
Di dalam perjalanan pulang Kinaya terlihat kesal kepada suaminya itu. Namun, Samuel malah menanggapinya dengan senyuman di bibirnya. Tidak mau nantinya jika ia membalas ucapan Kinaya dan nantinya akan menyinggung perasaan sang istri. Samuel tahu dari dokter kandungan Kinaya bahwa wanita hamil biasanya akan sering mengeluh ini dan itu. Apapun di salahkannya bila tidak sesuai dengan perspektifnya. Dan kali ini Samuel membuat Kinaya kesal lantaran Samuel membuatnya menunggu lama di kantor tadi. Kinaya tidak mau mertuanya menunggu mereka di rumah. Hal itulah yang membuat Kinaya kesal setengah mati dengan Samuel. Bahkan, Kinaya tidak mengingat imagenya lagi di depan Samuel. Samuel yang di marahi oleh Kinaya pun tidak bisa berbuat apa-apa selain mengiyakan perkataan Kinaya. Samuel sesekali mengusap kepala Kinaya untuk menenangkan diri wanita hamil itu.
"Iya, Nay. Mas sudah bilang sama bik Yas untuk membuatkan mama cemilan agar tidak bosan. Lagian, papa juga datang sehingga mama tidak akan bosan di rumah. " seru Samuel.
"Huh. Harusnya dari tadi kita sudah sampai di rumah, mas. " balas Kinaya.
"Iya, Nay. Mas kan udah minta maaf tadi. Mana mas tahu ada urusan mendadak tadi. " jelas Samuel. Kinaya pun tidak membalas lagi ucapan Samuel dan memilih menatap Reza yang ada di pangkuannya. Lalu melihat sekilas ke arah jendela mobil. Samuel yang di cuekin Kinaya memilih bersandar di bahu Kinaya.
"Sudah. Jangan marah lagi, ya. Kasihan anak kita nanti takut lihat kamu marah-marah terus. " seru Samuel mengusap perut Kinaya dengan kepalanya masih bersandar di bahu Kinaya. Kinaya pun menghela napasnya, lembut.
Samuel menegakkan kepalanya. Kini, giliran Kinaya yang bersandar di dada Samuel. Samuel pun mengambil alih Reza di pangkuan Kinaya. Samuel sesekali mengecup kepala Kinaya.
"Jangan marah dengan mas lagi, ya. Lain kali mas tidak akan mengulanginya lagi. " seru Samuel. Kinaya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Beberapa menit kemudian, mobil Samuel sudah berhenti tepat di depan rumahnya. Samuel turun terlebih dahulu. Membukakan pintu mobil untuk Kinaya. Kinaya pun tersenyum.
"Sudah di bilang aku bisa sendiri. Nanti readers bilang aku manja banget jadi istri dan mas sebagai suami lebay pakai banget. Keluar mobil pakai di bukain segala pintunya. Apalagi mas juga sedang mengendong Reza. " seru Kinaya tersenyum menyeringai. Samuel pun ikut tersenyum melihat istrinya.
"Biarkan saja. Yang punya mobil mas. Yang punya istri mas. Dan yang punya cerita si author. Kenapa readers yang sewot, ayuk. " ucap Samuel mengandeng tangan Kinaya dengan satu tangannya dan satu tangannya lagi mengendong Reza.
Di dalam rumah. Nyonya Malaka sudah menyilangkan tangannya di dada. Duduk di sofa sembari menunggu kehadiran keluarga kecil itu. Nyonya Malaka menatap sinis kepada Samuel. Namun, tatapan itu seketika berubah lembut ketika melihat anak kecil di pangkuan Samuel. Nyonya Malaka pun mendekat dan mencoba mengendong Reza yang ada di gendongan Samuel.
