
Samuel terlihat fokus di ruang kerjanya. Dia lihat jam di hpnya lalu berdiri. Dia menutup berkas yang dia pegang dan berlenggang keluar. Dia masuk ke kamarnya dan melihat Kinaya yang masih tidur nyenyak. Samuel pun mengoyang pipi Kinaya pelan-pelan dan Kinaya pun terlihat mengeliat dan perlahan membuka matanya melihat sang suami yang tengah tersenyum padanya. Dia pun kembali tidur namun menjadikan paha sang suami sebagai bantal di kepalanya. Sungguh hal yang sangat disukai Kinaya belakangan ini. Entah kenapa dia biasanya tidak pernah bermanja dengan Samuel seperti sekarang ini. Biasanya Samuel lah yang sering memperlakukannya seperti itu.
Samuel bingung dengan tingkah sang istri. Tidak bisanya Nay - nya seperti ini. Dia mencoba menempelkan punggung tangannya di kening Kinaya dan terlihat kening Samuel berkerut karena Kinaya baik-baik saja, tidak panas sedikit pun, normal seperti biasanya. Dia bahkan membandingkan suhu tubuh istrinya dengan suhu tubuhnya sendiri. Samuel tidak merasakan perbedaan sedikit pun. Samuel pun geleng-geleng kepala sendiri karena membandingkan suhu tubuhnya dengan suhu tubuh sang istri karena menurutnya suhu seseorang berbeda-beda tergantung kulit pemilik tubuh itu sendiri. Samuel pun menelpon seseorang diseberang.
" Yah. Kerumah saya sekarang juga karena istri saya ada urusan mendadak pagi tadi. "seru Samuel.
Kinaya pun membuka matanya mendengar sang suami yang sepertinya sedang membicarakannya dengan orang di seberang. Kinaya pun bangun dari tidurnya dan duduk di samping sang suami.
" Kamu ada urusan apa mas sampai mengungkit tentang diriku?" tanya Kinaya.
" Ini tentang kamu yang mencoba lari dari pemeriksaan rumah sakit hari ini. Mas menyuruh dia datang kesini karena kamu membatalkan pertemuan kita dengan doktermu itu. Sekarang kamu mandilah karena nanti malam dokternya akan datang. " Balas Samuel yang sudah berdiri dan berpindah duduk di sofa dekat kamarnya.
" Aku bukannya lari mas. Tapi membantu teman ku yang sedang butuh bantuanku. Hug. " Kinaya tidak terima perkataan suaminya karena dia melakukan itu hanya karena membantu temannya yang habis kecelakaan.
Samuel tidak mempedulikan perkataan Kinaya dan sibuk mengotak-atik ponselnya. Kinaya pun semakin kesal, dia pun mengambil handuk kimononya di lemari pakaian dan mendorong pintu lemari dengan keras membuat sedikit kebisingan di kamar itu. Kinaya bahkan menutup pintu kamar mandi dengan keras. Samuel hanya bisa menghela napas karena tidak tahu harus bagaimana meyakinkan istrinya bahwa Laras bukanlah orang baik-baik dan mesti di jauhi segera.
Setelah selesai mandi Kinaya dengan langkah pelan keluar dari kamar mandi. Dia melihat Samuel yang masih sibuk dengan ponselnya. Kinaya pun pergi ke lemari pakaian dan menganti pakaiannya di sebuah ruangan khusus untuk ganti baju. Setelah selesai dia pun pergi ke dapur untuk membuat makan malam untuk sang suami. Kinaya membuat beberapa makanan kesukaan sang suami. Setelah selesai Kinaya masuk ke kamarnya lagi dan mengajak Samuel untuk makan bersama.
" Mas. Makan yuk. " seru Kinaya berdiri di depan Samuel. Samuel pun mendongakkan kepalanya dan tersenyum melihat sang istri yang sudah tidak marah lagi. Samuel pun berdiri lalu menarik pinggang Kinaya ke dekatnya. Samuel terus tersenyum sampai mereka sudah ada di depan meja makan.
" Kamu kenapa sih mas? Senyam-senyum gak jelas gitu! " tanya Kinaya yang sudah duduk di kursinya dan akan mengambil Gulai Opor Ayam untuk sang suami. Samuel menghentikan langkah Kinaya yang akan menaruh lauk di pirignya.
" Jangan di taruh Nay." perintah Samuel membuat Kinaya menghentikan langkahnya dan menatap bingung ke arah Samuel.
" Kamu taruh lauk yang kamu sukai saja. Mas akan suka apapun yang kamu sukai. " lanjut Samuel tersenyum menopang dagu dengan kedua tangannya.
Kinaya kembali menaruh Gulai Opor itu ke tempatnya dan lebih memilih mengambil Goreng Ayam bumbu. Setelah selesai Kinaya pun memberikan piring ditangannya dan sekarang sudah berpindah ke tangan sang suami. Samuel tersenyum dan berterima kasih kepada Kinaya.
__ADS_1
" Nih Nay. Makan yang banyak biar cepat besar. " goda Samuel membuat Kinaya tersenyum kecil sembari geleng-geleng kepala karena Samuel terus menganggapnya sebagai anak kecil.
