
Ketika Samuel memasak Kinaya hanya duduk di kursi tinggi dekat dapur tersebut. Kinaya memperhatikan lekat suaminya memasak. Sempurna. Pikir Kinaya dalam hatinya. Tidak hanya tampan, kaya dan baik hati. Samuel berhasil membuat Kinaya senang dan nyaman berada disisinya. Apalagi melihat sang suami memasak untuk dirinya. Sungguh suami idaman yang banyak diincar oleh wanita diluar sana. Namun ada satu hal yang menjanggal di hatinya. Semua itu tak ada apanya tanpa sang buah hati di dekatnya. Andai di tengah mereka ada tangisan bayi maka Kinaya tidak butuh apa-apa lagi di dunia. Tanpa terasa air mata Kinaya kembali tumpah. Samuel yang melihat air mata Kinaya dia pun mendekati istrinya. Samuel berdiri di samping Kinaya lalu memeluk bahu sang istri yang kala itu Kinaya masih dalam keadaan duduk di kursi tinggi yang ada di dapur. Dia letakkan kepala Kinaya di dada kekarnya. Dia usap-usap punggung Kinaya.
" Udah Nay. Kenapa lagi huh? Jangan sampai hal ini menyangkut seorang anak. Mas tidak suka mendengarnya. " seru Samuel menatap wajah sang istri lalu dia tepis air mata Kinaya dengan ibu jari tangannya.
" Tapi mas. Bagaimana dengan saran aku kemarin! Aku akan mendukung penuh kamu untuk menikah lagi mas. Dan kamu bisa punya anak dari dia. " jawab Kinaya polos tanpa melihat tatapan tajam Samuel.
Kini Samuel amat sangat marah mendengar perkataan istrinya. Bagaimana bisa istrinya memberikannya kepada wanita lain. Bahkan wajahnya tampak tenang dan tidak menentang semua itu. Apakah istrinya tidak mencintainya lagi pikir Samuel. Samuel mencoba menahan emosinya tapi lagi-lagi Kinaya memancing kemarahannya.
" Aku akan mencarikan wanita yang baik-baik untuk mas. Aku juga sudah membuat janji temu dengannya. Jika mas ada waktu maka aku akan mengatur pertemuan kalian. " lanjut Kinaya menahan rasa sakit di hatinya dengan sebuah senyuman di depan Samuel.
" Kenapa! Kenapa hati ini begitu sakit saat aku mengatakannya. Aku bahkan sudah membulatkan tekadku agar mama punya seorang cucu dari mas Samuel. Tapi kenapa hati ini seolah menentangnya. Namun aku juga tidak bisa mundur begitu saja karena ini demi mama. Agar mama bisa tenang dan kembali seperti dulu lagi." gumam Kinaya dalam hatinya.
__ADS_1
Samuel pun menarik tangannya Kinaya. Dia pun berjalan dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya, mengambil kunci mobilnya lalu mendorong pelan tubuh Kinaya masuk ke dalam mobil. Kinaya sedikit menahan sakit di pinggulnya namun masih bisa dia tahan. Samuel pun duduk di kursi sopir samping Kinaya. Samuel mesetir mobilnya menuju rumahnya sendiri. Dia tidak mau jika nanti dia marah dan akan membuat Kinaya malu di depan keluarganya. Samuel pun menahan kemarahannya dengan memukul kemudi mobilnya. Dia tampak mengertakkan rahangnya dengan mata fokus kedepan. Sedangkan Kinaya menangis sejadi-jadinya melihat sang suami menakutinya dengan wajah dinginnya itu.
Beberapa menit kemudian kini pasutri itu sudah sampai di rumah mereka sendiri. Samuel membuka pintu mobilnya dan menutup pintunya dengan keras. Samuel membukakan pintu untuk Kinaya lalu menariknya dengan paksa sampai mereka tiba di kamar mereka.
Kinaya meronta kesakitan ketika Samuel menariknya dengan kuat apalagi dengan langkah yang cepat darinya.
"Mas. Pelan-pelan mas. Tangan ku sakit. "lirih Kinaya.
" Mas. Semua ini untuk mama mas. Aku tidak akan melakukannya jika bukan demi mama mas." seru Kinaya.
Samuel dengan marah mengelontarkan semua yang ada di hatinya.
__ADS_1
" Kinaya. Apa kamu tidak tahu apa yang kamu katakan barusan! Apa kamu tidak memikirkan perasaan mas. Apa kamu tidak memikirkan perasaan mu sendiri atau kamu sudah tidak mencintai mas lagi. Meskipun kamu tidak mencintai mas lagi, setidaknya jangan lakukan hal itu. Karena mas punya jalan mas sendiri tanpa perlu kamu beritahu. Mas kecewa padamu Nay. Mas kecewa." bentak Samuel dengan mata yang sudah memerah, mengepalkan tangannya agar tidak melakukan hal yang tidak diinginkannya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.