
Rasa penyesalan maraung-raung di hati Samuel. Sungguh tidak ada maksud dirinya untuk membuat istrinya itu pingsan. Karena rasa kekhawatirannya akan keselamatan istrinya tersebut membuat Samuel lepas kendali sehingga tidak menyadari istrinya itu saat ini dalam keadaan yang lemah.
Sudah hampir 2 jam lamanya kata-kata penyesalan terlontarkan di bibirnya. Tapi, istrinya itu belum sadarkan juga. Kinaya masih betah dengan tidurnya. Sudah 3 kali dokter yang di panggil Samuel memeriksa keadaan istrinya tersebut tapi Kinaya belum sadarkan juga.
Dokter mengatakan kandungan Kinaya sangat lemah. Istrinya itu tidak boleh kelelahan. Dan paling penting. Jangan buat perasaannya sedih. Hal itu akan membuat kandungan Kinaya ikut dalam masalah juga.
Satu hal yang menjadi awal permasalahan ini. NAURA. Gadis itulah yang membawa istrinya keluar dari rumah. Samuel pun beranjak dari posisinya yang sebelumnya berada di samping kasur sang istri. Samuel melangkahkan kakinya ke kamar sang adik. Dilihatnya Naura tengah telponan dengan seseorang. Gadis itu tertawa. Tidak ada rasa khawatir terhadap keadaan istrinya saat ini.
Samuel marah melihat kebahagiaan adiknya itu. Samuel pun mendekati Naura. Merampas ponsel Naura lalu membantingnya ke lantai hingga ponsel itu berserakan di bawah dekat kakinya.
"Apa yang kakak lakukan? " tanya Naura ketakutan melihat kemarahan kakaknya.
"Kamu sengaja melakukannya. Siapa yang menyuruhmu, huh ? " tanya Samuel dingin.
"Apa maksudmu, Kakak? " tanya Naura.
"Aku tahu kamu merencanakan semua ini. Kamu sengaja membuat istriku lemah dan berbaring di tempat tidurnya seharian. " ucap Samuel.
"Sekarang enyah dari rumahku dan jangan pernah kamu injakkan kakimu di rumah ku lagi. " Samuel menarik paksa tangan Naura. Gadis itu sampai tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan oleh Samuel kepadanya. Yang Naura tahu Samuel tidak akan sampai seperti ini kepadanya. Hanya karena Kinaya yang tidak sadarkan diri. Samuel sampai tega mengusirnya seperti maling. Dulu, Samuel sangat memanjakannya. Bahkan, tidak tega melihatnya menangis.
"Apa kakak tega mengusirku dari rumah kakak? " tanya Naura. Naura menepis kasar tangan Samuel. Samuel pun menghentikan langkahnya. Membalikkan badannya untuk melihat ke arah adiknya itu.
"Kau bukanlah adikku. Adikku tidak akan tega menyakiti orang lain. Sekarang enyahlah dari rumahku. " usir Samuel.
"Mas. " panggil Kinaya yang berhasil membuat Samuel menoleh ke sumber suara. Samuel melihat sang istri tengah berdiri di ujung tangga paling atas.
"Sayang. " balas Samuel. Samuel pun sejenak melupakan adiknya. Samuel melangkahkan kakinya ke arah istrinya itu.
"Kamu sudah sadar? Apa ada yang sakit? Kenapa kamu keluar dari kamar? Kita ke dalam, ya. " ucap Samuel mencoba membawa istrinya kembali ke kamarnya. Tapi, Kinaya menahan tangan Samuel.
"Kenapa mas mengusir Naura dari sini? " tanya Kinaya menoleh ke arah adik iparnya. Samuel pun menatap dingin adiknya itu.
"Jangan lagi mas. Jangan tunjukkan wajah seperti itu lagi. Aku takut melihatnya. " Kinaya menjauh sembari memegang perutnya. Samuel pun sadar. Istrinya itu tidak boleh ketakutan. Samuel pun berusaha untuk tersenyum. Lalu mengusap dan memegang kedua bahu istrinya.
"Mas tidak akan melakukannya lagi. Sekarang kita ke kamar ya. " ucap Samuel tersenyum hangat kepada istrinya. Kinaya pun menoleh ke arah Naura. Samuel paham. Lalu, mencoba menjelaskan kepada istrinya itu.
__ADS_1
"Kamu jangan takut ya. Mas melakukannya untuk keselamatanmu juga. Jadi, jangan buat mas merubah apa yang telah mas lakukan, ya. " ucap Samuel berkata hangat kepada istrinya itu. Kinaya pun paham dengan apa yang telah dilakukan oleh suaminya itu. Kinaya paham dengan maksud ucapan Samuel. Kinaya pun mengikuti langkah kaki Samuel yang membawanya ke kamar.
"Sekarang kamu harus banyak istirahat. Apa kamu butuh sesuatu, Nay? " tanya Samuel.
"Aku mau minum, mas. " ucap Kinaya.
"Yaudah, akan mas ambilkan. Kamu tunggu sebentar, ya. " ucap Samuel menyelimuti tubuh sang istri. Kinaya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Beberapa saat setelah itu. Samuel datang dengan membawakan segelas air putih. Samuel juga membawakan makanan untuk sang istri. Agar Kinaya bisa meminum obatnya.
Samuel pun duduk di samping sang istri.
"Kata dokter kamu butuh tenaga yang banyak. Jadi, kamu harus makan nasi dan obatnya ya. " ucap Samuel. Kinaya tidak menjawab tapi terlihat kepalanya manggut-manggut.
