
Di kediaman Samuel dan Kinaya.
Sudah 3 hari mereka menginap di rumah orangtua Samuel. Samuel pun memutuskan untuk ke rumah mereka. Karena tinggal di rumah orangtuanya membuat waktunya untuk berduan bersama sang istri selalu di ganggu oleh Mamanya. Samuel pun memutuskan untuk mengajak Kinaya pulang ke rumah mereka.
Kinaya sendiri awalnya menolak ajakan Samuel karena dia masih ingin bersama mamanya. Namun Samuel menolak keinginan sang istri.
"Kenapa sih mas! Aku kan jarang ketemu sama mama. Walaupun sudah ketemuan kamu selalu saja gangguin kami. " Kinaya menyilangkan tangannya di dada. Dengan mulut mencibir lalu menghadap ke jendela mobil karena tidak mau melihat wajah suaminya.
Samuel pun menoleh ke arah Kinaya lalu memegang tangan Kinaya. Kinaya tidak merespon dan tetap memalingkan wajahnya dari tatapan Samuel. Samuel pun menghentikan mobilnya di pinggir jalan. "Baiklah. Lain kali kita ajak Mama saja ke rumah. Kamu tidak kesal lagi kan? " seru Samuel melihat Kinaya yang masih fokus melihat ke arah luar. Mendengar hal itu Kinaya pun menoleh ke arah suaminya.
"Benarkah mas. Kalau begitu aku akan menelpon mama sekarang. " seru Kinaya senang. Kinaya pun mengeluarkan ponselnya namun di tahan oleh Samuel.
"Secepat ini kamu ingin jauh dari mas Nay. Apa kamu tidak ingin mas ada di dekatmu. " Samuel menarik nafas sebentar, "Apa mas tidak berarti apa-apa bagimu?" Samuel memalingkan wajahnya ketika Kinaya akan menatapnya.
Kinaya geleng-geleng kepala lalu menyentuh tangan Samuel meski pria itu tidak menatapnya. "Bukan begitu mas. Kamu sangat berarti bagiku. Kamu segala-galanya untukku. " Kinaya menghambur ke pelukan Samuel. "Aku hanya merasa bersalah. Aku hampir saja merusak kepercayaan mu dan juga kepercayaan mamamu mas. Aku takut mama akan membenciku. Makanya aku membalas kesalahan yang sudah aku perbuat dengan terus menerus berada di samping mama mas." Kinaya mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Samuel lekat - lekat. "Mana mungkin kamu tidak berarti bagiku mas. Kamu adalah segala-galanya untukku. " seru Kinaya. Samuel pun tersenyum dan mencium lembut bibir Kinaya.
"Mana mungkin mama akan membencimu Nay. Kamu adalah kesayangannya. " Samuel melepaskan kecupannya lalu menyelipkan rambut Kinaya ke telinga. "Meski begitu kamu harus janji pada mas untuk jangan pernah jauh-jauh dari mas Nay. Mas tidak mau kamu seperti kemarin lagi. Hanya saat istirahat dan makan saja kita ada waktu. Mas tidak senang dengan semua itu. Mas mau kamu selalu ada di dekat mas Nay. Selalu di dekat mas, okey. Janji ya. " meninggalkan kecupan di kening sang istri.
Kinaya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Iya mas. Aku akan selalu ada di sampingmu. Tidak akan pernah meninggalkanmu. " seru Kinaya membenamkan kepalanya di dada Samuel.
"Baiklah. Mas akan memegang janjimu Nay. " seru Samuel. Setelah itu Samuel kembali melajukan mobilnya dengan kepala Kinaya bersandar di bahu Samuel.
Di tempat lain di waktu yang sama.
"Aku mau kalian melakukan sesuatu untukku. " seru Laras yang tengah duduk di sofa dengan beberapa orang pria sedang berdiri di depannya.
"Apa yang bisa kami lakukan Nona? " tanya salah seorang pria itu.
__ADS_1
"Aku mau kalian menjebak seorang wanita. Dan jangan sampai dia menyadarinya. Lakukanlah seperti hal yang tidak sengaja saja. " Laras mengambil gelas anggur di depannya. "Aku mau dia berpisah dengan suaminya. Jadi, lakukanlah sesuatu yang bisa membuat dia berpisah dengan suaminya. " Laras langsung meneguk anggur di tangannya.
"Baiklah Nona. Tapi kapan kami akan menemuinya dan dimana kami bisa menemuinya? " tanya salah satu dari mereka.
"Aku akan mengaturnya. Kalian hanya perlu menunggu kabar dariku. Sekarang kalian bisa pergi dari sini. " seru Laras yang sudah bangun lalu masuk ke sebuah ruangan. Para lelaki itupun memberi hormat dan melihat kepergian Laras ke dalam ruangan itu. Mereka saling pandang.
"Apa yang akan kita lakukan? Kita harus menunggu respon dari bos dulu. Jangan sampai Nona kita dalam masalah. " seru salah satu dari mereka lalu mengeluarkan ponselnya.
