
Roy berdi di balkon kamarnya. Melihat pagar rumahnya. Terlihat sedang menunggu sesuatu yang akan datang, mungkin. Matanya tidak berpaling walau sedetik pun dari pagar tersebut.
Wajahnya sangat kusut. Terlihat tatanannya yang tidak terawat. Rambut acak-acakan seperti tidak di sisir. Kemeja putihnya terpakai dengan bentuk yang tidak rapi. Ada yang masuk ke dalam celana dan ada sebagian yang keluar dari celananya. Sangat berantakan penampilan Roy hari ini. Tidak seperti biasanya yang terlihat sangat gagah dan berwibawa dengan setelan jasnya.
Bagaimana tidak. Roy sudah 3 hari menunggu kabar Diana yang menghilang entah kemana. Roy sudah menyuruh beberapa orang-orangnya untuk mencari keberadaan gadis itu.
Makanan yang ada di atas meja, tidak tersentuh sama sekali. Ada 3 piring yang terisi makanan yang masih utuh. Sepertinya Roy tidak menyentuh makanan itu sedari pagi tadi.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Roy tidak mengubrisnya dan masih memfokuskan kedua matanya ke arah pagar rumah.
"Maaf, Tuan. Bolehkah saya masuk? " tanya pelayan di sana. Roy diam saja. Bahkan, Roy tidak menoleh ke arah pintu. Pelayan itu pun mengintip dari luar.
Haih. Sepertinya Tuan tidak menyentuh makanannya. pelayan itu melihat makanan yang masih utuh di atas meja. Pelayan itu pun pergi setelah melihat Roy sedang berdiri di dekat balkon kamar.
Kembali ke Roy.
Roy terus memantau. Sudah hampir 3 jam dia berdiri di sana.
Dret.
Dret.
Dret.
Bunyi ponsel Roy. Dengan cepat Roy merogoh saku celananya. Tertara ID Ilham di sana. Ilham adalah asisten pribadi Roy. Roy pun mengeser warna hijau dan meletakkan benda pipih itu ke dekat telinganya.
"Bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang adikku? " tanya Roy.
"Hotel XX. Baiklah, saya ke sana sekarang. " entah kenapa ada rasa kebahagiaan di hati Roy setelah mendapat informasi tentang Diana. Ada rasa yang bergetar di dadanya. Entahlah, dia sendiri tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi pada dirinya. Roy hanya ingin cepat-cepat ke hotel yang di beritahukan oleh Ilham. Ingin melihat keadaan adik kecilnya, secepatnya.
Roy menyambar jaket hitamnya. Meletakkannya di bahu kanan, lalu bergegas keluar. Roy menyetir sendiri mobilnya.
Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi. Membelah jalanan kota yang sudah mulai terasa dingin. Roy terlihat tersenyum. Tidak sabar untuk menemui Diana.
Setibanya di hotel, Roy langsung di hampiri oleh Ilham yang sudah berada di depan hotel. Dekat loby.
"Dimana adikku? Antarkan aku kesana sekarang juga. " perintah Roy yang terus melangkah kakinya, masuk ke dalam hotel. Tidak menoleh sedikit pun ke arah Ilham yang sudah berjalan di belakangnya.
"Maaf, Tuan. Tapi nona tidak sendirian. Dia bersama seorang pria. " ucap Ilham yang membuat Roy menghentikan langkahnya. Roy pun menoleh ke arah Ilham. Posisi badannya menyamping.
"Apa maksudmu? Kenapa dia bersama dengan seorang pria? Apa yang mereka lakukan di sini? " tanya Roy.
__ADS_1
"Untuk itu saya masih belum tahu, Tuan. Tapi, sepertinya nona tidak bersama orang sembarangan. Dia bersama dengan Tuan muda Tarakan. James Tarakan. Mereka sudah menginap di sini selama 3 hari, tepatnya di saat nona Diana menghilang. " ucap Ilham. Roy terlihat bingung. Tapi, tidak tahu juga alasan apa yang membuat Diana bersama James. Roy pun memutuskan untuk melangkahkan kakinya.
"Antarkan aku ke tempatnya. Kita harus membawa adikku pulang hari ini. " ucap Roy. Ilham pun menuntun Roy ke sebuah restoran yang ada di hotel tersebut.
Setibanya di restoran hotel. Roy menangkap sebuah pemandangan yang entah kenapa membuat hatinya meradang. Roy dengan cepat menghampiri Diana.
"3 hari. 3 hari aku mencarimu, tapi kamu malah terlihat bahagia bersama pria lain. " seru Roy berjalan menghampiri Diana. Diana pun menoleh ke sampingnya. Dilihatnya Roy berjalan mendekat.
Kakak! Kenapa kakak bisa ada di sini? DianaΒ bingung sekaligus takut kalau Roy akan marah dengannya.
