Belenggu Seorang Istri

Belenggu Seorang Istri
Prioritas utama


__ADS_3

Di tempat lain di waktu yang sama.


"Bagaimana? Dia sudah tidak apa-apakan? Dia baik-baik sajakan? " tanya seorang pria dengan raut wajah yang terlihat sangat khawatir. Dia berbicara melalui telepon. Menunggu respon dari orang seberang.


"Syukurlah tuan. Saya baru dengar kalau nona baik-baik saja tuan. Tapi, nona belum sepenuhnya dan masih butuh perawatan lebih lanjut. " jawab seseorang di seberang.


"Tapi tuan ...." lanjutnya menggantung. Ragu untuk mengatakan hal sebenarnya.


"Tapi kenapa? Bicara yang benar. Jangan membuat saya menunggu. " teriak pemuda itu dengan wajah terlihat khawatir.


"Nona bersama suaminya sekarang dan beberapa pengawal tengah berjaga di depan pintu masuk. " jelas seseorang. Pemuda itu terlihat mengepal tangannya dan memukul pagar balkon.


"Baiklah. Teruslah mencari tahu keadaan Kinaya. Jangan lengah sedikit pun. " jelas pemuda itu.


"Baik tuan. Saya akan terus mengawasi keadaan nona. "


Pemuda itu pun menutup panggilan teleponnya. Terlihat dia sedang mencari nomor kontak seseorang dan pemuda tersebut menelpon orang lain di seberang.


"Kalian awasi wanita itu. Besok pagi saya akan menemuinya. " seru pemuda itu dengan orang di seberang. Setelah mendapat respon dia pun memutuskan teleponnya dan mematikan ponselnya.


"Sudah 2 tahun lebih kita tidak bertemu apa kamu merindukanku Ki. Aku sudah kembali dan akan membawamu pergi dari sini. " ujar pemuda itu menatap foto Kinaya yang terpajang dengan bingkai besar di dinding kamarnya. Pemuda itu menatap seluruh kamarnya.


Kamar ini sudah aku siapkan segala keperluanmu. Semuanya sudah aku siapkan sesuai kesukaanmu. Tapi wanita itu malah masuk dan memakai baju yang aku beli khusus untukmu. Aku akan mengganti semuanya dengan yang baru dan kita akan tinggal bersama selamanya. Akan aku bawa kamu ke tempat yang kamu suka tanpa di ganggu oleh orang satupun. Hanya akan ada kita berdua di sana. pikir pemuda itu. Mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar yang ia tepati


Malam pun berlanjut dan pagi hari pun menampakkan bentuknya. Pemuda itu telah berpakaian jas lengkap dengan dasi nya. Tidak lupa jam tangan warna silvernya.


Segera ia ambil kunci mobilnya dan keluar dari kamarnya. Mobil sport warna merah terpikir di parkiran bawah tanah hotel yang di tempatinya. Segera ia lajukan mobilnya dan memecah jalanan yang sangat padat di tengah kota.


Beberapa menit setelah sampailah pemuda tersebut di sebuah rumah bernuansa putih dengan beberapa pengawal tengah berjaga di depan rumah tersebut.

__ADS_1


"Dimana wanita itu? " tanya pemuda tersebut ketika ia sudah berada di depan pintu masuk. Dengan wajah dinginnya masuk ke dalam dan para pengawal pun membungkukkan badannya memberi hormat.


"Sebelah sini Tuan. " seru pengawal pemuda itu. Mereka mengarahkan pemuda tersebut ke sebuah ruangan yang terletak di ujung sudut rumah tersebut.


"Tolong aku. Mereka menyekap ku di sini seharian. " rengek Laras memeluk pemuda tersebut. Pemuda itu hanya diam dan tidak lama setelah itu dia mendorong wanita tadi ke lantai. Hingga Laras mengaduh kesakitan.


"Kenapa kamu mendorong ku. Seharusnya kamu melawan mereka untukku. " Melihat ke arah para pengawal. " dan bawa aku keluar dari sini. " bangun dan mencoba untuk mendekati pemuda tadi.


"Menolong. Setelah semua kejahatan yang telah kamu lakukan. " Menatap sinis Laras. "Sepertinya aku terlalu baik kepadamu selama ini dan memanfaatkan kebaikkanku kepadamu. " seru pemuda itu menjauh dari Laras yang hendak mendekatinya dan memilih duduk di sofa yang ada di sana. " Ingatlah. Selama ini aku baik kepadamu hanya karena Kinaya adalah temanmu. " Menatap jijik Laras. "Kinaya memperlakukanmu layaknya seorang saudara. Tapi, kamu malah ingin membunuhnya. Apa peringatanku kemarin belum membuatmu sadar. Aku sudah pernah bilang bahwa aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. " diam sejenak dan menatap dingin Laras. " Sekarang nikmatilah hidupmu disini selama sisa hidupmu dan puaskan mereka. " Menatap kepada para pengawalnya. Pemuda itu bangkit dari duduknya dan hendak keluar. Namun Laras menghentikannya.