Samuel pun dengan sabar menyuapi istrinya tersebut. Sampai akhirnya makanan di piring kandas tak tersisa sedikit pun.
"Sekarang kamu harus istirahat. Mas akan menemanimu. " ucap Samuel ikut berbaring di samping istrinya. Memeluk tubuh sang istri. Membenamkan wajah sang istri di dadanya. Samuel pun mengusap-usap lembut punggung belakang Kinaya. Karena efek pengaruh obat yang di minumnya. Kinaya pun mulai merasa mengantuk. Matanya pun terpejam setelah Samuel memberikan kehangatan padanya.
Melihat istrinya yang sudah tertidur. Samuel pun perlahan-lahan melepaskan pelukannya. Samuel pun menyelimuti tubuh sang istri. Lalu, memberikan kecupan lembut di kening sang istri.
Setelah melihat istrinya tertidur pulas. Samuel pun keluar dari kamarnya. Samuel melangkahkan kakinya keluar. Dilihatnya Naura masih berdiri di tempat yang ia tinggalkan tadi. Samuel pun berjalan ke arah Naura. Samuel duduk di sebuah kursi single yang ada di sana. Samuel duduk seperti penguasa yang siap menghakimi lawannya.
"Aku akan memaafkan kamu. Tapi, katakan terlebih dahulu siapa yang menyuruhmu melakukan semua ini. Atau mungkin kamu telah bersekongkol dengan seseorang. " ucap Samuel dingin. Menatap tajam kepada adik sepupunya itu. Naura pun mengelengkan kepalanya. Tidak mau mengatakan semuanya.
"Baiklah. Jika kamu tidak mengatakan yang sebenarnya maka bersiap-siaplah untuk di coret dari nama keluarga besar Malaka. Dan merampas semua yang keluarga kamu miliki." ancam Samuel yang berhasil membuat Naura angkat suara.
"Baiklah. Tapi, jangan kakak ambil semua yang orang tuaku miliki. " balas Naura. Samuel pun tersenyum menyeringai. Bibir kanannya terangkat ke atas.
"Heh. Itu tergantung. Sekarang cepat katakan yang sebenarnya. " ucap Samuel ketika mengingat kembali kejahatan orang tua Naura. Orang tua Naura sudah berkali-kali mencoba menjauhkan Kinaya darinya. Karena itu, Samuel tidak mau memberikan belas kasihan lagi. Sudah cukup ia memberikan keringanan. Tidak ada kesempatan lagi untuk menerima kata maaf dari mulut mereka.
"Ini rencana mama. Mama tidak mau keluarga kita ada yang berasal dari perempuan yang tidak jelas seperti Kinaya. " ucap Naura berlutut di depan Samuel.
"Panggil istriku dengan benar. Beraninya kamu memanggil istriku hanya dengan namanya saja. Apa kamu lebih tua darinya, huh? " tanya Samuel meradang. Naura pun mengelengkan kepalanya.
"Iya, Kak. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku, Kak. " ucap Naura. Terlihat Samuel mendesah kasar. Mencoba mengontrol emosinya agar tidak mengganggu tidur sang istri.
__ADS_1
"Baiklah. Sekarang kamu bisa keluar dari sini. Jangan pernah berharap aku mengizinkan kamu tinggal di sini lagi. " ucap Samuel berdiri dari duduknya. Lalu, pergi menyusul sang istri yang tertidur di kamarnya. Masalah perusahaan telah di handle oleh sahabatnya, Jordi. Sehingga, Samuel bisa bersantai dengan istrinya tersebut.
Samuel ikut berbaring di samping sang istri. Melingkarkan tangannya di pinggang Kinaya yang sudah mulai menonjol. Samuel menyelipkan wajahnya di leher sang istri. Menghirup aroma di leher mulus tersebut. Samuel pun ikut tidur siang dengan istrinya.
...•••••...
Setelah beberapa jam tertidur. Samuel pun bangun dari tidurnya. Dilihatnya sang istri masih tertidur. Samuel pun tersenyum lalu memberikan kecupan lembut di kening Kinaya.
Samuel memutuskan untuk membersihkan dirinya.
Kurang lebih 10 menit. Samuel pun keluar dari kamar mandi. Samuel pun melangkahkan kakinya ke ruangan ganti pakaian. Samuel memilih pakaian kasual berwarna army. Dengan celana lepis selutut berwarna hitam.
Samuel masih melihat sang istri tertidur. Sepertinya istrinya itu sangat kelelahan. Mengingat kejadian siang tadi masih membuat Samuel emosi. Tapi, ia mencoba meredam kekesalannya. Satu kecupan lama ia berikan di bibir sang istri setelah itu Samuel meninggalkan Kinaya sendirian di kamar.
Samuel pun memutuskan untuk melihat putranya. Dilihatnya Bik Yas tengah bermain dengan sang putra di hamparan taman yang sudah di berikan tikar di atas rumput hijau agar Reza tidak kena kotoran.
Bik Yas yang melihat Samuel mendekat. Bik Yas pun berdiri. Memberikan hormat kepada Tuannya.
"Apa Reza sudah mandi, Bik? " tanya Samuel mendekat.
"Sudah, Tuan. " jawab Bik Yas.
"Yaudah, Bibik bisa pergi kebelakang. Reza biar saya yang urus. " balas Samuel mengambil Reza dan membawanya duduk di pangkuannya. Samuel ikut duduk di tikar tersebut.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1