Belenggu Seorang Istri

Belenggu Seorang Istri
Sadar


__ADS_3

Selang infus sudah di ganti untuk yang kedua kalinya. Dokter dan beberapa suster sudah beberapa kali keluar masuk ke kamar inap nya.  Namun, belum ada tanda-tanda Kinaya bangun dari tidurnya. Samuel dan keluarga mulai gelisah meski dokter sudah bilang bahwa Kinaya baik-baik saja.


"Kita tunggu sebentar lagi Tuan. Mungkin pasien  masih dalam pengaruh obat bius yang kami berikan. " jelas sang dokter.


"Bagaimana bisa saya bersabar melihat istri saya terbaring di rumah sakit ini. Meski pun dia hanya dalam pengaruh obat bius. " teriak Samuel kepada dokter itu. Nyonya Malaka pun mencoba menenangkan Samuel. Namun, pria itu masih terlihat gelisah dan khawatir terhadap istrinya. Ingin segera ia bicara dengan istrinya tersebut. Samuel yang merasa cemas pun memilih mendekati istrinya. Samuel memegang tangan Kinaya. Mencium tangan mungil istrinya berkali-kali. Kata-kata sayang dan romantis terus ia lontarkan agar Kinaya bisa mendengarnya. Namun, Kinaya masih menutup matanya. Membuat air mata Samuel terus mengalir membanjiri pipinya.


Sudah 2 jam lamanya Samuel berusaha mengajak istrinya bicara tanpa merasakan lelah dan letih sedikit pun. Tuan dan Nyonya Malaka merasa kasihan melihat putra satu-satunya. Samuel terlihat tidak semangat untuk hidup lagi. Tuan Malaka mendekati Samuel dan memberikan semangat kepada Samuel agar putranya itu tetap tegar dan sabar untuk menunggu Kinaya sadar.


"Bangunlah sayang. Jangan buat mas seperti ini. Mas tidak bisa hidup tanpamu, Nay. " Mencium jemari mungil Kinaya dan menatap sendu wajah istrinya itu.


Samuel meletakkan satu tangannya di atas perut Kinaya yang masih datar dengan pelan-pelan dan sebuah kecupan lembut namun lama di area pusar Kinaya. "Bukankah kamu ingin melihat anak kita lahir. Jadi, jangan buat mas ketakutan melihat kamu seperti ini, Nay. Mas mohon. Bangunlah, Nay. " Menundukkan kepalanya karena tidak ada respon dari Kinaya. Samuel pun mencium punggung tangan Kinaya dengan sangat lama.


Tuan dan Nyonya Malaka mendekati Samuel dan memegang bahu pria itu. Memberikan semangat agar Samuel bersabar dan tabah menghadapi cobaan yang sedang menimpanya.


"Nak. Kamu istirahatlah sayang. Istrimu pasti tidak mau melihat kamu seperti ini hanya karena dirinya. Mama dan Papa menjaga istrimu di sini. " seru Nyonya. Namun, Samuel tidak mengubrisnya dan malah mencium jemari istrinya di sela tangisnya. Dia bahkan mengacuhkan perkataan Mama dan Papanya. Namun, tiba-tiba jari kelingking Kinaya bergerak. Nyonya Malaka yang melihatnya menjadi senang dan memanggil anaknya.


"Sam ... Sam ... Kinaya istrimu. "Menepuk bahu Samuel dan menunjuk jemari Kinaya. Samuel pun menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Mamanya dan tersenyum bahagia melihat apa yang di Lihatnya. Pelan-pelan jemari mungil Kinaya bergerak Samuel serasa bersinergi lagi dan menatap mata istrinya yang perlahan-lahan sedikit terbuka.


Samar-samar wajah Samuel terlihat oleh mata Kinaya. Kinaya berusaha memanggil nama suaminya namun suaranya terasa berat. Dengan sedikit usahanya akhirnya Kinaya bisa memanggil Samuel meski tidak terlalu jelas karena suara Kinaya yang serak. Meski begitu Samuel senang mendengarnya dan memeluk Kinaya dengan berat badan masih bertumpu dengan kakinya. Jordi yang paham dengan situasi dan tahu apa yang harus dilakukan. Dia langsung memanggil dokter dan perawat. Samuel berterima kasih kepada Jordi melalui senyumannya. Jordi pun mengedipkan matanya dan ikut tersenyum bahagia melihat Samuel yang semangat lagi.


Dokter datang dengan beberapa perawat di belakangnya. Samuel dan keluarga pun menjauh dari Kinaya dan mempersilahkan dokter untuk memeriksa keadaan Kinaya. Samuel terlihat senang dan bahagia melihat Kinaya yang sudah membuka matanya. Meski belum menunjukkan reaksi sedikit pun untuk melihat ke arahnya namun Samuel tetap senang melihat Kinaya sudah sadar. Karena hal itu membuat dirinya lebih semangat lagi.


Setelah memeriksa Kinaya dan mengatakan bahwa keadaan Kinaya sudah mulai membaik Samuel pun berterima kasih berkali-kali  kepada dokter yang merawat istrinya. Setelah itu Samuel mendekati Kinaya lalu mencium lama kening Kinaya.

