Belenggu Seorang Istri

Belenggu Seorang Istri
Nonton


__ADS_3

Dari kejauhan Roy melihat Kinaya dan Samuel berpelukan dengan senyuman yang sulit di artikan dari pasangan itu. Hati Roy teriris melihat keromantisan pasangan di depannya. Pemandangan yang tidak ingin dia lihat setelah cukup lama mencintai wanita yang sudah menjadi istri orang. Wanita yang dia cintai berpelukan dengan laki-laki lain. Butuh kekuatan untuk melihat fakta sebenarnya  dengan mata sendiri. Hatinya seolah memberontak untuk menyuruh batinnya memisahkan pelukan hangat pasangan tersebut. Namun, apalah dayanya. Dia bukanlah siapa-siapa. Bahkan keberadaannya mungkin tidak di inginkan sama sekali. Tapi, melihat senyuman di bibir wanita itu hatinya ikut bahagia. Rasa sakit di hatinya sedikit berkurang melihat senyum mekar itu. Walau dia tahu kedepannya senyuman itu tidak mungkin  ditujukan untuknya.


"Aku ikut senang melihatmu bahagia Kinaya. Tapi kenapa kamu tidak pernah seperti itu padaku. Semuanya bahkan sudah aku lakukan untukmu. " Senyum getir menatap pasangan yang berbahagia tersebut. "Aku harap kamu bisa hidup bahagia bersamanya. Tapi ... apa kita masih bisa bertemu lagi? " Menatap wajah Kinaya. " Aku akan mencoba ikhlas dan izinkanlah aku menjadi kakakmu. Aku akan mencoba belajar menyayangimu sebagai adikku.  Semua ini akan aku lakukan agar aku bisa terus di dekatmu dan mencoba menghilangkan rasa cinta ini. " seru Roy pelan. Roy maju beberapa langkah dan mencoba mendekati Kinaya. Namun, langkahnya terhenti karena Kinaya dan Samuel sudah masuk duluan ke dalam rumah sakit.


Roy mengurungkan niatnya untuk menemui Kinaya. Asistennya pun mendekat dengan memegang ipad di tangannya.


"Maaf Tuan. Besok kita ada meeting di Singapura dengan beberapa klien. Apa saya batalkan saja meeting nya? " tanya Dimas asisten Roy. Roy terlihat berpikir.


"Tidak perlu. Siapkanlah semuanya. Kamu siapkanlah penerbangan saya. Kita akan berangkat hari ini juga. " jelas Roy. Roy pun menatap ke arah pintu masuk rumah sakit dengan tatapan yang sulit di artikan. Lalu dia pun melangkah keluar dari rumah sakit tersebut.


Cinta tak harus memiliki ...


Cintailah dia dengan membuat hidupnya bahagia, meski itu bukan bersamamu ...


Cobalah belajar untuk menerima kenyataan ...


Belajarlah menghargai dan mencintai orang  yang ada di dekatmu ...


Karena cinta mereka akan sangat berarti untuk kamu di masa depan ...


Cinta butuh waktu dan cintamu mungkin akan berubah terhadapnya di masa depan ...


Cinta akan  menghilangkan rasa sakit ...


Cinta adalah segala-galanya ...


------------------------------------


Di bandara Roy sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Singapura. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Sebentar lagi dia akan segera pergi. Tatapan matanya terlihat pancaran aneh. Tatapan sendu membayangkan seseorang dan tiba-tiba tatapan itu berubah dengan sebuah senyuman. Senyuman untuk tetap semangat menjalani kehidupan yang baru. Sebuah keyakinan di dalam hatinya untuk melupakan masa lalunya. Mungkin, semua ini sudah semestinya terjadi dan kita hanya bisa menerimanya pikir Roy. Selang tidak lama Roy menerima telepon dari seberang.

__ADS_1


"Hallo Diana. Maaf kakak harus pergi sekarang. Minggu depan kakak akan balik ke ibukota. " jelas Roy.


"Kakak mau kemana lagi. Baru beberapa hari kakak pulang dan sekarang kakak pergi lagi. " Memelas. Tidak rela pergi lagi darinya. Diana sudah lama merindukan kakaknya itu dan baru beberapa hari Roy pulang dan sekarang malah pergi lagi meninggalkannya.


Roy terlihat berpikir. Dia sepertinya sudah lama tidak bersama dengan adiknya itu. Dan terus sibuk kerja. Tambah lagi selalu memikirkan keadaan Kinaya. Bahkan dia sudah jarang memanjakan adiknya itu. Apa aku suruh dia ikut ke Singapura. Tapi bagaimana jika dia bosan di sini karena aku sibuk kerja pikir Roy.


Roy pun memutuskan untuk membagi  waktunya agar bisa mengajak adiknya jalan-jalan. Dan secepatnya menyelesaikan pekerjaannya.


