
Mandi tepat di bawah shower. Menyibakkan rambutnya ke belakang kepalanya. James mengambil sampo untuk kepalanya. Setelah itu membilas busanya dengan air yang menurun tersebut. Ia beri sabun mandi ke tubuhnya secara menyeluruh dan lanjut menyiram tubuhnya dengan air shower.
Setelah selesai membersihkan dirinya James pun bersiap-siap memakai jasnya. Hari ini adalah hari dimana ia akan mengajukan permohonan untuk kerja sama dengan perusahaan Malaka. Dari pemberitahuan oleh Asistennya James akanย bertemu dengan Samuel di jam 10 pagi nanti.
James pun pergi ke kamar hotel yang bersebelahan dengan kamarnya. Ya, James memesan satu kamar lagi untuk dirinya karena kamarnya yang sebelumnya di tempati oleh Diana. Tadi malam Diana meminta kepada James untuk mengizinkan dia tidur di sana. James tidak menolak. Tapi, sebagai gantinya Diana harus membantunya untuk mencari tahu tentang dosennya yang bernama pak Jimmy.
James mengetuk pintu kamar hotel Diana. Beberapa saat setelah itu namun James tidak kunjung juga mendapati sahutan dari dalam. James pun lewat dari pintu penghubung yang ada di kamarnya. Ketika ia sudah berada di dalam kamar Diana James terlihat menelan air ludahnya sendiri karena di depannya sekarang terdapat wanita cantik dengan rambutnya yang terjuntai sampai ke bahunya. Wanita itu tidak melihat ke arahnya. Ia membelakangi James hanya dengan menggunakan handuk kimono hotel berwarna putih polos. Terlihat wanita itu seperti mencari sesuatu di sana.
Tanpa sadar James bergumam di dalam hatinya. Cantik sekali.
Diana yang sudah menemukan apa yang ia cari, dia pun membalikkan badannya. Diana pun melihat James yang sedang memelototinya tanpa berkedip sedikit pun. Tanpa sadar Diana berteriak lalu mengambil vas bunga yang ada di sampingnya lalu melemparkannya ke James hingga menimbulkan warna kemerahan di kening pria itu.
~~
"Apa masih sakit? " tanya Diana meniup kening James. Diana sudah memakai pakaiannya. Dan juga mengerikan rambutnya.
"Emm. Kamu menakutkan sekali. " seru James.
"Habisnya kamu berdiri di situ. Ngapain juga kamu di sini. " seru Diana.
"Aku datang untuk mengatakan bahwa hari ini aku tidak bisa menemanimu. Aku ada urusan penting di luar. " ucap James.
"Yaudah. Kamu pergi saja. Kenapa juga izin dulu sama aku. " seru Diana.
"Mana tahu kamu cariin aku nanti. " ucap James di bumbui oleh gelakan di bibirnya.
Diana menatap tidak percaya kepada James. " Huh, masih banyak lagi yang harus aku sibukkan. Untuk apa juga aku cariin kamu. "ย ucap Diana.
"Yaudah, aku pergi dulu. Ini aku ada kartu rekening. Jika kamu butuh sesuatu kamu pakai saja kartu ini. Kamu tidak perlu sungkan untuk menggunakannya. " seru James.
"Tidak mau. Aku akan di hotel saja. Tapi, aku boleh pesan makanan di sini kan? " tanya Diana.
"Boleh. Tapi, apa kamu yakin tidak mau kartu ini. Aku masih ada satu lagi kok. " seru James.
"Tidak apa-apa. Aku akan cari kerjaan dan nanti akan mengganti semua uang kamu yang aku pakai. " seru Diana. James pun memutar otaknya.
"Kamu mau kerja apa? " tanya James.
"Entahlah. Aku masih mencarinya. " jawab Diana. James pun tersenyum tanpa di sadari oleh Diana.
"Bagaimana kalau kamu jadi sekretaris ku saja. Aku juga tidak ada sekretaris sekarang. Kalau kamu mau kita bisa pergi sekarang. " ucap James. Diana terlihat antusias dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah ... Tapi, aku tidak ada seragam untuk menemani kamu sekarang. " seru Diana yang tiba-tiba memelas.
"Kamu tenang saja. Kita pergi berbelanja sekarang juga. " saat itulah wajah Diana terlihat lebih masam lagi. Membuat James bingung.
"Kenapa! Bukankah masalahnya sudah kelar. Sekarang kita akan pergi ke Mall dan langsung pergi ke kantor. " seru James.
"Tapi aku tidak pandai memilih pakaian. Kamu bantu aku, oke. " balas Diana dengan wajah memelas membuat James gemes. James hanya bisa memalingkan wajahnya dari Diana. Agar tidak melakukan sesuatu yang membuat gadis itu membencinya.
"Baiklah. Kalau begitu cepat ikuti aku. Kita tidak punya banyak waktu. " ucap James yang melangkahkan kakinya duluan karena tidak tahan melihat Diana yang sangat Menggemaskan.
Gadis ini sangat mengemaskan. Aku tidak tahan jika terus melihat wajahnya itu. Aku bisa gila bila terus menerus ada di dekatnya. Gumam James yang sudah merona. Langkah kakinya saja sudah sangat cepat. Membuat Diana terburu-buru untuk menyusulnya.
Setibanya di Mall James langsung memilihkan pakaian kerja untuk Diana. James memilihkan Pencil Skirt warna hitam dengan blazer warna biru laut.
Diana langsung mencobanya. Setelah beberapa saat Diana pun keluar dari ruang ganti pakaian. James menatap Diana tanpa berkedip. Diana sampai malu sendiri ketika tahu James terpana melihatnya. Entah bagaimana dirinya saat ini di pandangan pria itu pikir Diana.
