Belenggu Seorang Istri

Belenggu Seorang Istri
Bertengkar


__ADS_3

Setelah Kinaya tertidur Samuel memutuskan untuk pergi ke dapur. Dia berencana membawakan Kinaya air minum karena dia melihat pitcher tergeletak di lantai disaat dia melihat istrinya di dapur tadi. Setelah selesai dia pun kembali ke kamarnya. Dia melihat istrinya yang terlelap dengan damai di kasurnya. Dilihatnya jam di dinding menunjukkan pukul 19 : 25. Samuel pun membangunkan istrinya. Dia mau mengajak Kinaya untuk makan malam.


" Nay. Bangun yuk. Waktunya makan malam Nay. " Samuel mengelus pipi Kinaya lembut. Menyelipkan rambut Kinaya yang menutupi wajah istrinya ke belakang telinga. Kinaya terlihat mengeliat dan memutarkan kepalanya menghadap Samuel. Kinaya tersenyum dan mengusap matanya.


" Kenapa mas? " tanya Kinaya.


Samuel tersenyum lalu mengelus pipi Kinaya dengan punggung jemarinya. " Waktunya makan malam Nay. " seru Samuel tersenyum.


Kinaya terlihat mengeliat dan bangun dari tidurnya. " Aku mau cuci muka dulu mas. " Kinaya bangun dari tidurnya dan pergi ke kamar mandi. Samuel pun tersenyum dan mengeluarkan ponselnya yang berdering.


" Emm. Ada apa? " tanya Samuel datar. Samuel terlihat menggertakkan rahangnya setelah mendengar suara di seberang. Samuel pun kembali tersenyum setelah melihat Kinaya keluar dari kamar mandi.


" Baiklah. Besok saya kesana. " Samuel menutup panggilan lalu menghampiri Kinaya.


" Ada apa mas? " tanya Kinaya menghampiri Samuel.


" Tidak ada. Cuman urusan kantor. " Samuel meletakkan tangannya di pinggang Kinaya lalu berjalan keluar dari kamarnya.


Beberapa saat kemudian Samuel, Kinaya, Nyonya Malaka dan Tuan Malaka sudah berada dan duduk di kursi meja makan. Mereka menyantap makanan yang ada di depan mereka. Kinaya tergiur melihat menu yang ada di depannya. Kinaya terlihat menikmati makanannya. Nyonya Malaka paham melihat menantunya yang lahap makanya. Namun, Samuel terlihat heran melihat Kinaya yang porsi makannya. Samuel tidak berani membahasnya. Dia takut menyinggung perasaan Kinaya nantinya. Dai pun membiarkan Kinaya menyantap makanannya.


" Apa kamu mau sesuatu lagi sayang? " Nyonya Malaka memegang bahu Kinaya.


Kinaya pun tersenyum melihat mertuanya yang paham dengan keinginannya. " Enggak Ma. Aku sudah tidak butuh apa-apa lagi. "


" Yaudah. Kalau butuh sesuatu kamu bilang saja sama Mama. Atau kamu minta tolong saja sama suamimu. Kalau dia menolak kamu bilang saja sama Mama. Biar Mama hukum dia nanti. " Melihat ke arah Samuel.


" Kapan aku pernah menolak keinginan istriku Ma. Aku akan selalu mewujudkan keinginan Kinaya. Apapun itu. " Samuel memegang tangan Kinaya yang ada di bawah meja. Mereka saling memberikan senyuman mereka masing-masing.


" Cih. Jangan hanya berani dimulut. Buktikan omonganmu itu. " Nyonya Malaka meneguk air yang ada di depannya.

__ADS_1


Setelah selesai makan malam bersama. Semua orang lebih memilih untuk bersantai di ruang keluarga sembari menonton tv. Kinaya memilih untuk duduk di samping Mamanya. Sebelumnya Samuel terlihat kesal melihat istrinya yang selalu ditarik Mamanya. Bahkan untuk bisa berduaan dengan Kinaya selalu di ganggu oleh Mamanya.


" Aku mau duduk dengan istriku Ma. Kenapa Mama selalu saja memberikan jarak diantara kami. "gerutu Samuel melihat Mamanya dengan tatapan kesal.


" Kamu tuh yah. Mama hanya sesekali bersama istrimu. Jika kamu pulang dari sini pasti Mama akan kesepian lagi. " Nyonya Malaka duduk manis di samping Kinaya. Kinaya hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum melihat pertengkaran antara Ibu dan anak di depannya. Tuan Malaka pun ikut mengelengkan kepalanya melihat istrinya bertengkar oleh hal sepele.


