
Happy Reading readers 🌼🌼🌼
Jangan lupa like dan komentarnya ya🌻🌻🌻
Terima kasih 🌸🌸🌸
••••
Tangisan masih terdengar di telinga Samuel. Samuel sendiri masih menenangkan istrinya itu. Mengusap lembut punggung Kinaya. Sesekali mencium kepala sang istri.
"Sudah ya. Mas tidak mau kamu seperti ini. Oh iya, mas sudah membelikan telur puyuh yang kamu pesan loh. Telurnya ada di dapur. Apa mau mas bawakan ke sini? " Samuel menangkap pipi chubby Kinaya. Menatapnya dengan penuh kehangatan. Kinaya pun menatap Samuel dengan cegukan di bibirnya. Samuel tersenyum lalu memberikan kecupan di bibir mungil sang istri.
"Sudah ya. Jangan menangis lagi. Mas tidak mau melihatnya. " Samuel tersenyum. Kinaya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Apa kita bisa mengembangbiakkan puyuh nya sekarang? " goda Samuel. Kinaya pun langsung mendaratkan pukulan di dada Samuel.
"Apaan sih, mas. Aku hanya mau memakannya. Siapa juga yang mau pelihara burung puyuh. " gerutu Kinaya yang di sambut senyuman di bibir Samuel.
"Yasudah. Kalau begitu, kita ke dapur sekarang. Ayuk. " ajak Samuel. Tiba-tiba langkah mereka terhenti karena tangisan Reza. Mereka pun membalikkan badan. Lalu menghampiri Reza di box bayi.
"Biar mas yang mengendongnya. " Samuel duluan melangkahkan kakinya di depan Kinaya.
"Uluhuluh. Anak Papa. Kangen Papa, Nak? " tanya Samuel. Reza hanya menanggapi dengan sentuhan di pipi Samuel. Anak itu tersenyum ketika melihat Samuel tersenyum padanya.
"Ternyata benar. Dia kangen mas, Nay. Dia kangen mas. "Samuel antusias. Kinaya hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Lihat nih, Nay. Dia tersenyum pada mas. " Samuel terlihat lebih semangat.
"Iya, iya. Aku turun duluan. " Kinaya geleng-geleng kepala melihat tingkah Samuel.
Samuel pun tersenyum dan mengikuti istrinya tersebut. "Tunggu sebentar, Nay sayang. "
•••
Setibanya di dapur. Kinaya langsung mengambil bungkusan telur puyuh yang di belikan oleh Samuel. Kinaya terkejut bukan main. Samuel membuktikan bahwa ia akan membeli 500 telur puyuh nya. Kinaya pikir itu hanya candaan saja.
"Astaga mas. Ini terlalu banyak. Aku tidak kuat memakannya. " Kinaya geleng-geleng kepala. Samuel pun tersenyum dan menghampiri istrinya itu.
"Biarkan saja. Kan masih bisa di simpan di dalam lemari es. Atau kamu bisa memakannya untuk besok. " Samuel mengusap lembut kepala Kinaya.
"Baiklah. Kalau begitu aku mencucinya dulu. "
Setelah beberapa saat saat akhirnya Kinaya sudah selesai merebus telur puyuh itu. Dan sudah bisa langsung di makan. Kinaya membawanya ke sofa yang ada di taman. Samuel pun mengikuti istrinya tersebut dengan Reza di pangkuannya.
"Apa mas mau? " tanya Kinaya menyodorkan telur puyuh ke arah Samuel. Samuel tersenyum lalu membuka mulutnya.
Tiba-tiba ide jail ada di pikiran Kinaya.
"Aaa. Hup. " Kinaya malah memasukkan ke dalam mulutnya sendiri. Membuat Samuel mengedipkan matanya, tidak percaya terhadap apa yang dilakukan oleh Kinaya. Samuel pun mengerucutkan bibirnya.
