Belenggu Seorang Istri

Belenggu Seorang Istri
Seseorang


__ADS_3

Di kamar utama. Kinaya mulai mengerjapkan matanya. Perlahan-lahan kedua kelopak matanya terbuka. Kinaya pun mengelilingi pandangannya. Dirinya tidak melihat siapa pun di sana. Kinaya pun mulai mengerakkan tubuhnya. Turun dari kasurnya lalu melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


Tubuhnya terasa lemas tetapi tetap ia usahakan untuk kuat. Karena Kinaya tidak mau membuat tubuhnya tambah lemas.


Kinaya membersihkan tubuhnya. Setelah bersih Kinaya pun mencari anak dan suaminya. Kinaya perlahan-lahan menuruni jenjang rumahnya. Setibanya di ujung tangga. Kinaya pun melihat Bik Yas yang sedang melangkah ke dapur. Kinaya pun memanggil Bik Yas.


"Apa Bibik melihat anak dan suami saya? " tanya Kinaya lembut.


"Tuan ada di taman belakang, Nyonya. " balas Bik Yas.


"Apa Nyonya sudah baikan? " tanya Bik Yas khawatir dengan kesehatan Nyonya nya.


"Saya sudah tidak apa-apa, Bik. Sudah lebih mendingan. " balas Kinaya ramah.


 Kinaya pun berlalu setelah Bik Yas pamit akan ke dapur.


Perlahan-lahan Kinaya melangkahkan kakinya ke taman belakang. Setibanya di pintu belakang. Kinaya melihat suami dan anaknya yang tengah bermain bersama. Kinaya tersenyum lalu mendekati mereka berdua.


Kinaya memilih untuk mendudukkan tubuhnya di samping sang suami. Samuel pun terkejut melihat kedatangan istrinya yang tiba-tiba. Tapi, keterkejutannya terganti dengan senyuman hangat dan kecupan mesra di pipi Kinaya. Kinaya pun tersenyum dan Samuel pun memeluk erat tubuh kecil sang istri.


"Maafkan mas yang sudah membuat kamu sakit seperti tadi. Mas janji bahwa itu adalah yang terakhir kalinya. Mas benar-benar menyesal melihatmu seperti tadi, Nay. " Samuel memberikan ciuman hangat di pucuk kepala Kinaya. Kinaya tersenyum lalu mendongakkan kepalanya.


"Mas tidak salah. Makasih ya sudah mengkhawatirkan aku. Aku tidak akan mengulangi hal seperti kemarin. Aku hanya akan keluar dengan mas saja. " Kinaya kembali memeluk tubuh sang suami. Menyandarkan kepalanya di dada kekar Samuel. Lalu, tangannya bermain dengan jemari kecil si buah hati. Tersenyum melihat anaknya yang sudah mulai aktif.


Hari sudah mulai sore. Samuel memutuskan untuk mengajak keluarganya masuk ke dalam rumah. Samuel mengendong tubuh kecil Reza. Dan satu tangannya memegang lengan istrinya.


...•••••...


Keesokan harinya, Samuel sudah mulai bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Seperti biasa Kinaya membantu suaminya bersiap-siap. Memakaikan kemeja dan dasi.


Tangan Samuel dengan setianya bertengger di pinggang Kinaya yang sudah mulai menonjol. Mereka saling melemparkan senyuman mereka satu sama lain. Kedua kelopak mata Samuel tidak berpaling barang sedikit pun dari sang istri.

__ADS_1


"Makasih, sayang. Nanti mas akan menjemput kamu. Kita langsung ke rumah sakit, ya. " ucap Samuel ketika Kinaya menyelesaikan merapikan jas 3 lapis milik Samuel. Kinaya pun tersenyum dan Samuel memberikan ciuman di bibir mungil Kinaya.


"Iya mas. Kamu tidak perlu tergesa-gesa. Masih ada waktu seharian, kok. " balas Kinaya.


"Mas tidak apa-apa, kok. Kamu tunggu mas ya. " kecupan ia berikan di kening sang istri. Kinaya pun tersenyum menerimanya.


Setelah itu, mereka memulai sarapan pagi. Setelah selesai sarapan Samuel pun pamit untuk pergi ke kantor.


Kinaya pun melihat mobil Samuel yang sudah menjauh. Setelah tidak melihat mobil Samuel. Kinaya pun pergi menemui anaknya. Sebelum itu, ada sepasang mata memperhatikan Kinaya di balik gerbang besi rumah. Bibirnya tersenyum menyeringai lalu ia berkata


"Bersiap-siaplah kamu kehilangan. " lirih nya. Lalu, ia pun pergi meninggalkan gerbang karena ia tidak melihat Kinaya lagi. Ada senyuman menyeringai terpatri. Dan senyuman itu utuh untuk waktu beberapa detik.


Kinaya mengambil Reza di pelukan salah satu pelayan. Kinaya mengendong Reza dan membawanya ke taman. Mereka memilih untuk duduk di atas tikar berbulu. Yang di bawahnya terdapat tikar lapis.


"Kita akan menunggu papa datang ya, sayang. Untuk sementara kita bermain dulu ya. Sebentar lagi kita siap-siap. " ucap Kinaya kepada anaknya yang sudah mulai bisa duduk. Tubuh kecil Reza juga sudah mulai berisi. Dengan rambut yang tebal mengkilap.


