
...Happy Reading readers πΌπΌπΌ...
...Jangan lupa like dan komentarnya yaπ»π»π»...
...Terima kasih πΈπΈπΈ...
...β’β’β’β’...
Dengan perasaan khawatir bercampur cemas. Samuel masuk ke dalam sebuah rumah tua yang mendominasi warna cokelat tua. Benda-benda kuno dan klasik tertata rapi di sana. Namun, hal itu tidak membuat Samuel terpukau karena ada hal yang lebih membuat Samuel susah mencerna apa yang telah terjadi sebenarnya saat ini di depan matanya.
Melihat sang istri sedang bersedih di depannya membuat hati Samuel amat sakit rasanya. Tapi, kali ini ada rasa kegelian dalam dada Samuel. Ingin rasanya dirinya tertawa namun melihat situasi membuat Samuel menahan tawanya dan mengubahnya dengan bentuk senyuman di bibirnya.
"Pfft, Nay. Apa yang telah kamu lakukan? " tanya Samuel menghampiri sang istri. Pertama-tama Samuel memeriksa keadaan sang istri. Apakah ada yang luka atau apapun itu. Kinaya pun memutar malas bola matanya.
"Aku tidak apa-apa, mas. Aku baik-baik saja. " Jawab Kinaya mencoba melepaskan tangan Samuel yang sedang memeriksa tubuhnya.
"Dari mana kamu tahu. Sudah beberapa lamanya kamu hilang, huh. Pasti ada luka di tubuh mungilmu ini. " ucap Samuel kembali memeriksa tubuh Kinaya. Kinaya pun membiarkan Samuel melakukan apapun yang ingin dilakukannya. Kinaya pun kembali fokus mengelus kan tangannya ke tempat semula.
"Hei! Sudah hentikan. " bentak seorang pria. Kembali Kinaya menangis mendengar orang meneriakinya. Membuat Samuel murka seketika.
"Beraninya kamu meneriaki istri saya. " ucap Samuel berang.
"Sudah, sudah. Hei dia sedang hamil. Biarkanlah dia melakukan apa yang diinginkannya. Kasihan anak di dalam perutnya. " ucap seorang Ibu yang sering di sebut Bundo di sana.
"Kenapa harus aku yang di jadikan bahan eksperimennya, Bundo. Itu pasti suaminya. Minta ia membotaki kepalanya itu agar istrinya ini bisa mengelus kepala suaminya sendiri seharian. Kenapa harus kepala ku juga jadi targetnya sih. " pria itu gusar sendiri.
"Aku hanya ingin kepalamu. Suamiku lebih tampan dengan wajahnya yang sekarang. " puji Kinaya yang membuat Samuel tersenyum lalu memberikan kecupan di bibir mungil Kinaya.
"Kamu benar-benar istriku yang sangat mengemaskan. " sambil di usapnya kepala Kinaya. Gemes dengan sang istri.
"Kalau begitu pergi dari sini sekarang juga.Β Suamimu sudah mencarimu dari tadi. " ucap pria yang di kenal dengan nama Zainuddin. Kinaya pun menatap Samuel dengan tatapan memelas. Berharap Samuel mengizinkannya untuk tetap di sini. Samuel pun menghela napasnya.
__ADS_1
"Tapi ini bukan kawasan kita, Nay. Minta izinlah kepada pemilik rumah terlebih dahulu. " ucap Samuel menyerah pada akhirnya terhadap sang istri.
"Bundo. Apa saya boleh tetap di sini sebentar. Saya masih ingin mengelus kepalanya. " ucap Kinaya kembali mengelus kepala Zainuddin yang botak kinclong. Membuat Zainuddin menatap tidak suka dengan Kinaya.
"Tidak boleh. Sekarang pergilah dari sini. Aku sudah capek berjongkok di depan mu. " ucap Zainuddin. Samuel yang melihat itu hanya bisa tersenyum sendiri sembari geleng-geleng kepala. Kenapa bisa Kinaya mengidam hal-hal lucu begini pikir Samuel. Untung istri kalau tidak pasti sudah di cemoohkan saat dari tadi. Apa boleh buat, sekarang sang istri hamil anaknya dan tidak berani juga ia membotakkan kepalanya sendiri. Untung saja Kinaya tidak mau ia ikut botak juga. Kalau Kinaya meminta agar ia membotaki kepalanya maka saat ini juga Samuel pasti tak berambut lagi di kepalanya. Karena Samuel tidak sampai hati menolak keinginan istrinya tersebut.