" Kapan kamu menganggapku dewasa mas. Aku sudah dewasa sekarang. Ck." balas Kinaya memalingkan wajahnya setelah menerima suapan dari Samuel. Samuel hanya tersenyum melihat tingkah wanitanya, dia merasa puas setelah melihat Kinaya cemberut. Dia pun menyantap makanannya sendiri dan seterusnya dia kembali menyuapi Kinaya sampai akhirnya nasi yang dipiringnya habis ludes dimakan oleh mereka berdua, pasutri yang berbahagia itu.
Setelah makan malam selesai Samuel dan Kinaya pun memilih untuk menonton TV di ruang keluarga. Kinaya terlihat bersandar di bahu Samuel sembari menyantap keripik mentega yang ada di tangan Samuel. Samuel tersenyum melihat wajah Kinaya ketika menonton siaran di TV. Wajah yang selalu berubah. Kadang ada sedih, kadang menangis, kadang terlihat kesal dan kadang-kadang melongo melihat adegan romantis di dalam TV. Samuel pun tersenyum dan mendekatkan bibirnya ke telinga Kinaya.
" Apa kamu mau mencobanya dengan mas Nay? Kita bahkan bisa melakukannya sekarang juga. " goda Samuel membuat Kinaya salah tingkah dan menjauhi dirinya dari Samuel.
" Apaan kamu sih mas? Aku asik-asikan nonton malah di ganggu. "seru Kinaya yang hendak berdiri namun tiba-tiba tangannya di tahan oleh Samuel kemudian langsung di tarik oleh sang suami kedalam dekapannya.
" Kamu mau kemana? Kita praktekkan saja langsung bagaimana rasanya. Dari tadi kamu terus memperhatikannya tanpa berkedip sedikit pun. Sekarang mari kita buktikan langsung. " seru Samuel yang sudah mendekatkan kepalanya dan mengusap bibir ranum sang istri. Ketika Samuel akan melakukan serangannya tiba-tiba langkahnya diganggu oleh bunyi bel rumahnya membuat Samuel mengumpat didalam hatinya berharap yang datang karena punya maksud penting agar dia bisa memaklumkan kedatangannya itu. ART pun pergi ke arah pintu dan membukakan pintu agar bisa melihat siapa yang datang maghrib begini. ART itu pun kembali masuk dan mengatakan ketuanya siapa yang datang.
" Tuan, dokter nyonya sudah datang dan sedang menunggu diluar. " seru ART itu dengan sedikit membungkukkan badannya.
" Suruh dia masuk bik. " balas Samuel yang kemudian berdiri dan menyambut tangan Kinaya. Kinaya pun berdiri setelah menerima uluran tangan dari Samuel. Samuel meletakkan tangannya di pinggang Kinaya lalu menyambut kedatangan dokter itu dari dalam rumah.
" Tidak apa-apa taun. Saya tidak merasa repot sama sekali, justru saya merasa senang sekali bisa membantu nyonya melakukan pemeriksaan disini. " balas dokter itu ramah sembari membungkukkan badannya memberi hormat.
" Baiklah kalau begitu. Saya bingung kenapa istri saya belakangan ini sering merasa mual bahkan sudah banyak makanan yang tidak disukainya dan masih banyak lagi." seru Samuel.
Dokter itu terlihat mangut-mangut dan menjawab sekali-kali. Dia pun memeriksa keadaan Kinaya. Setelah selesai dia pun pergi menghampiri Samuel.
" Maaf tuan, saya masih belum pasti untuk memberitahukan hasil pemeriksaan saya ini karena ini tidak dibagian tugas saya. " seru dokter itu membuat Samuel bingung.
" Maksud dokter apa? Kenapa tidak bisa memeriksa keadaan istri saya! Apa sakitnya terlalu parah hingga dokter susah untuk bisa menjelaskannya kepada saya langsung? " seru Samuel panik bercampur khawatir.
" Bukan begitu tuan. Jadi begini, dari hasil yang saya periksa dan menurut tanda-tanda yang tuan katakan tadi sepertinya tuan dan nyonya akan segera menjadi orang tua. Tapi saya masih belum yakin akan hal itu. Oleh karena itu, akan lebih baik tuan memanggil dokter spesialis kandungan untuk datang kesini." balas dokter itu panjang lebar. Samuel yang mendengarkan kabar dari dokter itu membuat dia tidak percaya terhadap apa yang dia dengar. Dia meminta dokter di depannya untuk mencubit tangannya.
__ADS_1
" Dok. Coba cubit lengan saya dok." seru Samuel membuat dokter itu tidak percaya terhadap apa yang dia dengar.
" Tapi tuan..."
" Tidak apa-apa. Saya tidak akan marah. "balas Samuel memberikan lengannya agar segera dicubit oleh dokter itu.
Dokter itu pun melakukan perintah dari Samuel. Samuel langsung menjerit keperihan di tangannya. Dia mengusap bekas cubitan itu lalu memeluk sang dokter di depannya. Dokter itu kaget karena tiba-tiba Samuel memeluknya untuk yang pertama kalinya karena biasanya Samuel akan marah bila didekati seperti ini.
"Makasih dok, makasih sudah memberi kabar gembira ini. " seru Samuel yang sudah melepaskan pelukannya.
" Tapi tuan, saya masih belum yakin dengan hasil pemeriksaan saya." seru dokter itu khawatir karena takut memberi harapan palsu untuk Samuel.
" Tidak apa-apa dok. Saya yakin dengan hasil pemeriksaannya. Kalau begitu tolong panggilkan saya dokter kandungan dan suruh dia kesini langsung. "seru Samuel.
" Baik tuan."
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1