Di dalam hatinya James berkata Cantiknya.
"Bagaimana! Apa aku cocok memakainya? " tanya Diana setelah lama menunggu respon James.
James pun tersadar lalu berdiri dari duduknya.
"Emm. Bagus kok. Sekarang ikut aku. Aku sudah menyelesaikan pembayarannya. Kita harus tiba tepat waktu ke kantor. Ini adalah klien penting. Kita tidak boleh membuat kesalahan kali ini. " ucap James. James keluar dari toko terlebih dahulu. Lagi-lagi tidak mau Diana tahu kalau dirinya sedang merona sekarang.
"Samuel Malaka Wijaya. CEO terkenal negeri ini. Dia adalah panutan ku. Dia sukses di usianya yang masih muda. Aku saat itu masih bergantung kepada ayahku dan dia bahkan sudah punya perusahaan sendiri di usianya yang masih muda. Dia patut di jadikan idola negri ini. Benarkan? " seru James. Diana mematung setelah tahu siapa klien James sebenarnya. Diana mematung di tempatnya.
"Hei! Apa yang terjadi? Kenapa kamu diam di sini. Ini adalah kerja sama yang harus aku selesaikan secepatnya. Jangan sampai kerja sama ini gagal. Kamu paham? " tanya James.
Benar. Aku tidak boleh membuat kesalahan kali ini. Dia sudah banyak membantuku. Aku harus membuat kerja sama ini berjalan lancar. Gumam Diana.
"Baiklah. Ayuk. " ucap Diana. James pun tersenyum dan mereka pun langsung pergi ke kantor Samuel.
Di kantornya Samuel terlihat serius memeriksa dokumen hasil kerja karyawannya. Setelah selesai, Samuel pun menandatangani dokumen di depannya tersebut karena menurutnya dokumen itu sudah bisa di tindak lanjutkan.
Samuel terlihat menyandarkan tubuhnya ke sofa yang ada di ruangan itu. Beberapa Saat setelah itu Samuel terlihat bangun lalu melihat ponselnya yang berdering. Samuel mendapatkan VC dari istrinya. Seketika senyuman mengembang di bibirnya. Samuel langsung mengeser tanda yang berwarna hijau. Dan ia langsung di suguhkan oleh wajah sang istri.
"Ada apa, Nay ? Apa kamu butuh sesuatu? " tanya Samuel.
"Emm. Apa aku boleh minta tolong untuk membelikan minyak kayu putih untuk Reza. Minyaknya tinggal sedikit lagi. " ucap Kinaya.
"Baiklah. Nanti saat pulang mas belikan. " ucap Samuel.
__ADS_1
"Oh iya mas. Temanku Wulan akan datang ke rumah siang nanti. Tidak apa-apakan? " tanya Kinaya.
"Itu adalah rumahmu. Lakukanlah apapunย yang kamu inginkan. Asal jangan seorang pria. " seru Samuel dengan senyuman di bibirnya. Penuh kehangatan.
"Iya mas. Aku paham. Kalau begitu aku tutup dulu yah. " ucap Kinaya. Samuel pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Panggilan pun terputus. Beberapa saat setelah itu ruang kerja Samuel di ketuk oleh seseorang. Samuel pun mempersilahkan nya masuk karena ia tahu itu adalah asistennya Hiro.
"Maaf, Tuan. Tuan James Tarakan sudah tiba. Beliau sedang menunggu di ruang tamu. " ucap Hiro. Terlihat Samuel berdiri.
"Baiklah. Kita temui dirinya. " seru Samuel yang langsung mengambil jasnya. Samuel pun melangkahkan kakinya ke ruang tamu yang sudah berada James dan Diana di sana. James dan Diana terlihat gugup. Disisi James, dia gugup karena akan bertemu dengan panutan sekaligus CEO terkenal negeri ini. Disisi Diana, dia gugup karena akan bertemu dengan dengan sosok yang di benci oleh kakaknya. Pria yang sudah dari dulu bertentangan dengan Samuel. Hanya untuk mendapatkan hati seorang wanita yaitu, Kinaya Larasati Sanjaya.
Setibanya di ruang tamu Samuel langsung duduk di kursi yang sudah di siapkan untuknya. Sedangkan James dan Diana duduk di kursi yang ada di depannya. Diana terlihat menundukkan kepalanya. Takut bertatapan dengan Samuel.
"Selamat pagi, senang bisa bekerja sama dengan perusah Tarakan. Apa kita bisa langsung membahas kerja samanya. Waktu saya sangat padat hari ini. " ucap Samuel dengan wajah datarnya. Tanpa sengaja Samuel menatap wajah Diana. Samuel langsung menatap Diana. Tidak percaya dengan apa yang telah ia lihat.
"Kamu. Bukankah kamu adik pria itu? " tanya Samuel bingung. James pun menatap Diana dan Samuel bergantian. Ikut bingung. Apalagi dengan situasi sekarang. Situasi yang tidak tepat menurutnya.
"Apa Tuan kenal dengan sekretaris saya? " tanya James.
"Dia adalah adik musuhku. " ucap Samuel yang membuat James terkejut. Di kepala James sudah berlarian pikiran-pikiran bahwa kerja sama ini pasti tidak akan berjalan lancar.
.
.
.
.
.
Bersambung.
IG : gx_shi7
Terima kasih ๐๐
Jangan lupa dukungannya yah kesayangan. Aku pada kalian ๐๐๐
By : Nadila Sizy
__ADS_1
#Kinaya&Samuel_LFR