
Pagi harinya Kinaya bangun terlebih dahulu. Dia melihat Samuel yang masih nyenyak tidurnya. Kinaya pun mengangkat lengan Samuel yang ada di atas perutnya. Dia jalan berjinjit agar tidak membangunkan sang suami. Kinaya langsung masuk ke kamar mandi lalu membersihkan tubuhnya. Setelah beberapa menit akhirnya Kinaya selesai dengan ritual mandinya. Dia duduk di kursi kecil di depan meja rasanya. Sedikit polesan di wajah membuat Kinaya tampak cantik dan sederhana apalagi dipadukan dengan baju kaos warna peach dengan bawahan rok jeans selutut kesayangannya.
Setelah selesai bersih-bersih Kinaya pun pergi kedapur untuk membantu ART disana membuat sarapan pagi. Kinaya hanya membantu sedikit karena itu adalah perintah ultimatum oleh sang suami karena. Jika sampai ketahuan oleh Samuel jika Kinaya bekerja terlalu keras maka bukan Kinaya yang dapat semprotnya melainkan para ART disana. Kinaya mau tidak mau harus mendengarkan perkataan Samuel, demi kebaikan kita bersama pikir Kinaya.
Setelah selesai membantu ART membuatkan sarapan pagi untuk keluarga suaminya Kinaya pun kembali ke kamarnya berencana untuk membangunkan Samuel. Kinaya memegang handle pintu lalu mendorongnya pelan. Kinaya tersenyum melihat Samuel yang masih betah dengan bantal dan juga selimut yang ia tarik sampai menutupi kepalanya. Mungkin karena cahaya matahari mengganggu tidurnya membuat sang suami menutup seluruh wajahnya pikir Kinaya.
Kinaya pun menarik pelan selimut Samuel agar tidak membangunkannya lalu dengan cepat Kinaya berlari ke arah jendela lalu menarik tirai jendela lebar-lebar agar mengenai wajah Samuel.
Kinaya tertawa melihat tampang cemberut Samuel. Kinaya pun tertawa ria melihat wajah Samuel. Tanpa dia sadari Samuel mendekatinya dengan langkah seribu lalu menangkap Kinaya di dalam dekapannya. Samuel menggelitik Kinaya hingga wanita itu mengeluarkan air mata kegeliannya.
" Berani kamu yah. Rasain sekarang sampai kapan kamu bisa menahannya. " seru Samuel mengelitik tubuh Kinaya.
" Hahaha...Sudah mas, aku nggak tahan lagi. Haha...Maafkan aku mas." seru Kinaya disela tawanya di gelitik oleh Samuel.
__ADS_1
" Nggak bisa. Kamu harus diberi hukuman sekarang juga. " Samuel masih fokus mengelitik namun kali ini disertai sebuah kecupan di bibir ranum sang istri.
Kinaya menikmati kecupan itu. Perlahan tangan Samuel berpindah di tengkuk Kinaya dan satu tangannya lagi menyangga pinggang Kinaya. Sebuah kebahagiaan yang ternilai harganya. Pagi yang indah, burung-burung berkicau untuk memberikan petunjuk bahwa hidup yang penuh dengan keriangan akan segera dimulai.
Samuel sudah rapi dengan setelah jas warna biru dongker, dasi polos hitam dan sepatu kulit warna hitam kehijauan. Kinaya pun menepuk kedua bahu Samuel setelah dia selesai membantu sang suami. Setelah itu Samuel menarik pinggang Kinaya sehingga tubuh mereka menyatu tanpa batas sedikit pun. Kepala Kinaya beradu langsung dengan dagu Samuel. Samuel langsung mencium pucuk kepala sang istri, dia pegang dagu Kinaya lalu menyatukan hasrat mereka masing-masing melalui bibir-bibir tipis itu.
Kinaya memejamkan matanya lalu memegang erat bahu Samuel. Setelah puas terhadap apa yang dilakukannya Samuel pun melepaskan kecupannya.
" Mas...Hal semalam apa kamu memikirkannya? "seru Kinaya menundukkan kepalanya.
" Tapi mas, ma..."
" Jangan membuat mas marah Nay. Mas tidak mau menyakitimu dengan kata-kata mas. Yaudah kalau begitu mas berangkat kerja dulu. Jaga dirimu. Nanti mas akan jemput kamu untuk makan siang." seru Samuel kembali mengecup bibir ranum Kinaya. Kinaya pun mencium punggung tangan Samuel. Mereka turun kebawah, Kinaya mengantarkan Samuel sampai ke pintu utama. Setelah itu Samuel
__ADS_1
masuk kedalam mobilnya dan melambaikan tangannya kearah Kinaya.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
.
.