"Sudahlah kamu ini. Sebentar lagi itu bumil akan selesai juga. Bersabarlah sebentar lagi. " ucap Bundo sembari mengunyah beras di mulutnya.
Beberapa jam setelah itu. Akhirnya Zainuddin bisa bernafas lega karena Kinaya sudah melepaskan tangannya dari kepalanya. Saat ini Kinaya tertidur di samping Samuel. Bersandar di bahu sang suami. Sebelum tidur Kinaya mengelus kepala Zainuddin. Karena keasyikan membuat Kinaya tertidur di samping Samuel.
"Baiklah, Bundo. Sepertinya saya harus pergi sekarang. Karena ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan. " ucap Samuel lirihΒ karena tidak mau membangunkan Kinaya dari tidurnya. Di depan rumah bundo sudah ada Hiro, Seila dan para pengawal Samuel. Seila marah tak menentu di dalam hatinya. Sedangkan Hiro mengagumi ke romantisan suami istri yang tidak pernah luput barang sedikit pun. Hiro membukakan pintu mobil untuk Samuel karena Samuel mengendong tubuh Kinaya ala Bridal Style ke dalam mobil. Dengan hati-hati Samuel masuk ke dalam. Menidurkan Kinaya di atas pangkuannya. Sesekali Samuel mengusap lembut kepala Kinaya di saat wanita itu sedikit terusik.
"Baiklah. Hati-hati di jalan. Lain kali jangan tinggalkan istrinya sendirian. Kita tidak tahu apa yang akan dia lakukan nantinya. " nasihat Bundo.
"Baiklah Bundo. Sekali lagi makasih karena sudah pengertian kepada istri saya. Dan juga terima kasih juga padamu bung. Lain kali saya akan membalas semua ini jika kalian benar-benar butuh bantuan saya. Ini nomer telepon saya. Hubungi saja saya maka saya akan segera membantu kalian nantinya. Kalau begitu saya balik ke hotel dulu. " ucap Samuel ramah. Bundo dan Zainuddin terlihat menganggukkan kepalanya. Meski ada kesalnya Zainuddin akhirnya merelakan juga kepalanya di elus-elus oleh Kinaya.
Mobil pun melaju membelah jalanan perkampungan. Samuel seperti biasa mengelus kepala sang istri. Mengusapnya lembut. Ada senyuman di bibirnya ketika mengingat sang istri mengidam hal konyol.
"Mas. " panggil Kinaya.
"Iya sayang. " jawab Samuel.
"Kita sudah balik? Berhentikan mobilnya mas. " ucap Kinaya.
"Kamu mau apa? Biar para pengawal yang membelikan. " ucap Samuel lembut.
"Aku bilang hentikan mobilnya mas. " ucap Kinaya tidak berniat menjawab pertanyaan Samuel. Mobil pun berhenti tepat di tengah-tengah perkampungan.Β Ada beberapa rumah penduduk dengan sawah-sawah di tepi bukitnya. Setelah mobil berhenti, Kinaya turun dari dalam mobil. Samuel pun mengikuti langkah kaki sang istri.
"Nay, ada apa sih? Kenapa kamu suruh Berhentikan mobil di tengah jalan seperti ini? " tanya Samuel bingung.
"Mana ponselnya mas? " tanya Kinaya lagi tanpa berniat menjawab pertanyaan Samuel.
__ADS_1
"Bawakan ponsel saya ke sini. " ucap Samuel kepada Hiro yang ada di belakangnya. Hiro pun mendekat dan memberikan ponsel Samuel. Seila sampai kesal karena harus turun dari dalam mobil hanya untuk mengikuti kemauan Kinaya. jika bukan karena kakaknya, Seila pasti memilih untuk meneruskan mobil yang di naikinya.
Oke! Aku punya permintaan nih. Jika yang like lebih 100 β€ aku kasih up 3 eps tiap hari. Jika lebih maka aku doble lebih dari 3 eps. Yang setuju harap titip komentarnya yaπππ
.
.
.
.
.
Bersambung.
...INGAT! SIMBIOSIS MUTUALISME π...
IG : gx_shi7
Ikuti IG ku yah. Di sini akan ada Visual - visual para pameran novel ku. Dan nanti boleh bertanya-tanya seputar Update novel kesayangan kalian.
Terima kasih ππ
Jangan lupa dukungannya yah kesayangan. Aku pada kalian πππ
By : Nadila Sizy
__ADS_1
...#Kinaya&Samuel_LFR...