
Kedua pasangan suami istri itu tengah bersandar di dashboard ranjang. Belum berkeinginan untuk tidur. Memilih untuk menikmati malam yang dingin dengan saling berpelukan. Pakaian mereka sudah di ganti dengan pakaian tidur.
Saat ini, Kinaya tengah bersandar di dada kekar Samuel. Satu tangannya memeluk pinggang sang suami dan satu tangannya lagi membentuk pergerakan sesuai kotak -kotak yang ada di perut suaminya tersebut.
"Sayang. Jangan mengoda mas malam ini, Nay. Atau kamu tidak akan tidur malam ini. " ucap Samuel yang berhasil membuat Kinaya tersenyum setelah menangis seharian tadi.
"Sampai kapan Naura akan di sini, mas? " tanya Kinaya. Mencoba mengalihkan pembicaraan. Dari pada melayani suaminya semalaman. Samuel pun menoleh ke arah Kinaya. Mendengar istrinya itu berucap.
"Mas tidak tahu. Tapi sepertinya akan sedikit lama. Karena Naura ingin kuliah di sini. " ucap Samuel mengusap lembut pipi Kinaya.
"Emang ada apa, hem. Kenapa kamu sepertinya tidak suka begitu? " tanya Samuel.
Kinaya pun menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap wajah suaminya.
"Tidak apa-apa, mas. Emm, sepertinya aku merindukan panti. Apa boleh aku tidur di panti, mas? " tanya Kinaya mendongakkan kepalanya ke atas. Membuat Samuel bingung mendengar ucapan istrinya tersebut.
"Kenapa kamu ingin tidur di luar. Tidak. Mas tidak akan mengizinkan kamu tidur di luar. Mas tidak bisa, Nay. " ucap Samuel memeluk istrinya itu. Membenamkan wajahnya di dada Kinaya.
"Tapi aku ingin, mas. " ucap Kinaya tidak mau kalah.
"Mas tidak bisa mengizinkan kamu, Nay. " jawab Samuel lagi.
"Aku mohon, mas. Izinkan ya. " ucap Kinaya memelas.
Huh.
Terdengar suara Samuel yang mendesah.
Kinaya pun mendongakkan kepalanya. Melihat reaksi Samuel.
"Baiklah. Tapi, hanya boleh semalam. Itu pun akan mas temani. Mas tidak bisa tidur berpisah denganmu. " ucap Samuel pada akhirnya, Kinaya pun tersenyum. Kini Kinaya yang berada di pelukan suaminya.
"Aku akan tidur di sana besok. Aku juga ingin membelikan anak-anak makanan dan mainan baru. " ucap Kinaya semangat 45. Samuel pun tersenyum lalu mengusap lembut punggung belakang Kinaya.
"Apapun itu. Asal kamu senang. Maka lakukanlah. " ucap Samuel.
"Temani aku besok berbelanja ya, mas. Aku ingin sekalian jalan -jalan bersamamu, mas. " ucap Kinaya.
"Baiklah. Kalau begitu, sekarang tidurlah. Sudah malam juga. Tidak baik begadang untuk wanita hamil sepertimu. " ucap Samuel. Kinaya pun menganggukkan kepalanya. Merosotkan tubuhnya. Meletakkan kepalanya di atas bantal. Samuel pun melakukan hal yang sama. Setelah sejajar. Samuel pun menarik tubuh Kinaya ke pelukannya.
__ADS_1
"Tidurlah istriku. Dan anakku. " ucap Samuel mengecup kening dan perut Kinaya.
Pagi harinya. Di meja makan. Orang-orang terlihat berkumpul bersama. Memenuhi semua tempat di meja makan. Kali ini plus Naura nya. Naura baru saja saja turun dari kamarnya. Memilih tempat duduk di samping Samuel. Karena tidak mau berhadapan dengan Kinaya.
"Kak. Temani aku mendaftar di kampus, ya. Aku takut sendirian. " ucap Naura bergelayut manja di lengan panjang Samuel.
"Maafkan kakak Naura. Tapi, kakak ada urusan dengan kakak iparmu. Temani sama Papa saja ya. Atau Mama. Iya kan, Ma. " ucap Samuel menoleh ke arah Mama dan Papanya.
"Iya, sayang. Lagian Tante dan Om tidak sibuk hari ini. Kamu di temani kami saja ya. " ucap Nyonya Malaka.