"Apa kamu tidak ingat jalan pulang ke rumah? Apa aku harus membuatkan kamu sebuah peta di otakmu itu agar kamu ingat untuk pulang. " seru Roy yang sudah berdiri di sampingnya. James yang juga ada di sana merasa bingung. Apa yang terjadi sebenarnya pikir James.
"Maaf, Tuan. Apa tidak bisa bicara baik-baik? " tanya James berdiri dari duduknya. Mencoba melindungi Diana.
"Siapa kamu? Apa yang kalian lakukan di sini? " tanya Roy. James jadi diam. Tidak tahu harus menjawab apa juga. Diana pun ikut berdiri. Tidak mau membuat James dalam posisi yang di salahkan di sini.
"Dia adalah pacarku. " jawab Diana yang membuat 2 pria itu terkejut. Tapi, ada senyuman di bibir James. Entah kenapa, meskipun hal itu dilakukan Diana untuk menolongnya. Tapi, itu sudah membuatnya bahagia.
Roy terlihat mengeraskan rahangnya. Tangannya mengepal kuat.
"Sudahlah, aku tidak ingin tahu tentang semua itu. Sekarang ikut aku pulang. " ucap Roy menarik tangan Diana, tapi Diana malah menepis tangan Roy.
"Maaf, Tuan. Sepertinya pacar saya tidak ingin bersama Tuan. Sebaiknya Tuan pergi dari sini. Kami akan kembali ke kamar. " ucap James. James pun tersenyum dan menarik tangan Diana. Diana mengikuti langkah kaki James.
Roy yang melihat itu membuat matanya memerah. Roy pun kembali menarik tangan Diana.
"Jangan melawan. Aku tidak punya kesabaran untuk itu. Kamu tahu, aku tidak punya kesabaran untuk memahami hubungan di antara kalian. " ucap Roy. Roy menarik kuat tangan Diana. Membuat gadis itu mengerang kesakitan di pergelangan tangannya.
Sakit.
"Ahhh, tanganku sakit. Lepaskan, sakit sekali kak. " lirih Diana menahan tarikan Roy.
Roy pun menghentikan langkahnya. Dilihatnya Diana yang meniup pergelangan tangannya.
"Kamu tidak apa-apakan? " tanya James. James pun meniup pergelangan tangan Diana yang sakit tadi.
Cih.
"Lepaskan tangannya. Sekarang kamu ikut kakak. Jangan membantah. " ucap Roy. Roy menatap dingin wajah Diana. Gadis itu menundukkan kepalanya. Tidak berani melihat wajah Roy.
"Maaf, Tuan. Tapi, saat ini Diana adalah tanggung jawab saya. Jika Diana tidak mau pergi, maka Tuan akan berurusan dengan saya. " ucap James.
__ADS_1
"Dia adikku. Saya lebih berhak untuk membawanya dari sini. " menatap dingin James, "ayuk , kita pulang sekarang. Kita selesaikan semuanya di rumah. " ucap Roy.
Ternyata mereka beradik kakak. Tapi, kenapa mereka seperti pasangan kekasih? Siapa dia sebenarnya? James.
"Oh,ternyata Tuan adalah kakaknya. Tapi, adik Tuan tidak mau pulang. Lagian, kita masih ada kerja sama yang harus di selesaikan. Bukan begitu, Diana? " tanya James menoleh ke arah Diana. Tersenyum hangat kepada gadis itu.
"Benar, Kak. Aku sekarang bekerja dengannya. Aku tidak mau menyusahkan kakak lagi. Aku ingin jadi gadis yang mandiri. Kakak bisa mengurus diri kakak sendiri, kan. " ucap Diana.
Roy terdiam di tempatnya. Menghela napasnya.
"Baiklah, kamu boleh bekerja dengannya. Tapi, kamu tetap akan pulang sekarang juga. " ucap Roy. Diana pun menoleh ke arah James. James pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Seolah berkata, 'Pergilah dengan kakakmu'.
"Baiklah. Kalau begitu, terima kasih ya. Aku pulang dulu. Terima kasih atas semua yang telah kamu lakukan beberapa hari ini. Sekali lagi, terima kasih atas semuanya. " ucap Diana.
"Sama-sama, jangan kabur lagi dari rumah. Dengarkan ucapan kakakmu. Tidak baik bila kalian terus berantem yang tidak jelas begitu. " ucap James. Mengusap lembut kepala Diana. Gadis itu tersenyum. Membuat Roy kesal melihat James.
Roy pun menarik tangan Diana dan mereka pun pulang ke rumah.
"Kenapa kamu kabur dari rumah? " tanya Roy setelah mereka duduk di dalam mobil.
.
.
.
.
.
Bersambung.
IG : gx_shi7
Terima kasih ππ
Jangan lupa dukungannya yah kesayangan. Aku pada kalian πππ
By : Nadila Sizy
#Kinaya&Samuel_LFR
__ADS_1