Hehehe. Firasat Papa sudah tidak enak dari tadi. Apalagi Mamamu kesal lihat Papa. Karena itu Papa sengaja mengendongmu agar Oma tidak Marah pada Papa, Nak. Maafkan Papa, yah. Lain kali Papa akan memberikan apapun yang kamu minta. Sebagai gantinya karena sudah menyelamatkan Papa dari kemarahan Oma dan Mamamu. Gumam Samuel di dalam hatinya. Samuel tersenyum melihat Mamanya yang terlihat bahagia sembari mengendong Reza. Kinaya yang melihatnya pun mendekati Samuel.
"Ooh. Jadi, kamu sudah menyiapkan ini dari tadi, mas. Jahat kamu mas, memanfaatkan anak sendiri demi kemarahan Mama. " lirih Kinaya. Menatap sekilas Samuel. Lalu pergi meninggalkan Samuel dan menyusul mendekati Nyonya Malaka.
"Cucu Oma yang paling tampan. Siapa namamu, sayang ? " tanya Nyonya Malaka. Kinaya tersenyum lalu duduk di samping Nyonya Malaka.
"Reza Oma. Reza Pratama Wijaya. " jawab Kinaya duduk di samping Nyonya Malaka. Nyonya Malaka terlihat suka dengan nama yang di dapat oleh Reza.
__ADS_1
"Nama yang bagus. Seperti orangnya yang tampan dan tidak rewel sama sekali. " seru Nyonya Malaka tersenyum.
"Oh iya. Dimana Papa, Ma? " tanya Kinaya.
"Papa di sini, sayang. " seru Tuan Malaka, berjalan menghampiri dua wanita itu. Tuan Malaka duduk di samping istrinya. Samuel yang juga melihatnya ikut duduk di samping Kinaya. Samuel melingkarkan tangannya di pinggang sang istri lalu bersandar di bahu Kinaya. Sembari tangannya mengelus perut Kinaya yang masih datar. Tuan Malaka yang melihatnya anak seperti itu hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala. Namun, dia tidak mau kalah dari anaknya. Tuan Malaka merapat duduk di samping istrinya lalu mencium pipi Nyonya Malaka. Yang mendapat ciuman malah terkejut. Nyonya Malaka menatap tajam suaminya. Samuel yang melihatnya malah menertawakannya.
Hahahaha. Cemburu dengan anak sendiri. Ingat usia, Pa. ucap Samuel di dalam hatinya.
"Apa-apaan sih, Ma. Papa hanya pengin peluk saja. Lagian, biasanya Mama yang nempel terus menerus dengan Papa. " seru Tuan Malaka yang malah memeluk erat istrinya. Lalu menatap wajah cucu barunya.
"Siapa tadi. Reza yah namanya. Nama yang bagus untuk anak setampan dirinya. " seru Tuan Malaka. Samuel yang mendengarnya merasa bangga dengan dirinya sendiri.
"Jelas dong. Papanya yang carikan. Huh, semua orang akan beruntung bila berada di sisiku. " seru Samuel membusungkan dadanya. Bangga dengan dirinya yang bisa melakukan apapun untuk istri dan anaknya.
"Huh, yang beruntung di sini aku atau kamu, mas? " tanya Kinaya menatap kesal Samuel. Samuel menoleh ke arah Kinaya. Dilihatnya wanita itu seperti akan marah kepadanya. Dengan cepat Samuel meralat ucapannya tadi.
"Hehehe. Tentu mas yang beruntung mendapatkan kamu sebagai istri mas, Nay. " jawab Samuel yang kembali memeluk Kinaya, tidak berani menatap wajah sang istri.
"Buahahaha. Sudah tahu istri sensitifan. Malah menyinggung wanita yang hamil muda. " goda Tuan dan Nyonya Malaka. Tersenyum mengejek anaknya yang bodoh. Samuel tidak membalasnya. Samuel langsung saja pergi ke kamarnya. Ketika hendak membuka pintu kamar, tiba-tiba pintu itu tidak bisa di buka. Samuel mulai panik dan memanggil Kinaya dari luar.