"Tadi ingin membaginya untuk mas. Tapi, malah di makan sendiri. "Â Samuel cemberut. Kinaya pun tertawa.
"Yaelah mas. Itu aja cemberut. Nih. " Kinaya kembali memberikan telur itu.
"Yakin nih. Nanti malah di kerjain lagi. "
__ADS_1
"Iya. Ayo di buka mulutnya. " Kinaya terlihat serius. Membuat Samuel membuka mulutnya. Dan lagi-lagi Kinaya mengerjai Samuel. Membuat pria itu memalingkan wajahnya.
"Mas tidak mau lagi. Mas ngambek kali ini. " memalingkan wajahnya dari Kinaya.
"Ciyeee. Ngambek. Yaudah, sekarang aku serius. Ini mas. " Kinaya mencoba membalikkan badan Samuel tapi Samuel tidak berpaling sedikit pun. Samuel malah sibuk dengan Reza. Samuel hendak berdiri namun Kinaya menahan tangan Samuel.
"Mas mau kemana? " tanya Kinaya.
"Tidak tahu. " jawab Samuel datar. Kinaya tersenyum melihat Samuel kesal.
"Aku di tinggal sendiri di sini! " Kinaya berusaha mencari perhatian suaminya. Samuel tidak menjawab. Malah berlenggang pergi. Kinaya pun tidak punya pilihan lagi. Kini ikut berdiri. Lalu menghadang jalan Samuel. Kecupan lembut pun mendarat di bibir Samuel.
"Jangan marah ya. Aku kan hanya bercanda saja tadi. " berusaha membujuk suaminya. Samuel hanya menatap datar Kinaya. Lalu kembali berjalan ke depan. Meninggalkan Kinaya sendirian. Kinaya pun menghela napasnya.
"Jangan tinggalkan aku. "Kinaya memeluk Samuel dari belakang. Samuel pun tersenyum, tanpa di sadari oleh Kinaya. Kinaya menempelkan kepalanya bagian samping ke punggung Samuel.
"Aku kan hanya bercanda saja, mas. Jangan marah ya. " Kinaya berjalan ke depan. Menatap suaminya itu. Menatap wajah Samuel. Samuel hanya menatap datar ke arah Kinaya. Kinaya pun kembali mencium bibir Samuel. Kalu ini dengan waktu yang lama. Samuel pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Samuel menahan pinggang Kinaya dengan satu tangannya dan satu tangannya lagi mengendong Reza.
Hah.
Kinaya mulai kehilangan nafasnya.
"Tidak marah lagi kan? " tanya Kinaya. Samuel pun tersenyum dan mengelengkan kepalanya.
"Serius. Tidak ngambek lagi kan? " tanya Kinaya. Samuel pun memberikan kecupan lembut di bibir Kinaya. Kinaya pun tersenyum lalu menuntun Samuel kembali duduk di sofa lagi.
"Ini. Aku tidak bercanda lagi. " Samuel memicingkan matanya. Meragukan niatan Kinaya.
"Aku serius. Nih. " Kinaya kembali menyodorkan telur puyuh ke mulut Samuel.
Hup.
1 piring telur puyuh kandas di mulut Kinaya. Samuel sampai membulatkan matanya. Tidak percaya dengan apa yang telah dia lihat.
"Ahhh. Kenyang mas. Makasih ya. " ucap Kinaya menoleh ke arah Samuel. Samuel pun tersenyum lalu mengusap kepala Kinaya.
"Reza udah tidur mas. Biarkan aku baringkan dia di kamar. " ucap Kinaya.