"Aku maunya di temani oleh kakak, Tan. Lagian kakak mau kemana sih? Adiknya butuh tidak mau di dituruti. Emang istri kakak ada urusan apa? Sampai-sampai tidak bisa menemani aku mendaftar di kampus. " ucap Naura. Terlihat Kinaya menundukkan kepalanya. Dan hal itu di sadari oleh Samuel. Samuel pun menggenggam tangan Kinaya yang ada di bawah meja. Mereka saling memberikan senyuman mereka.
"Ini urusan keluarga kakak. Oh iya, Ma. Hari ini Sam akan pindah ke mansion Sam sendiri. Kasihan rumah tidak ada yang menghuni. " ucap Samuel.
"Baiklah. Jika itu keputusanmu. Mama terserah kamu saja. " jawab Nyonya Malaka.
"Yah. Kakak di sini saja ya. Aku kan baru datang. Masa udah pergi aja sih. Aku kangen kakak tahu. " ucap Naura bersandar di bahu Samuel. Memeluk erat pria itu.
"Jaga sikapmu, Naura. Kamu bukan anak kecil lagi. " ucap Samuel menepis Naura yang bergelayut manja di lengan panjangnya.
Hiks.
"Mas. Temani lah adikmu. Aku bisa pergi sendiri dengan supir. " ucap Kinaya.
"Mas tidak akan membiarkanmu pergi sendirian, Nay. Lagian Naura ada Mama yang temani. Yasudah, sekarang ayuk kita pergi. " ucap Samuel. Berdiri dari duduknya.
"Ma, Pa. Samuel berangkat dulu ya. Nanti Sam langsung pergi saja ke kediaman Sam. " ucap Samuel.
"Yasudah. Urusan Naura biar Mama yang selesaikan. Huh. Itu anak kebiasaan di manjakan malah jadi begitu. Manja banget. " ucap Nyonya Malaka yang juga tidak habis pikir dengan keponakannya tersebut.
"Kalau begitu, terima kasih, Ma, Pa. Samuel berangkat dulu. " ucap Samuel berlenggang ke kamarnya. Bersiap-siap untuk kembali ke kediamannya.
"Apa tidak apa-apa Naura di biarkan seperti tadi, mas? " tanya Kinaya khawatir. Samuel pun tersenyum lalu mendekati istrinya tersebut.
"Kamu tenang saja, ya. Jika kita menurutinya. Takutnya tuh anak malah ngelunjak. Biarkan saja, oke. Mas hanya akan menemanimu seharian ini. " ucap Samuel memeluk Kinaya. Kinaya pun tersenyum dan membalas pelukan suaminya.
"Terima kasih, mas. " ucap Kinaya.
"Di dalam hubungan. Tidak ada kata terima kasih, Nay. Mas melakukannya karena mas mencintaimu sebagai istriku. Apa yang mas lakukan adalah bukti cinta mas padamu. " ucap Samuel yang membuat Kinaya mempererat pelukannya. Samuel pun semakin membenamkan wajah istrinya di dadanya.
__ADS_1
"Apa kita bisa berangkat sekarang. Apa kamu sudah puas peluk masnya. " goda Samuel yang langsung mendapatkan cubitan di pinggangnya.
"Awww. Sakit, Nay. " ucap Samuel yang mencoba mengejar Kinaya yang sudah melangkah ke ruang ganti pakaian.
"Rasain. Blueee. " ucap Kinaya mencibir suaminya tersebut. Samuel malah gemes dengan tingkah istrinya tersebut. Hal itu terlihat mengemaskan untuknya.
"Berani kamu ya. " ucap Samuel mengejar istrinya itu.
...•••••...
Kini, pasangan suami istri itu sudah berada di Mall terbesar di kota tersebut. Mereka langsung membeli semua keperluan anak-anak panti.
Makanan dan minuman mahal juga sudah di pesan dan siap di antar di tempat.
"Apa masih ada yang ingin kamu beli, Nay? " tanya Samuel dengan tangannya masih setia di pinggang Kinaya yang sudah mulai menonjol.
"Aku rasa sudah tidak ada lagi mas. Tapi, aku ingin makan dulu. Kita cari tempat untuk makan dulu ya mas. " ucap Kinaya.
.
.
.
.
.
Bersambung.
Nanti malam lanjutnya ya😊
...INGAT! SIMBIOSIS MUTUALISME 😊...
IG : gx_shi7
Akan ada Visual-visual tokoh novel ini. Dan nantinya juga boleh bertanya-tanya seputar novel atau yang lainnya.
__ADS_1