"Nay. Nay sayang. Mas tidak bermaksud begitu. Buka pintunya, Nay. " teriak Samuel masih dengan intonasi yang lembut. Namun, Samuel tidak mendapatkan jawaban dari Kinaya.
"Nay. Biarkan mas masuk, Nay. Jangan membuat mas cemas, Nay. Tolong buka pintunya, Nay. "Panggil Samuel lagi. Tapi Kinaya tidak mengindahkan teriakan Samuel. Samuel pun turun ke bawah dan meminta kunci cadangan ke ART .
"Bik. Bik Yas. Dimana kunci cadangan kamar saya? " tanya Samuel. Bik Yas yang merupakan kepala ART segera mencarikan kunci cadangan tersebut. Tuan Malaka yang melihat kepanikan Samuel. Dia pun mendekat.
"Kenapa Sam! Apa kamu di kunci dari luar oleh istrimu? " tanya Taun Malaka mengejek. Samuel menatap kesal Papanya.
"Apaan sih, Pa. Ini urusan Samuel dengan istri Samuel. Papa tidak perlu tahu dengan urusan kamu. " balas Samuel.
__ADS_1
"Anak kurang ajar kamu. Aku adalah Papamu. Harusnya kamu berterima kasih karena Papa sudah prihatin dengan penderitaanmu. " seru Tuan Malaka sedikit tegas, namun di akhir kata dia malah menertawakan Samuel yang membuat Samuel membalikkan badannya. Malas meladeni Papanya yang terus meledeknya.
Setelah beberapa saat akhirnya Bik Yas mendapatkan kunci kamar utama. Segera Bik Yas memberikannya kepada Samuel. Samuel mulai melangkahkan kakinya namun lagi-lagi Papanya menahannya untuk beranjak .
"Ingat ini. Satu kata saja yang keluar dari mulutmu bisa menyakiti perasaan istrimu. Jadi, berpikirlah terlebih dahulu sebelum mengatakan sesuatu itu. Atau kamu akan menyesal nantinya. " nasehat Tuan Malaka. Samuel yang mendengarnya mulai paham dan sadar dengan dirinya yang menyinggung perasaan sang istri. Samuel merasa bangga dengan Papanya. Meski sang Papa selalu mengejeknya tapi beliau tidak pernah lupa untuk memberikannya nasehat agar tidak melakukan kesalahan yang bisa menyakiti hati istrinya. Samuel pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Paham dengan nasehat Papanya. Samuel segera pergi dari hadapan Papanya dan pergi melangkah menuju kamarnya. Dengan perasaan cemas bercampur khawatir bila sang istri tidak mau melihatnya ataupun memaafkannya.
Di depan pintu kamarnya Samuel menarik napasnya dan membuangnya perlahan-lahan. Ketika pintu kamar terbuka Samuel tidak melihat kehadiran sang istri. Samuel pun pergi ke ruang ganti pakaian namun juga tidak melihat kejadian sang istri. Samuel pun melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Samuel melihat Kinaya yang tengah berendam air hangat di sana. Samuel pun menghela napasnya, lega. Samuel pun mendekat dan memeluk Kinaya dari belakang. Melingkarkan tangannya di leher Kinaya. Karena saat ini posisi Kinaya tidak bisa membuat Samuel untuk merangkul pinggang sang istri.
"Apa kamu masih marah sama mas, Nay? " tanya Samuel. Kinaya yang sebelumnya sedang merilekskan badannya tiba-tiba saja di kagetkan oleh kehadiran Samuel yang merangkul nya dari belakang.
"Apaan sih, mas. Aku mau mandi dulu. Mas keluar dulu sana. " suruh Kinaya mendorong tubuh Samuel. Namun, Samuel malah mempererat pelukannya.
.
.
.
.
.
Bersambung.
IG : gx_shi7
Terima kasih 😊😊
Jangan lupa dukungannya yah kesayangan. Aku pada kalian 😚😙😙
__ADS_1
By : Nadila Sizy
#Kinaya&Samuel_LFR