Belenggu Seorang Istri

Belenggu Seorang Istri
Menunggumu


__ADS_3

Tidak tahu seperti apa sekarang bentuk wajah Roy. Wajah tampannya terlihat kusut seperti benang yang terlilit tak beraturan. Hingga sulit untuk di luruskan dalam segi apapun. Lingkaran hitam di bawah matanya nampak dengan jelas bila sekali kita pandang saja.


Beberapa pelayannya sudah menunggu di depan ruang kerjanya. Berjaga-jaga bila Tuanya membutuhkan sesuatu nantinya.


Roy di malam kali ini tidak tidur seperti biasanya karena terlalu menghawatirkan keadaan adiknya tersebut. Sudah semalaman dia mencari keberadaan adiknya itu tapi dia belum juga menemukan keberadaan Diana. Dirinya bahkan belum menyentuh makan malamnya hingga pagi pun mendekat. Langit sudah berganti dengan warna kebiruan dan gelapnya malam mulai hilang perlahan -lahan.


Roy sudah menelpon beberapa orang suruhan nya untuk mencari keberadaan Diana. Tapi masih belum menemukan keberadaan Diana. Para sahabat dan teman-temannya Diana di kampus sudah Roy hubungi tapi belum ada satupun yang mengetahui keberadaan Diana.


Roy bahkan sudah mulai kelelahan. Asupan makanan belum masuk sama sekali di dalam perutnya. Dia masih mencemaskan keadaan Diana. Entah bagaimana keadaan anak itu pikirnya.


"Tuan, makanlah dulu makanannya. Bagaimana kalau nanti Tuan sakit dan hal itu akan membuat Tuan kesulitan menemukan keberadaan nona. " ucap pelayan yang sudah cukup umur. Roy terlihat tidak bersemangat ketika pelayan itu menyuruhnya makan akan tetapi apa yang di bilang oleh pelayan itu ada benarnya juga.


"Letakkan di situ makanannya, Bik. Nanti akan saya makan makanannya. " seru Roy yang membuat pelayan itu tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Pelayan itupun pergi setelah meletakkan makanan Roy di sebuah meja yang ada di sana.


"Dimana kamu, Diana. Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kamu hilang begitu saja! Ponselnya saja tidak di bawanya pergi. " lirih Roy menatap ponsel Diana yang ada di depannya.


Di tempat lain seorang suami istri terlihat bermesraan meski sudah waktunya bagi mereka untuk bersiap-siap beraktivitas seperti biasa. Pagi hari di awal pekan ini adalah dimana orang-orang terlihat lebih fresh untuk beraktivitas. Berbeda bila itu terjadi di akhir pekan. Biasanya terkhusus untuk pelajar hari sabtu adalah hari yang paling melelahkan bagi mereka. Dimana akan ada jadwal pramuka, gotong royong bahkan lebih parah lagi yaitu banyaknya tugas yang menumpuk dari sekolah.


Terlihat Samuel mengarahkan wajahnya di leher sang istri. Menghirup wangi tubuh sang istri yang terasa berbeda dari yang lainnya. Sedangkan, wanita itu terlihat terlelap dari tidurnya meski Samuel sudah mencumbui seluruh wajah dan lekuk tubuhnya.


Samuel tergelak karena tidak ada respon apapun dari Kinaya. Hanya ada keheningan dan hembusan nafas Kinaya yang terlihat dan terdengar oleh Samuel. Samuel pun menyerah dan ikut terlelap lagi bersama sang istri. Meski jam sudah menunjukkan pukul setengah 5 pagi Samuel memutuskan untuk kembali tidur. Beralasan untuk menemani sang istri.


Samuel membenamkan wajahnya di dada Kinaya lalu memeluk erat pinggang Kinaya. Dan Samuel pun kembali tertidur.


Setelah beberapa saat akhirnya Samuel kembali terbangun dari tidurnya. Samuel mendapatkan telepon dari Hiro bahwa hari ini dia ada meeting dengan klien dari Singapura. Mau tidak mau Samuel pun dengan langkah kaki yang di paksakan berjalan ke kamar mandi. Menatap wajah sang istri yang sudah siap terlebih dahulu. Kinaya sudah menyisir rambutnya di meja riasnya. Samuel pun mendekati sang istri. Berdiri di hadapan Kinaya.


"Berikan mas kecupan selamat pagi dulu. " ucap Samuel.


"Yaudah. Sini, menunduk lah. " balas Kinaya meminta Samuel untuk menundukkan kepalanya. Samuel pun mendekat dan memutuskan untuk berjongkok di hadapan Kinaya. Agar sang istri tidak kesusahan ketika akan memberinya kecupan selamat pagi.


"Sudah kan. Kalau begitu, mas bersiaplah dulu. Aku akan menyiapkan mas sarapan pagi. " ucap Kinaya. Samuel pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Setelah beberapa saat akhirnya Samuel sudah siap dengan pakaian jasnya. Kinaya sebelum keluar dari kamarnya tadi terlebih dahulu sudah menyiapkan keperluan suaminya ke kantor. Seperti pakaian, sepatu, dasi dan jam tangan suaminya. Karena Kinaya tahu bahwa Samuel sudah terbiasa dengan semua itu. Jadi, Kinaya akan menyiapkan semua itu barulah Kinaya keluar untuk menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya.

