
Hari demi hari terus berlalu. Tak terasa Reza sudah mulai bisa berjalan sedikit demi sedikit. Usia kandungan Kinaya sudah mulai memasuki usia 7 bulan. Semua cobaan yang datang di keluarganya mereka lalui dengan suka duka. Sebuah pertengkaran kecil biasa terjadi di dalam rumah tangga.
Seperti sekarang ini, entah kenapa semenjak kehamilan istrinya. Samuel mulai bisa memahami bahwa ibu hamil itu banyak maunya. Dirinya diharuskan untuk berusaha ekstra bersabar menghadapinya. Jika ingin aman maka angkat kepala dan tersenyum. Itulah kunci utama seorang suami bila berhadapan dengan ibu hamil.
Saat Kinaya hendak mengeluarkan titahnya dengan cepat Samuel melangkah dan menyiapkan segala keinginan sang istri.
Seperti itulah yang terjadi beberapa bulan belakangan ini.
Hari menunjukkan pukul 6 sore. Samuel baru pulang dari kantornya. Biasanya dia akan pulang pukul 4 sore. Karena pekerjaan yang menumpuk membuat Samuel terpaksa lembur.
"Sayang. Papa pulang. " lirih Kinaya kepada anaknya yang tengah berdiri di pinggiran sofa yang di duduki oleh Kinaya. Samuel pun menyusul mereka. Samuel mengambil Reza dan mendudukkannya di pangkuannya. Samuel duduk tepat di samping sang istri.
"Bagaimana, sayang? Kamu dan anak-anak baik-baik saja, kan? " tanya Samuel memberikan kecupan di kening Kinaya. Kinaya pun tersenyum dan mengambil punggung tangan Samuel untuk di ciumnya.
"Kami baik-baik saja, mas. Aukhhh. " tiba-tiba Kinaya meringis. Perutnya terasa di tendang. Ya, anak mereka yang ada di perut mulai aktif. Belakangan ini hal ini sering terjadi. Samuel pun terkejut dan mengusap perut sang istri.
"Kangen Papa ya. Kasihan Mamanya sayang. Nanti malam kita ketemuan ya. Sudah 3 hari Papa puasa loh. " ucap Samuel tersenyum kepada istrinya itu. Kinaya pun mencubit pinggang Samuel. Membuat pria itu terkekeh. Samuel pun mengusap sayang perut besar sang istri.
__ADS_1
"Besok waktu cek adek kan? " Samuel mematikannya.
"Iya mas. "
"Yaudah, kita ke kamar yuk. " ajak Samuel. Samuel pun membawa sang istri ke kamar yang ada di lantai bawah. Untuk sementara mereka akan tinggal di sana sampai akhirnya Kinaya lahiran dan di perbolehkan naik tangga lagi oleh Samuel.
"Biar mas saja yang siapkan semuanya. Kamu istirahat saja di kasur. " ucap Samuel saat melihat sang istri berjalan ke arah kamar mandi. Kinaya pun terdiam dan mengerucutkan bibirnya.
"Kamu terlihat semakin mengemaskan, Nay. Itu tidak mempan, okey. " ucap Samuel memberikan bertubi-tubi kecupan di wajah Kinaya saking gemesnya.
"Iya, iya ihhh." balas Kinaya mendorong dada Samuel agar menjauh darinya. Samuel pun terkekeh dan memberikan kecupan terakhir di bibir Kinaya.
"Apa kamu lapar, mas? " tanya Kinaya setelah berhasil menidurkan Reza di tempat tidur anak itu.
"Kemarilah. " Samuel malah memanggil sang istri agar bersandar di dada bidangnya. Kinaya pun tersenyum dan mengikuti arahan tangan suaminya. Mereka pun mulai bercerita seputar kehamilan. Semenjak kehamilan ini Kinaya biasanya akan tidur lebih cepat dari biasanya. Dan akan bangun nanti jam 8 atau 9 malam. Kinaya akan langsung membangunkan orang rumah untuk di buatkan makanan untuknya. Kinaya sebenarnya bisa menyiapkan semuanya sendiri. Hanya saja Samuel melarangnya. Dengan alasan sang istri tidak boleh capek-capek. Cukup ART yang menyiapkan semuanya.
"Aku ingin makan soto ayam banyakin kerupuknya. " pinta Kinaya.
__ADS_1
"Iya, sayang. Kamu tunggu sebentar lagi ya. Semuanya akan segera selesai dan di antarkan ke sini. " ucap Samuel.
"Aku mau makannya di dekat kolam renang. " rengek Kinaya yang berhasil membuat Samuel tidak berkutip lagi. Samuel pun mengangkat tubuh sang istri. Dan mendudukkannya di tempat yang di inginkan oleh sang istri.
Beberapa saat setelah itu. Kinaya akhirnya menghabiskan 2 mangkuk besar soto plus nasinya. Samuel hanya bisa tersenyum. Saat ini mereka tengah memandang langit malam di balik atap kaca yang sebelumnya di minta sang istri.
"Kita ke dalam yuk. Cuaca malam tidak cocok untukmu dan anak kita. " ucap Samuel mendekap erat sang istri kepelukannya.
"Aku mau di sini. " balas Kinaya manja. Samuel pun mengalah dan membiarkannya. Sampai akhirnya, Kinaya tertidur di pelukannya. Samuel pun mengangkat tubuh sang istri dan membawanya berbaring di kasur kingsize mereka.
"Have a nice dream, sayangku" lirih Samuel meninggalkan kecupan di kening Kinaya dan juga perut sang istri. Samuel pun membersihkan dirinya. Setelah itu, Samuel pun ikut tertidur di samping sang istri.
.
.
.
__ADS_1
TBC