"Tidak usah. Kita sama-sama ke dalam yuk. " ajak Samuel. Kinaya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
•••
Di tempat lain. Diana terlihat sibuk menyiapkan berkas-berkas yang di butuhkan oleh James. Pria itu sendiri terlihat fokus memeriksa dokumen kerjasamanya dengan perusahaan Malaka Group.Â
Ya, karena kerja sama ini sangat penting bagi James. Dia harus segera memberi tahukan kepada kakeknya bahwa dia berhasil melewati tantangan yang di berikan oleh kakeknya itu. Sehingga dia tidak perlu lagi di desak oleh kakeknya untuk menikah dengan wanita yang tidak dia cintai. James pun menatap ke arah Diana. Entah kenapa, James merasa nyaman dengan kehadiran Diana saat ini. Dia merasa bahagia bila ada gadis itu di sampingnya. Perasaan apakah itu. James pun tidak tahu. Tapi, jantungnya selalu bergetar tak menentu bila ada di samping Diana. James sendiri sekarang tidak sadar bahwa ada senyuman di bibirnya. Bahkan, saat Diana memanggilnya pria itu tidak menyahut sedikit pun.
"Apa kamu baik-baik saja? " tanya Diana.
"Hallo, Tuan. Apa kamu baik-baik saja? " Diana sudah ada di depannya. Menggoyangkan tangannya di wajah James. Tapi pria itu tak mengubrisnya.
Aku rasa dia tidak akan sadar bila aku tidak mencubit nya.Â
"Auuh. Apa yang kamu lakukan? " James mengusap lengannya yang habis di cubit Diana. Diana sampai takut melihat wajah dingin James. Diana pun menundukkan kepalanya. Tidak mau bersitatap dengan James. James pun tersadar lalu menghela napasnya.
"Maafkan aku. Aku tidak sengaja. " ucap James.
__ADS_1
"Apa kamu sudah makan? " tanya James. Diana pun mengelengkan kepalanya. Melihat itu membuat James tersenyum.
Imutnya. Sungguh mengemaskan gadis ini. Gumam James.
"Yaudah. Kamu ikut aku. Kita akan makan siang bersama. " ajak James.
"Kamu yang bayar. " lirih Diana. James pun menghentikan langkahnya. Tanpa membalikkan badannya ke belakang. Lalu tersenyum mendengar lirihan Diana.
"Baiklah. Ayuk. " ucap James yang langsung berlenggang keluar dari kantornya. Diana pun mengikuti langkah James. Tiba-tiba Diana membentur sesuatu yang kekar. Membuat dirinya mengiris.
"Ahhh. Kenapa kamu tiba-tiba saja berhenti? Sakit tahu. " Diana mengusap keningnya. James pun membalikkan badannya. Khawatir dengan Diana.
"Maaf. Apa itu sakit? " tanya James khawatir.
Blush.
Wajah Diana memerah. Karena posisi James saat ini sangat dekat dengannya. Bahkan pria itu saat ini tengah mengusap keningnya. Dan sesekali meniup kening Diana.
"Apa masih sakit? Apa perlu kita ke rumah sakit juga? " tanya James. Terlihat raut wajah Khawatirnya.
"Apaan sih. Tidak sampai segitunya kali. Aku tidak apa-apa kok. " Diana menjauh dari James. Tidak tahan ada di dekat James. Entah kenapa saat ini jantung Diana berdegup sangat kencang. Tidak seperti biasanya.
"Kamu yakin? " tanya James.
"Iya. Yaudah, kita langsung pergi saja. " Diana sudah duluan berjalan keluar.
"Emm. Apa kamu tahu tempat makan yang enak di sini? " tanya James mengikuti langkah Diana yang begitu cepat.
"Emm. Aku tahu. " jawab Diana.
"Kalau begitu, ayuk kita kesana. "
.
.
.
.
.
Bersambung.
INGAT! SIMBIOSIS MUTUALISME 😊
IG : gx_shi7
Ikuti IG ku yah. Di sini akan ada Visual - visual para pameran novel ku. Dan nanti boleh bertanya-tanya seputar Update novel kesayangan kalian.
Terima kasih 😊😊
Jangan lupa dukungannya yah kesayangan. Aku pada kalian 😚😙😙
__ADS_1
By : Nadila Sizy
#Kinaya&Samuel_LFR