pikirkan itu. "seru seorang wanita diseberang sana.
" Aku baru pulang. Dan mas Samuel juga lagi sibuk beberapa hari ini. Aku akan mencari waktu yang tepat disaat dia tidak ada urusan lagi. Kamu tunggu saja untuk beberapa hari ini. " balas Kinaya yang langsung menutup panggilannya.
Di tempat lain.
" Cih ... beraninya dia mematikan panggillan ku sepihak! Disaat aku sudah dekat dengan suamimu maka aku akan menendangmu keluar dari rumah itu dan aku jadi nyonya Malaka Wijaya satu-satunya. Hahaha. " seru seorang wanita dengan senyum liciknya.
Di tempat lain.
Samuel saat ini sedang berada di ruang kerjanya. Dia sudah menyelesaikan tugasnya yang beberapa minggu ini dia serahkan ke temannya yang bernama Jordi. Sebenarnya Jordi sudah menyelesaikan semuanya namun sebagai seorang CEO dia harus lebih teliti lagi dalam bekerja. Jadi, Samuel harus memeriksa ulang semua kerjasama yang dia terima melalui Jordi. Setelah selesai Samuel kembali ke kamarnya untuk memeriksa keadaan istrinya.
Samuel melihat Kinaya yang tengah berdiri di dekat kasur namun Kinaya terlihat melamun. Melihat ponselnya tanpa berkedip sedikit pun. Samuel pun mendekat dan memeluk Kinaya dari belakang. Meletakkan kepalanya di bahu kanan Kinaya lalu mengecup lama pipi Kinaya.
" Kanapa? Apa kamu masih mual lagi yank ? Bagaimana kalau kita kerumah sakit atau mas panggilkan saja dokter keluarga kita kesini. " seru Samuel.
__ADS_1
Kinaya terkejut mendapati pelukan tiba-tiba dari suaminya. Dia pun tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak apa-apa mas. Makasih yah atas sarannya. Apa mas lapar? Akan aku buatkan makanan untuk mas. Tunggu sebentar, oke. " Kinaya membalikkan tubuhnya lalu pergi meninggalkan Samuel sendirian di kamar tanpa menunggu respon dari Samuel.
" Tapi Nay..." Samuel menghela napas karena Kinaya sudah menjauh dan sudah pergi ke dapur. Samuel pun memutuskan pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Setelah selesai mandi Samuel memakai kaos Polo warna putih dengan celana Joger warna abu-abu. Samuel terlihat gagah apalagi rambut hitamnya tersibak kebelakang. Samuel langsung menyusul Kinaya ke dapur. Samuel melihat Kinaya sedang mengaduk Gulai Opor Ayam.
Samuel juga melihat beberapa pelayan yang sedang mencuci piring dan membersihkan beberapa piring yang kotor disana. Samuel kembali melihat ke arah Kinaya yang sedang sibuk dengan urusannya dan dia pun tersenyum melihat wajah Kinaya yang terkena tepung di hidungnya.
" Kamu bikin apa Nay? Lihatlah hidung mu jadi begini. " seru Samuel membersihkan hidung Kinaya dengan ibu jarinya.
" Nggak apa-apa kok, udah masaknya? " seru Samuel melihat Gulai Opor Ayam bikinan Kinaya.
" Dikit lagi mas. Mas tunggu sebentar lagi yah. Mending mas duduk dulu sana. " seru Kinaya menunjuk sofa yang ada di ruang keluarga.
"Baiklah, tapi kamu jangan terlalu paksain kalau kamu sudah lelah Nay. Mas tidak mau terjadi sesuatu padamu. " seru Samuel mengelus pipi Kinaya.
__ADS_1
" Iya mas. Sudah pergi sana, nanti ku panggil lagi jika makanannya sudah siap. " Kinaya mendorong pelan tubuh Samuel.
"Baiklah. " Samuel langsung pergi ke ruang keluarga. Sebelum itu dia meninggalkan sebuah kecupan di bibir Kinaya, membuat wajah Kinaya merona karena dilihat oleh beberapa ARTnya.
.
.
.
.
.
Bersambung.
Selamat membaca. Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya yah.
__ADS_1
Terima kasih.