
" Apa hanya itukah yang ada dipikiranmu Nay? Masih banyak lagi yang harus kita lakukan. Mas akan menanyakan ke dokter keluarga kita. Dan kita akan melakukan konsultasi di rumah sakit. Mas tidak harus menikah lagi agar kita bisa memberikan Mama seorang cucu. Kita hanya harus lebih berusaha lagi untuk mewujudkan keinginan mama. Jadi jangan meminta mas untuk menikah lagi Nay. Mas tidak akan bisa melakukannya. Mas tidak berani menyakiti kamu nanti Nay. Kamu segala-galanya untuk mas. Mas akan melakukan segala cara agar kita bisa memiliki seorang anak. Kita hanya harus menunggunya sebentar lagi. Kamu mau kan menunggu mas menyelesaikan semua ini? Berikan mas waktu untuk itu." seru Samuel yang mulai meredakan emosinya. Mendekati Kinaya lalu menangkap kedua pipi Kinaya dengan tangannya.
" Janjilah sama mas Nay. Jangan lakukan hal yang membuat mas marah. Mas tidak tahu apa yang akan mas lakukan kepadamu jika nanti mas marah sama kamu Nay. Hanya kamu yang mas cintai. Dan tidak mungkin bagi mas untuk menikah lagi Nay. " lanjut Samuel memeluk Kinaya. Membenamkan kepala Kinaya di dada kekarnya.
Kinaya tidak bisa lagi menjawab perkataan Samuel. Dia sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah salah. Seharusnya dia mengatakan semua masalahnya sama sang suami. Dia berpikir seharusnya dalam berumah tangga kita seharusnya saling memberi tahu masalah kita masing-masing.
Kinaya membenamkan kepalanya di dada Samuel. Setelah cukup lama dia pun mendongakkan kepalanya menatap sang suami yang habis mencium pucuk kepalanya. Kinaya menatap wajah sendu sang suami. Ada air yang menetes disana. Kinaya pun menghapus air mata itu dengan tangannya. Samuel mengikuti pergerakan tangan istrinya setelah selesai dia pun melihat wajah istri yang juga habis menangis. Dia pun menepis air mata sang istri. Kembali dia peluk tubuh mungil sang istri.
" Jangan bahas hal itu lagi Nay. Janjilah sama mas Nay. Mas sangat mencintaimu. " seru Samuel memeluk erat sang istri.
Kinaya pun menganggukkan kepalanya. Entah kenapa suaranya saat ini terkunci untuk melawan bahkan menjawab perkataan Samuel. Dia hanya bisa memeluk dan membenamkan kepalanya.
Kinaya kembali mendongakkan kepalanya dan mencoba meredakan kesedihan yang sama-sama dialaminya bersama sang suami.
__ADS_1
" Mas. " seru Kinaya.
" Emm. " balas Samuel.
" Mas. " serunya lagi.
" Jangan katakan hal itu lagi Nay. " balas Samuel yang masih memejamkan matanya dengan memeluk erat tubuh sang istri.
Samuel pun membuka matanya dan tersenyum ke arah Kinaya. Mengusap kepala sang istri lalu meninggalkan kecupan di bibir ranum Kinaya.
" Yaudah. Kita ke restoran saja yuk. Mas tidak mau membawamu kembali ke rumah Mama. Ayuk." seru Samuel menyematkan jemarinya ke jemari sang istri lalu melangkah keluar rumahnya.
Samuel mengeluarkan kunci mobil yang ada di saku celananya. Dia membuka pintu untuk sang istri dan kembali menutupnya setelah Kinaya sudah duduk dengan nyaman. Samuel Pun memutari mobilnya dan membuka pintu mobil yang ada di seberang pintu lainnya. Dia pun duduk dan memasangkan sabuk pengaman sang istri yang merupakan sesuatu kesenangan baginya, setelah itu dia memasanga sabuk pengaman untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Setelah beberapa menit akhirnya pasutri itu tiba di sebuah restoran terbesar di kota itu yang berhadapan langsung ke arah laut. Yah, itu adalah restoran milik Samuel sendiri. Dia sengaja membuat di tepi laut karena khusus untuk sang istri. Samuel duduk di meja yang hanya dia dan sang istri yang boleh menggunakannya. Ruangan itu terletak dilantai 7, lantai tertinggi restoran itu. Samuel pun membawa Kinaya melihat laut dari dinding kaca. Mereka berdiri dengan Samuel memeluk Kinaya dari belakang. Selagi menunggu pesanan tiba Samuel memanjakan dirinya dengan mengecup bibir sang istri sampai akhirnya pesanan pun tiba, Samuel pun menyudahi manjaannya bersama Kinaya.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1