"Bagaimana kalau besok kamu susul kakak ke singapore. Kakak akan mengajak mu jalan-jalan di sini. Tapi, kakak tidak bisa seharian menemani kamu. Tidak apa-apakan? " Seru Roy.


"Benarkah kak. Baiklah. Aku akan menemui kakak ketika aku sudah sampai di sana. Sampai jumpa besok kak. " balas Diana senang.


Panggilan telepon terpuruk setelah Roy mengiyakan permintaan adiknya. Asistennya pun mendekat dan mereka pun lanjut masuk ke dalam pesawat.


----------------------------------


Di rumah sakit Kinaya sudah tidak betah berlama-lamaan. Dia selalu merengek untuk di bawa pulang ke rumahnya. Awalnya Samuel tidak menyetujuinya namun dokter pun memperbolehkan Kinaya istirahat di rumah dengan syarat Kinaya tidak boleh terlalu lelah. Dia harus banyak istirahat karena keadaanya masih belum sembuh total.


"Baik dok. Terima kasih karena sudah mengizinkan saya istirahat di rumah. " balas Kinaya tersenyum.


Dokter pun pamit setelah menyelesaikan pemeriksaan kesehatan Kinaya. Samuel mendekati Kinaya dan duduk di samping istrinya.


"Ingat. Kamu harus menuruti semua perkataan mas. Tidak boleh membantah. Apapun yang kamu lakukan harus dapat izin dari mas dulu. Kalau tidak mas akan mengurung mu di dalam kamar seharian. " jelas Samuel mengelus pipi Kinaya lembut. Meninggalkan kecupan di kening istrinya.


Setelah menyelesaikan pembayaran administrasi rumah sakit. Samuel membawa Kinaya pulang. Samuel dengan hati-hati memapah Kinaya menuju mobil mereka. Setiba di dekat mobil, pintu mobil langsung di bukakan oleh pengawalnya. Meski Kinaya sudah aman di dekatnya Samuel tetap menyuruh pengawalnya untuk mengawasi apapun yang berhubungan dengan istrinya.


Samuel bahkan menguji terlebih dahulu makanan yang akan di makan oleh istrinya. Samuel tidak mau kesalahan yang sama terjadi lagi kepada istrinya.


Di dalam mobil Kinaya bersandar di dada Samuel. Kinaya mengelus-elus dada Samuel seolah menginginkan sesuatu dari suaminya. Namun, dia tidak berani untuk mengatakannya secara langsung pada suaminya tersebut. Samuel yang melihat gerak-gerik Kinaya langsung paham dengan tingkah istrinya tersebut. Samuel tersenyum dan memegang dagu Kinaya agar mata mereka bertatapan.

__ADS_1


"Kenapa ? Apa kamu mau sesuatu? Katakanlah. " Mencium lembut bibir Kinaya. Mengelus pipi Kinaya lembut.


"Apa mas ada waktu? " tanya Kinaya mendongakkan kepalanya menatap Samuel.


"Waktu mas banyak untukmu, Nay. Apapun akan mas lakukan agar kamu merasa puas. Kamu mau apa hem? " ******* bibir Kinaya. Memegang tengkuk istrinya agar memperdalam ciumannya.


"Emm ... kita pergi nonton film yuk mas. Udah lama kita nggak nonton bareng lagi. " pinta Kinaya.


"Tidak Nay. Kamu masih sakit dan perlu waktu untuk istirahat total. Mas tidak mau kamu sakit lagi. " Menolak mentah-mentah permintaan istrinya.


"Tapi mas. Habis nonton aku akan istirahat seharian di kamar. Boleh ya mas? " pintanya lagi. Samuel tidak mengubrisnya. Kinaya pun diam dan cemberut sambil meletakkan kepalanya di dada Samuel. Menatap penepian jalan.


Di dalam perjalanan pulang Kinaya hanya diam. Bersandar di dada Samuel dengan wajah memelas. Kinaya tidak mau melawan perkataan suaminya lagi. Samuel yang melihat istrinya seperti itu membuatnya kalah. Samuel pun mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan pesan kepada Jordi.


"Baiklah. Kita akan nonton film tapi kamu harus menikmati semua yang telah mas siapkan untuk kita nonton di sana. Tidak boleh menolak apa yang sudah mas atur. " seru Samuel memegang dagu Kinaya agar mereka bertatapan.


"Makasih mas. " Kinaya bahagia dan memberikan kecupan di pipi Samuel. Samuel terkejut dan membalas berkali-kali kecupan di pipi dan bibir istrinya.


"Ahh. Iya, iya. Udah mas." Membenamkan wajahnya di dada Samuel agar suaminya itu berhenti memberikan kecupannya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2