__ADS_1


Meski hanya sarapan ringan di pagi hari Samuel sudah berpesan kepada Kinaya untuk tidak terlalu kelelahan. Semalam mereka sudah sepakat dengan hal itu. Jika Kinaya melanggar maka ancaman untuk memecat semua pelayan menjadi pegangan kuat untuk Samuel agar Kinaya patuh.


Samuel melangkahkan kakinya ke meja makan setelah rapi dengan pakaiannya. Satu tangannya memegang tas kerjanya. Berjalan menuju anak tangga. Samuel pun melihat Kinaya yang sedang berada di dekat meja makan. Samuel mendekat dan memeluk erat pinggang Kinaya dari belakang.


"Sudah ya. Kita makan bareng dulu yuk. Biar Bik Yas yang melanjutkannya. " ucap Samuel menyandarkan kepalanya di bahu Kinaya. Kinaya pun tersenyum dan menyentuh pipi Samuel. Kinaya pun membawa Samuel duduk di meja makan. Kinaya mengambilkan Samuel nasi goreng putih yang dicampur dengan daun kunyit. Telur mata sapi dan sayur hijau sebagai pelengkapnya.


"Makan yang banyak, mas. " seru Kinaya. Samuel pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Kamu juga, Nay. " ucap Samuel yang memberikan suapan pertamanya kepada Kinaya. Kinaya pun menerimanya.


Setelah menyelesaikan sarapan paginya Kinaya pun mengantar Samuel ke depan.


"Jangan kemana-mana. Jika kamu mau keluar bilang sama mas atau Bik Yas. " seru Samuel. Samuel ingat bahwa kemarin istrinya itu pergi tanpa memberi tahu dirinya. Meski Kinaya tidak berbuat salah namun perasaan cemas akan kehilangan sang istri selalu membuat dirinya ketakutan. Meski Kinaya belum membicarakan masalah kemarin, Samuel juga tidak mau membahasnya. Biarkan saja itu berlalu, toh dia tidak melihat pengkhianatan sang istri di sana.


Kinaya pun menatap Samuel dan teringat dengan pertemuannya dengan Roy. "Iya mas. Oh iya, aku lupa bilang bahwa kemarin tuh aku ketemu sama seniorku yang di kampus. Dan aku lupa izin sama kamu. Maafkan aku yah. " ucap Kinaya. Samuel pun tersenyum.


"Siapa seniornya? Cowok atau cewek? " tanya Samuel beralasan.


"Kak Roy. Senior yang selalu ngebantuin aku tuh loh. " Samuel pun pura-pura menatap tidak suka kepada Kinaya.


"Mas pergi dulu ya. Jangan sampai kelelahan. Kalau butuh sesuatu bilang saja sama mas atau Bik Yas, oke. " seru Samuel memberikan ciuman di seluruh wajah sang istri. Dan ciuman lama di bibir Kinaya. Samuel pun pamitan dengan buah hati mereka.


"Papa berangkat kerja dulu ya sayangnya Papa. Jagalah Mamamu. Jangan sampai membuat Mama kelelahan. " ucap Samuel memberikan kecupan lembut di perut Kinaya. Kinaya pun tersenyum dan mengusap kepala Samuel yang ada di depannya.


"Yaudah, mas berangkatlah sekarang. Aku akan menunggu mas di rumah. " seru Kinaya mencium punggung tangan Samuel. Samuel pun tersenyum dan kembali memberikan kecupan di  kening sang istri sebelum benar-benar berangkat ke kantor.


"Yaudah. Mas pergi dulu. Dadah . " seru Samuel yang sudah berada di dalam mobilnya. Samuel terus menatap wajah sang istri sampai pandangan mereka terputus oleh jarak.


Kinaya pun masuk ke dalam rumah dan tiba-tiba ponselnya berdering. Kinaya pun mengangkatnya.


"Ada apa, Wulan?  " tanya Kinaya.


"Aku sudah berada di Indonesia. Kita ketemuan yuk. " ajak Wulan.

__ADS_1


"Baiklah. Tapi di rumah ku saja yah. Aku tidak di bolehkan keluar nih. " balas Kinaya.


"Yaudah. Nanti siang aku kesana. Aku mau istirahat dulu sebentar. " seru Wulan.


"Baiklah. Aku tunggu ya. " ucap Kinaya.


"Yaudah, aku matiin dulu yah. Anakku lagi di kamarnya sendirian. " lanjut Kinaya.


"Yaudah. Kalau begitu aku langsung istirahat dulu. " balas Wulan.


Panggilan pun terputus. Kiranya kembali ke kamarnya. Dilihatnya Reza masih belum bangun juga dari tidurnya. Kedua orang tua Samuel sudah tidak berada di sana karena kesibukan mereka masing-masing. Alhasil, Kinaya sendirian yang menjaga anaknya. Kadang-kadang bik Yas akan menemaninya dan sesekali bik Yas memberikan pelajaran tentang cara perawatan bayi. Karena itu belakang ini Kinaya sudah mulai terbiasa melakukan semuanya sendiri. Dan hal itu bisa juga ia praktekan kepada anaknya yang masih di dalam kandungannya.


"Mama sudah tidak sabar menunggumu, Nak. "Lirih Kinaya mengusap lembut perutnya sendiri.


.


.


.


.


.


Bersambung.


IG : gx_shi7


Terima kasih 😊😊


Jangan lupa dukungannya yah kesayangan. Aku pada kalian 😚😙😙


By : Nadila Sizy

__ADS_1


#Kinaya&Samuel_LFR


__ADS_2