Samuel memilih untuk diam karena dia tahu bahwa Mamanya tidak bisa di lawan. Akhirnya Samuel memilih melihat layar di tv. Setelah beberapa saat kemudian Kinaya memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Rasa kantuk di matanya sudah tak tertahankan lagi.


" Ma. Aku ke kamar dulu ya. Mataku udah nggak tahan lagi. " Kinaya bangun dari duduknya. Samuel pun tersenyum dan mengikuti Kinaya dari belakang.


" Ini giliran aku Ma. " sindir Samuel melihat ke arah Mamanya yang dibalas dengan tatapan sombong Mamanya.


Samuel pun mengejar Kinaya ke kamarnya. Dilihatnya Kinaya yang sedang menyisir rambutnya. Samuel pun tersenyum dan memilih untuk berbaring terlebih dahulu. Kinaya pun melihat suaminya dari pantulan cermin.


" Nggak mau nonton filmnya mas? " tanya Kinaya melihat Samuel dari cermin.


" Nggak Nay. Mas temanin kamu aja. " balas Samuel bersandar di kasur. Kinaya pun mangut-mangut dan kembali meneruskan untuk menyisir rambutnya. Setelah selesai Kinaya pun ikut berbaring di samping Samuel. Samuel menepuk dadanya agar Kinaya meletakkan kepalanya di sana. Kinaya pun tersenyum lalu merebahkan kepalanya di dada Samuel.


" Kenapa kamu makin mengemaskan saja sih." Samuel mencubit lembut pipi Kinaya. Terlihat Kinaya yang mengeliat. Samuel pun menghentikan sebentar aksinya setelah Kinaya kembali tertidur Samuel pun tergelak dan kembali memainkan pipi Kinaya. Cukup lama Samuel bermain dengan pipi Kinaya hingga akhirnya dia ikut masuk ke mimpi indah istrinya dengan bibir beradu dengan leher istrinya.


Pagi yang menyongsong dengan suara burung yang berkicau membuat Kinaya bangun dari tidurnya. Dilihatnya Samuel yang masih tertidur pulas. Kinaya pun menoleh ke arah jam dilihatnya masih pukul 6 pagi. Kinaya pun pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah selesai Kinaya pun membangunkan Samuel.


" Mas. " Kinaya mengoyangkan tubuh Samuel.


" Emm. Kenapa Nay? " tanya Samuel mengusa matanya. Lalu menghadap ke arah Kinaya.


" Apa kamu tidak kerja mas? "Kinaya malah balik nanya. Samuel pun menoleh ke arah jam.


" Iya Nay. " balas Samuel tersenyum.

__ADS_1


" Yaudah. Kamu bangunlah mas. " seru Kinaya namun Samuel mengelengkan kepalanya.


" Kenapa? " tanya Kinaya polosnya. Samuel pun tersenyum dan menyentuh bibirnya sendiri.


cup


" Udah kan! Sekarang bangunlah. " Kinaya hendak bangun namun tangannya di tahan oleh Samuel.


" Apalagi mas? " tanya Kinaya yang mulai kesal.


" Lagi." Samuel menyentuh pipi kirinya. Kinaya pun meninggalkan kecupan di sana. Dan kembali Samuel menujuk pipinya yang satu lagi.


"Sudah mas. Nanti kamu telat ke kantornya. " seru Kinaya setelah meninggalkan satu kecupan di pipi kanan Samuel.


" Kalau pun mas telat. Tidak akan ada yang berani meminta penjelasan mas Nay. " seru Samuel dengan sombongnya. Kinaya hanya geleng-geleng kepala melihat kesombongan suaminya.


" Jangan gitu mas. Sebagai pemimpin kamu harus memberikan contoh yang baik. " Kinaya pun berpindah ke depan cermin lalu menyisir rambutnya yang sudah kering karena handuk kecil yang melilit di kepalanya.


" Iya Nay. Kamulah bosnya. Mas mandi dulu. " Samuel meninggalkan 3 kali kecupan di pipi Kinaya dan satu kecupan yang cukup lama di bibir Kinaya.


" Udah. Pergi sana mandi. " Kinaya mendorong pelan tubuh Samuel karena dia tidak melepaskan pelukannya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2