 "Tidak. Jangan lakukan itu. Jangan lakukan ini kepadaku. Aku menyesal. Aku ngaku nyesel telah melakukan semua itu kepada Kinaya. Aku minta maaf padamu. Maafkan aku. Maafkan aku. " seru Laras yang membuat pemuda itu menyeringai tanpa melihat ataupun iba kepada Laras.


"Terlambat. Sudah terlambat untuk menyesalinya. Sekarang buatlah mereka puas terhadap dirimu dan jalani hukuman atas kejahatanmu selama ini. "Pemuda itu berlenggang keluar dan meninggalkan Laras sendirian. Laras mundur beberapa langkah saat para pengawal pemuda tadi mendekat. Namun, langkahnya terhenti karena 2 orang wanita masuk.


"Jangan terlalu cepat untuk menikmati. Bersihkan semua tempat ini. Setelah itu baru layani mereka. " seru seorang wanita dan melihat ke arah para pengawal yang sudah menunjukkan wajah memelasnya.


"Tidak mau. Aku tidak mau melakukannya. Biarkan aku keluar dari sini. " pinta Laras memohon.


Disaat Laras di buly. Tiba-tiba seorang wanita cantik melewati pintu yang ada di kamar Laras. Dia berhenti sebentar karena mendengar kegaduhan yang sangat heboh. Dan dia langsung pergi setelah memahami alasan Laras ada di sana.


Wanita cantik tersebut mengejar pemuda tampan tersebut. Dia menyusul pemuda tadi yang sudah keluar duluan. Dia menghentikan pemuda tersebut ketika sedang membuka pintu mobilnya.


"Kak Roy. Tunggu sebentar kak. " panggil wanita cantik tadi. Roy pun berbalik dan melihat ke arah wanita cantik itu.


"Diana! Kenapa kamu bisa ada disini? " tanya Roy terkejut. Dan kembali menutup pintu mobilnya dan mendekati Diana.


"Aku rindu kakak. Akh pikir kakak ada di sini. Jadi, aku memutuskan untuk menginap di sini semalam. " jelas Diana menghampiri Roy yang juga menghampirinya.


"Jadi begitu. Maaf ya beberapa hari ini kakak sibuk. Kakak ada urusan sebentar. Kakak akan pergi lagi. Kamu tidak apa-apakan kakak tinggal? " seru Roy memeluk Diana lembut. Roy pun berlenggang ke mobilnya setelah Diana menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa kakak tidak tertarik sedikit pun terhadapku. " seru Diana pelan. Menatap mobil Roy yang sudah menjauh.


"Siapa wanita tadi? Ada masalah apa dia dengan kakak? Sepertinya kakak sangat membencinya. " tanya Diana kepada para pengawal Roy.


"Dia teman nona Kinaya, Nona. Dia telah membuat nona Kinaya masuk RS karena keracunan. " jelas pengawal tersebut.


"Huh. Dia pantas mendapatkannya. " Melihat ke arah kamar Laras dari kejauhan. " Jangan biarkan wanita itu kabur dari sini. Dia hanya akan membuat kita repot kedepannya. " jelas Diana.


"Saya akan keluar sebentar. Kalau kakak datang segera hubungi saya. " Masuk ke dalam mobilnya dan membelah jalanan yang padat.


Di rumah sakit tempat Kinaya di rawat.


Keadaan Kinaya sudah mulai membaik. Saat ini dia tengah menikmati pemandangan alam di pagi hari. Sebagai suami siaga Samuel tidak mau meninggalkan Kinaya sendirian. Di dalam pengawasannya Samuel selalu menghibur Kinaya dengan kata-kata romantisnya. Samuel meletakkan satu tangannya di pinggang Kinaya dan satu tangannya lagi memegang botol infus Kinaya. Mereka terlihat bahagia meski di tempat yang apa adanya tersebut. Senyum Kinaya di bibir ranum nya membuat Samuel ikut bahagia. Matanya tidak lepas dari pandangan matanya.


"Udah mas. Jangan ngegombal terus. " seru Kinaya menatap Samuel dengan senyum di bibirnya yang tiada hentinya. Samuel menghadap ke arah Kinaya dan mencium lembut bibir Kinaya.


"Semua ini adalah bukti cinta mas padamu, Nay. Apapun akan mas lakukan  agar kamu selalu tersenyum seperti sekarang ini. Karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaan mas juga. " Menyentuh pipi Kinaya dan pelan-pelan Samuel mengusapnya. " Kebahagiaanmu adalah prioritas utama mas hidup. " Mencium lembut bibir Kinaya. Kinaya tersenyum dan membalas ciuman Samuel. "Mas mencintaimu, Nay. Kamu segala-galanya bagi mas. " Memeluk Kinaya dengan satu tangannya karena satu tangannya lagi memegang botol infus Kinaya.


"Jangan pernah tinggalkan aku mas. Hanya kamu yang aku miliki. " Membenamkan kepalanya di dada kekar Samuel dan memeluk erat pinggang Samuel.


"Jangan berpikir seperti itu, Nay. Mas tidak akan pernah meninggalkanmu. Apapun yang terjadi pada kita kedepannya. Mas akan tetap di sampingmu. Mas akan selalu ada untukmu saat kamu di dalam masalah. Jangan lupakan itu, Nay. " jelas Samuel. Samuel memeluk erat tubuh mungil istrinya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2