__ADS_1


"Makasih Nay. Terima kasih karena sudah membuka matamu. " Memeluk istrinya pelan-pelan lalu kembali mencium kening Kinaya. Kinaya tidak merespon dan dia lebih memilih menoleh ke pitcher yang berisi air putih. Samuel pun paham lalu mengambilkan air putih untuk istrinya tersebut. Samuel mengatur tempat tidur Kinaya agar dia bisa meminum air putihnya. Setelah itu Samuel membantu Kinaya meneguk air putih dari tangannya.


"Apa ada lagi yang kamu inginkan sayang? Mas akan mengambilkan nya untukmu. " seru Samuel semangat. Kinaya mengelengkan kepalanya lalu tangannya menyentuh perutnya. Bermaksud menanyakan keadaan buah hatinya yang masih di dalam perutnya tersebut. Samuel pun menjelaskannya dan mengatakan bahwa anak mereka baik-baik saja. Kinaya terlihat menghela napasnya lega.


Pelan-pelan Kinaya mencoba mengeluarkan suaranya meski tidak terlalu jelas. Dokter pun mengingatkannya agar tidak terlalu memaksakannya untuk berbicara dulu. Dokter pun juga menasehati Samuel dan keluarganya agar tidak mengajak pasien bicara terlebih dahulu. Mengingat Kinaya yang baru siuman. Samuel menganggukkan kepalanya begitu juga orang tua Samuel. Dokter pun pamit dan keluar dari kamar inap Kinaya.


Samuel mendekati Kinaya dan mengusap lembut punggung tangan wanita itu. Senyumannya tidak hilang di bibirnya. Melihat istrinya yang juga melihat ke arahnya.


"Istirahatlah mas. " seru Kinaya pelan namun masih terdengar oleh Samuel.


"Tidak Nay. Mas akan menemanimu sampai kamu tertidur. Kamu harus banyak istirahat. Mas tidak mau kamu sakit lagi. " ucapnya lembut. Kinaya paham dengan sifat suaminya. Kinaya akhirnya memilih menutup matanya agar Samuel bisa istirahat. Kinaya merasa kasihan melihat kondisi suaminya yang sangat berantakan. Dilihatnya jam di dinding sudah tengah malam. Kinaya yakin Samuel tidak istirahat seharian karena menunggu dirinya sadar. Kinaya pun istirahat agar Samuel juga bisa istirahat.


Melihat Kinaya yang sudah kembali tertidur pulas. Samuel akhirnya tertidur dengan berbantalkan dengan tangannya sendiri. Samuel bersandar di samping kasur Kinaya. Kedua orang tua Samuel memutuskan menemani anak dan menantunya. Mereka memilih untuk istirahat di ruang khusus untuk keluarga Malaka. Karena RS tersebut merupakan milik anak cabang dari Malaka Group. Jadi, ada tempat khusus untuk keluarga mereka menginap di sana.


"Aku tidak akan kemana-mana mas. Kamu pasti tidak nyenyak tidurnya disana. " seru Kinaya pelan.


"Mas... ." Panggil Kinaya.


"Mas... . " panggil Kinaya lagi. Samuel pun mencoba membuka matanya dan menatap Kinaya dengan senyuman di bibirnya.


"Kamu sudah bisa bicara normal Nay. Mas senang mendengarnya. " bangun dari duduknya lalu mencium lembut kening Kinaya lama. Kinaya tersenyum dan memejamkan matanya.  Kinaya segera mengeser tubuhnya membuat Samuel khawatir dan menghentikan usaha Kinaya untuk bergerak dari tempat tidurnya.


"Jangan Nay. Jangan terlalu banyak gerak. Apa kamu butuh sesuatu? Bilang saja sama mas. Mas akan melakukan apapun yang kamu minta.  " jelas Samuel. Kinaya mengelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tidurlah di sampingku mas. Pasti tidak enak tidur sambil duduk seperti tadi. " balas Kinaya yang langsung mengeser posisinya dan menepuk tempat tidur di sampingnya.


"Tapi Nay.... "


"Kalau begitu tinggalkan aku sendiri disini mas dan mas istirahatlah di rumah. " pinta Kinaya yang membuat Samuel mengelengkan kepalanya dan segera naik ke atas kasur Kinaya. Kinaya pun langsung meminta Samuel untuk memeluknya. Sebelum Kinaya menyelesaikan kalimatnya Samuel langsung memeluknya dan mencium pucuk kepala Kinaya.


"Tanpa kamu minta mas sudah sangat menginginkannya darimu Nay. " seru Samuel mencium pucuk kepala Kinaya lama. Samuel langsung memeluk Kinaya pelan. Takut akan menyenggol alat infus Kinaya. Kinaya tersenyum mendengar kalimat Samuel lalu meletakkan kepalanya di dada Samuel.


"Sebenarnya apa yang terjadi padaku mas. Aku  sangat khawatir kemarin. Aku takut kehilangan anak kita mas. " menyentuh perutnya.  "Aku takut anak kita meninggalkan kita mas. Aku takut dengan semua itu. " Mengusap perutnya sendiri. Samuel pun ikut meletakkan tangannya di perut istrinya.


"Tidak akan mas biarkan hal itu terjadi Nay. Mas tidak akan membiarkan anak kita meninggalkan kita. Dia adalah hidupmu dan kalian berdua adalah hidup mas Nay. Mas tidak akan bisa hidup tanpa kalian berdua. " Mengusap perut Kinaya dan mencium lama pucuk kepala Kinaya.


.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2