
Samuel sesekali mengambil kesempatan untuk mencuri ciuman di bibir mungil Kinaya. Kinaya tidak protes. Dia membiarkan Samuel melakukan apapun yang di inginkannya, agar suaminya itu bahagia.
"Ih, kok kamu makin mengemaskan begini sih, Nay? " tanya Samuel mencubit pipi istrinya.
"Ishhh sakit, mas. " balas Kinaya menjauhkan tangan Samuel dari wajahnya.
"Tapi kamu benar-benar membuat mas gemes, Nay. " ucap Samuel kembali memberikan cubitan di pipi Kinaya. Tidak berpengaruh meski Kinaya sudah menjauh. Tangannya yang panjang berhasil menjangkau tubuh istrinya lagi.
"Iya, aku tahu aku gemukan sekarang makanya pipiku membulat seperti sekarang. " balas Kinaya yang pasrah karena Samuel selalu uyel-uyel pipinya. Samuel pun tersenyum lalu menciumi pipi kanan dan kiri Kinaya.
"Gemes tahu. " ucap Samuel. Kinaya pun mengerucutkan bibirnya.
Di tempat lain di waktu yang sama. Seorang wanita terlihat duduk di sebuah sofa yang ada di kamarnya. Dia terlihat memikirkan sesuatu.
"Aku harus merebut milikku. Tuan muda Malaka hanya milikku. Tidak ada yang boleh memilikinya. " gumam wanita itu.
Di sisi lain juga. Naura dan Mamanya terlihat kesal. Kesal karena berkali-kali rencananya gagal untuk memisahkan Samuel dengan istrinya. Entah kenapa Melany tidak mau orang yang tidak memiliki derajat masuk di keluarganya. Kinaya tidak sebanding dengan status Malaka yang di miliki oleh keponakannya. Menurutnya, Samuel lebih cocok dengan Diana. Anak temannya yang seorang pengacara terkenal di kota A.
Saat hendak memikirkan rencananya. Tiba-tiba Tuan Malaka terlihat oleh kedua matanya. Melany langsung berdiri dan menghampiri kakak iparnya itu. Dari dulu Melany memang menyukai kakak iparnya. Hanya saja Tuan Malaka tidak pernah menoleh ke arahnya. Selalu saja mencari alasan untuk menjauhinya. Karena Malaka tidak tertarik sama sekali padanya. Cintanya hanya terpaut pada istrinya yaitu Melisa. Melisa adalah mamanya Samuel. Cinta Malaka hanya untuk istri dan anaknya, serta menantu kesayangannya.
"Kakak. Apa kakak melihat kakakku? " tanya Melany beralasan. Malaka pun terlihat mengernyitkan keningnya. Kenapa lagi dengan wanita ini pikirnya. Ya, Malaka sudah dari dulu tidak suka dengan adik iparnya. Melany selalu saja mencari kesempatan untuk berduaan dengannya. Jika tidak ada urusan dia malas sekali bertemu dengan adik iparnya itu.
"Aku tidak tahu. " balas Malaka asal. Sebenarnya dia tahu dimana istrinya. Hanya saja dia tidak mau Melany menghasut istrinya lagi. Dan dia juga ingin berduaan dengan istrinya itu. Malaka pun langsung pergi meninggalkan Melany yang dongkol karena di tinggal sendirian.
__ADS_1
Malaka pun pergi ke kamarnya yang ada di sana. Ya, saat ini mereka ada di kampung halaman nenek Samuel. Mertuanya itu saat ini ada sebuah acara keluarga. Malaka pun terpaksa harus berada di samping istrinya. Sungguh, dia tidak bisa jauh-jauh dari istrinya tersebut. Karena itu dia pun pergi menemani istrinya.
"Ma, kita pulang besok, yuk. Papa kangen dengan cucu kesayangan kita. " ucap Malaka melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang istri. Melisa, istri Malaka pun tersenyum mendengar rengekan suaminya itu. Entah kenapa suaminya itu masih bisa merengek saat ia sudah menjadi seorang kakek. Meskipun begitu, suaminya itu masih saja terlihat tegas di luar sana. Membuat Melisa geleng-geleng kepala olehnya.