Laras masuk ke ruangan yang terletak di
lantai 10 yang ada di salah satu hotel di kota B. Dia langsung pergi ke ruangan yang sudah tertata baju-baju tidur yang sangat seksi. Laras pun melepaskan satu persatu pakaiannya lalu mengenakan baju tidur yang ada di lemari itu. Setelah selesai dia pun masuk ke salah satu ruangan besar dengan tempat tidur yang berukuran besar ada di sana. Seorang pria tampan yang masih memakai jasnya sedang berdiri di dekat balkon. Memandangi pemandangan kota di malam hari. Memasang telinganya setelah mendengar langkah seseorang mendekatinya. Seketika tangan mungil melingkar di pinggang pria itu.
"Apa yang kamu lakukan? " tanya pria itu mencoba melepaskan tangan Laras di pinggangnya.
"Aku memelukmu. Kita sudah hampir satu bulan tidak ketemu. Aku sangat merindukanmu. " Laras membenamkan kepalanya di punggung pria itu. Pria itu langsung mendorong tubuh Laras dengan keras ke lantai lalu masuk ke dalam kamarnya. Tanpa melihat ke arah Laras. Laras pun memukul kursi yang ada di sampingnya.
"Kenapa kamu masih di sini? Apa aku harus menelpon petugas keamanan untuk menyeretmu keluar dari sini. " seru pria itu memilih untuk duduk di sofa. Laras pun berdiri di depannya.
"Kenapa kamu melakukan ini. Waktu itu kamu sangat dekat denganku. Tapi sekarang ini kamu seperti jijik di sampingku. Apa salahku? " Laras dengan wajah memelas meminta penjelasan dari pria itu.
"Ini semua karena salahmu. Waktu itu aku hanya pergi sebentar saja namun kamu malah membiarkan wanitaku bersama pria lain. Aku bahkan sudah berusaha meluluhkan hatinya tapi kamu memberi kesempatan orang lain untuk memilikinya seutuhnya. " seru pria itu memilih berdiri lalu berjalan menuju pintu dan memegang handle pintu. "Sekarang keluarlah dari sini dan jangan pernah kamu menginjakkan kakimu di sini lagi. " seru pria itu yang sudah membukakan pintu dan menyuruh Laras untuk keluar.
"Apa kamu yakin akan mengusirku dari sini. Aku bahkan sudah menyusun rencana untukmu bertemu dengan dia. Apa kamu yakin tidak ingin menemuinya. " Laras hendak keluar dari ruangan itu namun langkahnya terhenti karena pria itu memanggilnya.
"Tunggu dulu. Apa yang sudah kamu rencanakan? Jangan lakukan sesuatu yang bisa membuatnya terluka atau kamu akan mendapatkan akibatnya. Bahkan lebih dari itu. " pria itu menatap dingin Laras.
"Tenang saja. Aku hanya membantu kamu untuk bisa mendapatkannya. Kamu hanya perlu membantuku untuk bisa bersama suaminya. " Laras mendekatkan pria itu. " maka kamu akan bebas untuk memilikinya. " Laras memegang dada pria itu namun di tepis dengan kuat oleh pria itu.
__ADS_1
"Apa maumu? Jangan membuang waktuku. " seru pria itu memilih kembali duduk di sofa.
"Tidak banyak. Kamu hanya perlu mendekatinya dan lakukan hal yang biasa kalian lakukan bersama. Bahkan boleh lebih dari itu. Aku akan sangat berterima kasih untuk itu. " Laras menyilangkan tangannya di dada.
"Apa yang sudah kamu rencanakan? Aku tidak mau melukai perasaannya. Karena aku sangat menghormatinya. Jangan buat rencana yang berhubungan dengan kehormatannya. Atau kamu akan merasakannya juga bahkan lebih dari itu. "
"Hehehe. Sepertinya aku harus merubah rencanaku. " pria itu menatap dingin Laras. "Baiklah. Aku tidak akan menggangu kehormatannya. Tapi jika itu kamu sendiri tidak apa-apa kan. "Menatap wajah dingin pria itu lagi. "Aku hanya bercanda. Baiklah, aku akan memghubungimu nanti. Tapi aku pasti membutuhkan hal yang lain nanti. Aku harap kamu bisa membantuku nanti. " Laras pun menganti bajunya lalu pergi meninggalkan pria itu sendirian.
Setelah Laras pergi pria itu menelpon seseorang diseberang.
"Kalian awasi wanita yang keluar dari kamar saya. Saya mau informasi yang dia lakukan setiap hari. Awasi kemanapun dia pergi. Jangan sampai dia melukai Kinaya. Kalu sampai itu terjadi kalian berurusan dengan saya. Ataupun itu terjadi kalian tidak bisa melakukan apapun. Jadi, terus awasi wanita itu jangan sampai Kinaya kenapa-napa. " seru pria itu dingin. Menatap foto Kinaya yang terbingkai dengan cantik dan indah.
"Baik boss. Kami akan mengawasi nona Laras agar dia tidak menyentuh nona Kaniya. Kalau begitu saya akan langsung mengawasinya mulai sekarang. " jawab seseorang di seberang. Pria itu langsung memutuskan panggilannya setelah mendengar jawaban dari orang suruhannya.
"Tidak akan aku biarkan kamu terluka. Jika Laras berani menyakitimu maka aku tidak akan membiarkan dia hidup dengan tenang. " pria itu mengelus wajah Kinaya yang ada di dalam bingkai yang indah.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1