Belenggu Seorang Istri

Belenggu Seorang Istri
Pengungkapan


__ADS_3

Samuel memeluk erat tubuh Kinaya. Memberikan sebuah energi baru untuknya karena sebelumnya mendengar kabar buruk tentang mamanya. Namun rasa itu kembali hilang, timbul sebuah beban baru dihatinya karena merasakan sosok tubuh yang sekarang dia peluk erat itu gemetar, bening kristal mengenai lengan kekarnya yang sedang memeluk wanita di depannya itu. Samuel pun membalikkan tubuh istrinya pelan. Hatinya terasa teriris benda tajam melihat air mata keluar deras tanpa henti. Samuel pun menyeka air mata itu dan kembali memeluk istrinya. Samuel tahu pasti saat ini istrinya mempunyai masalah yang tidak ingin dia beritahukan kepadanya, oleh karena itu memeluk erat tubuh istrinya.


Kinaya pun berusaha menghentikan tangisannya. Meski sekarang masih terisak namun dia berusaha mengatakan sesuatu yang seharusnya dia katakan sejak lama. Dia tatap wajah tampan di depannya itu lekat-lekat lalu memberanikan dirinya untuk mengungkapkan niatnya yang selama ini terus menghantuinya.


" Mas." seru Kinaya disela isaknya.


Samuel pun menatap lekat wajah Kinaya.


" Kenapa? Bisakah kamu mengatakan semuanya kepada mas Nay? Mas tidak bisa melihatmu seperti. Kita harus bisa menjalani semuanya bersama-sama Nay. Jangan biarkan dirimu sendiri menanggungnya. Kamu harus yakin bahwa laki-laki di depanmu ini bisa menjamin masalah mu itu selesai ditangannya. Sekarang bisakah kamu menceritakan apa yang terjadi padamu Nay! " seru Samuel menatap lekat setiap gerak-gerik mata Kinaya.


Kinaya pun membulatkan tekadnya untuk mengatakan semuanya kepada Samuel.


" Mas. Apa kamu tahu keinginan terakhir mama?" tanya Kinaya.


Samuel bingung dengan maksud Kinaya. Samuel tidak tahu apa keinginan terakhir mamanya. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menunggu jawaban dari istrinya. Kinaya pun menghela napas pelan.

__ADS_1


" Anak mas. Mama menginginkan seorang cucu dari kita. Tapi aku masih belum bisa memberikannya. " Kinaya menundukkan kepalanya sebentar dan kembali melihat wajah Samuel.


" Aku tidak tahu kapan kita bisa memberikan mama seorang cucu. Tapi aku punya solusinya mas. " lanjut Kinaya.


Samuel hanya mengernyitkan keningnya. Solusi macam apa yang ada dipikirin istrinya saat ini. Samuel hanya bisa menunggu respon selanjutnya dari istrinya.


Kinaya kembali mengeluarkan bening kristal di matanya. Dia pun kali ini harus mengatakan semuanya kepada Samuel.


" Aku mau kamu memaduku mas. Hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang. Kita tidak tahu apakah mama bisa selamanya bersama kita. Jadi ini adalah keputusan yang harus kita lakukan untuk mama mas. " seru Kinaya mencoba menahan air matanya agar tidak keluar tanpa izin darinya.


" Nay. Kamu kalau mau ngelucu jangan disini. Kita ke kamar aja yuk. "seru Samuel menarik tangan Kinaya agar masuk kedalam rumah karena saat ini udara malam sangat dingin dan tidak mau kejadian seperti kemarin terjadi lagi kepada istrinya. Namun Kinaya menahan tangan Samuel. Samuel pun menghentikan langkahnya dan membalikan badannya kesamping. Menatap Kinaya yang diam mematung.


" Aku serius mas." seru Kinaya yakin.


" Inilah yang selama ini aku pikirkan belakangan ini mas. Aku mencari cara bagaimana harus mengatakannya kepadamu. Namun melihat mama tadi, membuat aku yakin bahwa kamu harus memaduku mas. Inilah keputusanku mas, kita harus melakukannya demi mama mas. Kita tidak boleh egois. Mamalah yang selama ini mendukung kita, menasehati kita dan selalu ada untuk kita. Jadi kamu harus bersedia menikah lagi mas. Dan kabulkanlah permintaan terakhir mama mas. " seru Kinaya menatap Samuel dengan air mata sudah membanjiri pipinya.

__ADS_1


" Mas ada urusan mendadak, kamu masuklah kedalam. Jangan sampai kamu sakit lagi seperti kemarin. " seru Samuel membawa Kinaya ke kamarnya.


" Tapi mas..." Kinaya menatap wajah dingin Samuel membuat dia tidak bisa melanjutkan perkataannya.


" Masuk." seru Samuel.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2