
Samuel tiba dikantornya tepat waktu. Dia langsung disambut oleh para karyawan dan di balas anggukan oleh Samuel. Samuel pun langsung di ikuti oleh para asistennya dari belakang. Sedangkan Jordi temanya lebih memilih berdiri di samping Samuel. Samuel membiarkannya karena Samuel sudah dekat dengan dengannya. Salah satu asisten itu menekan tombol lift VIP untuk Samuel. Para asisten itu pun mundur lalu memberi hormat agar sang atasan bisa masuk kedalam. Mereka tidak ikut masuk karena lift itu khusus untuk orang terdekat presdirnya. Samuel pun masuk keruangannya setelah pintu lift terbuka dilantai 20. Jordi pun memberikan beberapa berkas yang tertumpuk untuk segera ditandatangani oleh Samuel.
" Kamu boleh memberikanku banyak berkas tapi usahakan siang nanti jadwal ku kosong Jos. Aku mau makan siang dengan istriku dan aku akan menjemputnya juga. Ingat itu!" seru Samuel penuh penekanan.
" Baik Sam. Kalau begitu akan aku atur jadwalmu nanti." balas Jordi.
Samuel tampak fokus dan telaten memeriksa semua berkas yang ada di depannya.
Satu persatu berkas selesai ditandatangani. Samuel melirik jam tangannya dan menunjukkan pukul 11 siang. Dia berdiri lalu mengancingkan jasnya. Dia mengambil ponsel disaku celananya lalu menakan
ID favorit di ponselnya, dia tersenyum melihat profil yang akan dipanggilnya itu. Lalu dia menelpon seseorang diseberang.
" Nay sayang. Mas akan mejemputmu sekarang." seru Samuel.
" Muachh." seru Samuel diterakhir panggilannya.
Samuel pun menutup ponselnya setelah orang yang diseberang memutuskan panggilannya mereka. Samuel tidak pernah mematikan panggillan telepon jika itu dari Kinaya. Dia akan menunggu Kinaya terlebih dahulu untuk mematikan barulah dia menutup ponselnya lagi.
Kini Samuel tengah mengendarai mobilnya, memecahkan jalanan dengan kecepatan rata-rata.
__ADS_1
Bebeberapa menit kemudian akhirnya Samuel tiba di rumah orangtuanya. Dia langsung masuk ke kamarnya. Dia tersenyum melihat sang istri tengah menyisir rambutnya. Dia pun mendekati sang istri lalu memeluknya dari belakang.
" Kenapa kamu secantik ini Nay? Mas senang liatnya." seru Samuel.
" Apa! Terus kalau aku udah tua dan tidak cantik lagi maka mas tidak akan senang huh." Seru Kinaya berkacak pinggang dengan suara sedikit berteriak.
" Eh bukan gitu Nay. Mana bisa mas tidak senang denganmu Nay sayang." seru Samuel menenangkan Kinaya.
" Hug, aku malas pergi. Pergi sendiri sana."seru Kinaya kesal.
" Loh...Kok jadi begini sih! Tadinya kan aku hanya ingin memujinya tapi kenapa malah marah begini sih? " gumam Samuel dalam hatinya mengaruk kepala yang tidak gatal.
" Maafkan mas Nay. Mas cuman bercanda saja kok. Kenapa marah begini sih? " seru Samuel mencoba membujuk Kinaya.
"Tapi mas sudah berencana mengajak kamu makan diluar Nay." seru Samuel.
"Yaudah. Kalau begitu pergi aja sendirian sana." Kinaya cuek.
" Yah...Batal rencana gue untuk ngajak dia makan diluar." gumam Samuel dalam hatinya.
__ADS_1
" Tapi Nay. Mas lapar." rengek Samuel manja.
"Emang kamu aja yang lapar mas. Aku juga lapar. Kali ini mas bikinin aku makanan. Titik." seru Kinaya.
" Baiklah. Tapi jangan marah lagi yahh."
"Tergantung masakannya." balas Kinaya datar.
" Baiklah. Kamu pegang perkataanmu ya Nay sayang." seru Samuel mencubit lembut hidung Kinaya.
Samuel pun pergi kedapur. Sebelum itu dia membuka jasnya dan melipat lengan kemejanya sampai ke siku. Samuel tampak senang melakukannya karena ini khusus untuk istrinya seorang. Beberapa menit kemudian Samuel selesai dengan masakannya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.