Kinaya yang gemes pun memberikan kecupan lembut secara bertubi-tubi. Membuat anak itu gelagapan tapi masih dengan tawanya.


"Yaudah, kita ke dalam yuk. Kita tunggu papa datang. " Kinaya membawa Reza ke kamarnya.


Beberapa jam setelah itu Samuel datang. Pria itu pergi ke kamar karena tidak melihat keberadaan istri dan anaknya.


Di dalam kamar. Samuel mendapati sang istri yang sepertinya sedang bersiap-siap. Samuel pun tersenyum lalu mendekati sang istri. Memeluk Kinaya dari belakang lalu memberikan hisapan di leher Kinaya.


"Kapan datangnya? " tanya Kinaya melihat Samuel dari balik cermin. Samuel pun tersenyum lalu mempererat pelukannya.


"Barusan. Apa kamu sudah siap, sayang? " tanya Samuel.


"Udah, mas. Reza nya tolong di gendongin ya mas. Aku mau ambil perlengkapannya dulu. " ucap Kinaya.


"Iya, sayang. Sini, Nak. Kamu dengan Papa ya. Kita ke RS sekarang. Kita periksa kesehatan mu di sana. " ucap Samuel yang sudah mengendong Reza. Kinaya yang melihatnya hanya bisa tersenyum.

__ADS_1


Setelah itu, keluarga kecil itu sudah berada di dalam mobilnya. Kinaya mengambil alih Reza di gendongan suaminya. Anak itu dengan senangnya menerima pelukan sang Mama. Meski bukan Mama kandung tapi kasih sayang yang tulus dari Kinaya berhasil membuat anak itu betah bersama Kinaya. Bahkan, Reza melupakan sosok ibu kandungnya sendiri. Mungkin saja lupa dengan sosok tersebut.


Setibanya di RS. Pasangan suami istri itu sudah berada di ruangan. Di sana dokter membuatkan jadwal imunisasi untuk Reza. Doktet melakukan pemeriksaan fisik pada seluruh bagian tubuh bayi yang meliputi perut, pinggang, kaki, telinga, mata, hidung, kulit, dan jantung. 


" Jadi begini Nyonya, Tuan. Pemeriksaan kesehatan bayi usia 2-3 bulan adalah prosedur yang aman bagi bayi dan perlu dijalani secara berkala. Risiko akan dihadapi bayi apabila ia tidak mendapat vaksinasi atau pengobatan tertentu, yang umumnya berupa pembengkakan pada area suntikan dan demam rendah. Oleh karena itu saya menyarankan untuk melakukan pemeriksaan secara berkala. Sejauh ini anak Nyonya sehat dan tumbuh kembangnya sangat baik. Saya akan memberikan vitamin untuk si kecil. Harap di tebus. " ucap dokter itu. Kinaya dan Samuel pun tersenyum dan berterima kasih kepada dokternya.


Di perjalanan pulang. Samuel mengajak sang istri jalan-jalan. Mereka pergi ke wahana permainan bayi. Samuel dengan semangatnya mengajak Reza bermain. Kinaya sendiri memilih untuk duduk di tempat tunggu yang sudah di siapkan. Kinaya memperhatikan anak dan suaminya tersebut. Tanpa Kinaya sadari ada sepasang mata memperhatikan suami dan anaknya. Dia tersenyum penuh kelicikan. Dan tiba-tiba ada anak-anak mendorong tubuhnya hingga terjatuh ke lantai. Hal itu mengakibatkan kegaduhan karena seseorang itu tidak terima di dorong begitu saja meski yang mendorongnya adalah anak kecil.


"Apa-apaan sih kamu. Kamu jalan tidak pakai mata ya. Mana orang tuamu. Dia harus membayar apa yang telah anaknya lakukan. " ucap seseorang itu. Dan Ibu dari anak itupun datang. Ibu itu terlihat berkali-kali meminta maaf tapi tidak di pedulikan oleh seseorang tadi. Kinaya yang melihat keributan tersebut akhirnya pergi mendekat ke arah kerumunan. Dan Samuel pun melihat arah tatapan istrinya. Dilihatnya ada keributan. Samuel pun menghentikan sebentar permainannya bersama anaknya itu. Samuel memilih untuk menemui istrinya. Entah kenapa ada yang tidak beres ia rasakan.


Samuel kembali mengendong Reza. Lalu, mereka berjalan ke arah Kinaya.


Kinaya sendiri masih belum tahu apa yang telah terjadi di kerumunan tersebut. Saat ia tiba di tempat kerumunan. Ia melihat seorang anak menangis di pelukan ibunya dan ada seorang wanita yang dengan angkuhnya melipatkan tangannya di dada. Sebelum Kinaya sampai di sana. Samuel pun menarik lembut tangan istri. Membawa Kinaya menjauh dari kerumunan.


"Kita pulang yuk. Kami sudah selesai bermainnya. " ucap Samuel melihat ke arah anaknya.


"Kenapa cepat sekali? Apa mas yakin? " tanya Kinaya.


"Iya, sayang. Ayuk kita pulang. " ucap Samuel. Kinaya pun tidak bisa melawan lagi. Kinaya pun membiarkan Samuel menarik tangannya.


.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2