"Sabar ya, Pa. Lusa kita akan pulang dari sini. Mama lanjut bikin ini untuk cucu kita dulu ya. " ucap Melisa merajut baju hangat untuk Reza. Malaka terlihat cemberut. Tidak mau menghilangkan kesempatan. Malaka pun langsung mengendong istrinya. Membuat Melisa melepaskan rajutan di tangannya lalu melingkarkan tangannya di leher Malaka.
"Papa ihh. Mama kaget tahu. " ucap Melisa kesal tapi ada senyuman di bibirnya. Malaka pun tersenyum nakal dan menidurkan istrinya di kasur dan mereka pun melakukan pergulatan di sana. Malaka menghilangkan rasa kesalnya terhadap adik iparnya dengan bergulat panas bersama istri tercinta.
Di tempat lain. Samuel dan keluarga kecilnya sudah kembali ke mansion mereka. Bik Yas pun menyambut mereka dengan senyuman keibuannya.
"Selamat datang, Tuan, Nona. " ucap Bik Yas.
"Makasih, Bik. " balas Kinaya. Samuel hanya membalasnya dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Aku mau mandiin Reza dulu, mas. " ucap Kinaya hendak pergi ke kamarnya.
Setelah beberapa saat. Samuel pun menyusul sang istri di kamar. Dilihatnya Kinaya tengah memakaikan Reza bedak dan baju untuk Reza. Istrinya itu terlihat telaten merawat anaknya. Samuel pun tersenyum melihatnya.
"Bik. " panggil Samuel yang membuat Kinaya menoleh ke arahnya. Bingung kenapa suaminya itu memanggil Bik Yas saat dirinya sedang berada di sisinya.
"Ada apa, mas? " tanya Kinaya memicingkan matanya ke arah Samuel. Samuel pun membalasnya dengan senyuman di bibirnya. Tidak berniat untuk menjawab pertanyaan istrinya tersebut.
Bik Yas pun datang ke kamar karena kamar mereka tidak di kunci oleh Samuel. Berjalan mendekati Tuannya.
__ADS_1
"Iya, Tuan? " balas Bik Yas ketika sudah berada di dalam kamar utama.
"Ajak Reza keliling taman belakang ya , Bik. Nanti kami akan menyusul si kecil di sana. " ucap Samuel.
"Baiklah, Tuan. Saya akan membawa den Reza ke belakang dulu. " balas Bik Yas yang langsung mengambil alih Reza di gendongan Kinaya. Kinaya pun memberikan Reza ke Bik Yas. Matanya menatap aneh suaminya itu.
Setelah Bik Yas keluar. Samuel pun berjalan mendekati istrinya tersebut. Melingkarkan tangannya di pinggang Kinaya yang tidak kelihatan ramping lagi karena sudah ada yang menonjol di perutnya.
"Mandi bareng, yuk Nay. " ajak Samuel. Ada senyuman nakal di bibirnya. Membuat Kinaya bergidik ngeri. Sudah tahu isi pikiran suaminya tersebut.
"Tapi--" ucap Kinaya mencoba menolak tawaran dari Samuel.
"Tapi apa, bukankah kamu belum mandi juga, Nay. Yaudah, ayuk. Tidak boleh membantah. Mas akan mengosokkan punggung belakang mu, Nay. " ucap Samuel yang langsung menarik tangan Kinaya ke kamar mandi. Samuel pun perlahan-lahan melepaskan pakaiannya. Hingga di tubuhnya hanya tinggal celana kolor saja. Dilihatnya Kinaya masih berpakaian utuh. Samuel pun mendekat. Dengan senyuman nakal di bibirnya. Pertama-tama, Samuel melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. Mendekatkan wajahnya. Memberikan ciuman di bibir mungil Kinaya. Lalu, tangannya mulai bermain di tubuh sang istri. Tangan Samuel menuntun Kinaya untuk terduduk di sebuah kursi yang ada di sana. Samuel pun perlahan-lahan melepaskan pakaian istrinya. Hingga akhirnya hanya tertinggal celana kolor dan bra istrinya tersebut. Samuel kembali memberikan ciumannya.
"Seksi sekali istrinya Samuel Malaka ini. " goda Samuel di telinga Kinaya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.