
...Happy Reading readers πΌπΌπΌ...
...Jangan lupa like dan komentarnya yaπ»π»π»...
...Terima kasih karena selalu mendukung karyaku πΈπΈπΈ...
...β’β’β’β’...
Keesokan harinya. Samuel sudah bersiap-siap untuk pergi ke lapangan, tempat perusahaannya membuat masalah tersebut. Hari ini Samuel berencana untuk tidak mengajak Kinaya akan tetapi istrinya itu merengek minta ikut. Bosan sendirian di kamar alasannya. Samuel pun dengan sangat terpaksa membawa Kinaya. Dengan syarat tidak boleh mengulang kejadian seperti kemarin.
"Aku tidak akan kemana-mana, mas. Jika pun aku pergi, aku akan membawa mas juga. " Kinaya berdecak dengan tangannya melipat di dadanya.
"Mau pergi atau tidak? " tanya Samuel ketika masih melihat wajah kesal istrinya itu. Kinaya langsung mengeluarkan wajah imutnya. Membuat Samuel tidak tahan. Samuel pun mendekat lalu memberikan ciuman panas di bibir mungil Kinaya.
"Ayuk. " ucap Samuel memberikan lengannya agar Kinaya bergelayut manja di sana. Kinaya pun menerima dengan bahagianya.
"Mas. Aku mau makan lontong di sini dulu ya. Kita cari tempat jual lontong terenak di sini baru berangkat kerjanya. " ucap Kinaya di sela-sela mereka turun ke loby.
"Maaf, Nay. Mas tidak bisa. Mas harus cepat menyelesaikan semuanya hari ini agar kita bisa pulang lebih awal. " ucap Samuel yang membuat Kinaya terdiam. Tidak bisa juga membantah ucapan Samuel karena mereka ke sini karena urusan pekerjaan. Bukan untuk memuaskan hati menikmati kekayaan negeri orang. Samuel paham dengan raut wajah sang istri yang berubah.
Hari ini Samuel tidak membawa mobilnya sendirian. Samuel menyewa sopir yang di sediakan oleh pihak hotel. Samuel pun mengetik sesuatu di ponselnya. Setelah selesai, Samuel pun fokus pada istrinya yang ada di sampingnya yang sedang bersandar di bahunya. Samuel pun tersenyum melihat wajah murung sang istri. Samuel mengusap lembut kepala Kinaya. Sesekali mengelus perut Kinaya. Memberikan kehangatan pada anaknya.
Lihatlah. Mamamu kalau murung sangat mengemaskan. Papa jadi gumusshh melihatnya. Kita lihat bagaimana reaksi Mama saat tiba nanti. Samuel tersenyum hangat.
Tidak ada pembicaraan selama mereka di dalam mobil. Samuel sendiri menyibukkan diri dengan laporan yang di terimanya dari kantor pusat. Sesekali Samuel mengusap punggung Kinaya yang ada di sampingnya. Memberikan kenyamanan untuk istrinya itu.
Beberapa saat setelah itu. Mobil pun berhenti di tempat mereka kunjungi kemarin. Hari ini adalah hari penentuan akhir permasalahan yang ada. Samuel tidak mau ambil pusing. Samuel juga tidak mau usahanya ke sini sia-sia.
Rencananya Samuel akan mengajak sang istri jalan-jalan di sekitar provinsi Sum-bar. Samuel sudah mencari tahu di internet bahwa Bukittinggi adalah kota yang masih asri. Beberapa daerah di sana masih memiliki adat-istiadat yang kental akan kebudayaannya.
Samuel tentunya tidak mau menyia-nyiakannya keberadaannya yang sekarang berada di kota Sum-bar. Samuel ingin mengajak istrinya menikmati pemandangan kota Bukittinggi sebelum kepulangan besok.
__ADS_1
Sudah hampir 3 jam lamanya. Akhirnya semua permasalahan yang ada terselesaikan juga. Samuel langsung membawa sang istri jalan-jalan di kota Bukittinggi. Samuel juga mengajak sekretaris, Hiro. Samuel tahu sekretarisnya itu jarang libur karena kesibukan dirinya menjaga sang istri. Samuel pun memutuskan untuk membebaskan pria itu seharian ini. Terserah dia mau kemana asal jangan nyasar di rumah orang saja, wkwkwkwk.
"Emang kita mau kemana, kak? " tanya Seila mengikuti langkah kaki kakaknya.
"Kakak juga tidak tahu. Presdir memberikan kebebasan untuk kakak seharian ini. Emm, apa kamu mau membeli sesuatu? Kakak akan menemanimu seharian ini. " ucap Hiro mengusap kepala adiknya.
"Cih. Carilah wanita untukmu, kak. Aku bisa mengurus diriku sendiri. " Seila meledak kakaknya yang sampai saat ini masih tahan ngejomblo. Hiro pun tersenyum tipis.
"Huh, jika ada waktu kakakmu ini pasti sudah memiliki 2 atau 3 anak saat ini. Hanya saja pekerjaan ini membuat kakak tidak ada waktu untuk memikirkan tentang memiliki seorang kekasih. " terdengar getir tapi Hiro usahakan untuk tetap tersenyum. Menengadahkan kepalanya ke langit-langit yang tidak terik sehingga ia bisa melihat langit yang tidak terang namun ada gelap -gelapnya sedikit. Sehingga ada biru di samping abu-abu.
Kembali ke pasangan suami istri yang romantis.
"Kita mau kemana, mas? " tanya Kinaya memperhatikan di balik trotoar jalan yang di penuhi oleh rumah-rumah tradisional Minangkabau. Kinaya memperhatikan 2 buah bangunan Rangkiang. Kinaya pun bertanya kepada Samuel.
"Itu untuk apa ya mas? Apa itu kotak pos? " tanya Kinaya dengan wajah polosnya. Samuel pun tersenyum lalu mengusap lembut kepala Kinaya.
Saat ini mereka sudah berdiri tepat di depan Rumah Gadang. Samuel menemani istrinya keliling halaman rumah Gadang.
"Itu bukan tempat kotak pos, Nay. Itu namanya Rangkiang. Biasanya orang-orang di sini menggunakannya untuk menyimpan padi hasil panen mereka. Kamu ada-ada saja bilang itu kotak pos. " Samuel menertawani kebodohan istri manisnya. Kinaya pun tersenyum geli sembari mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Samuel pun membawa Kinaya keliling di dalam rumah Gadang. Hingga tak terasa sudah 1 jam lamanya mereka di sana. Samuel pun membawa Kinaya keliling pusat kota Bukittinggi. Menunjukkan kepada istrinya bentuk jam Gadang. Tempat yang memiliki sejarah yang tidak terlupakan orang pada masanya atau biasa disebut orang isuk -isuk di Minangkabau.
"Wah, jamnya sangat besar mas. Seperti di luar negri itu. Aku lupa namanya. Apa ya? "Kinaya berusaha mengingat dengan otak kecilnya. Seperti ada benang kusut di atas kepala Kinaya saat ini yang berhasil membuat Samuel tersenyum bahagia. Entah kenapa Kinaya terlihat mengemaskan dengan kebodohannya tersebut. Kebodohan Kinaya membuat dirinya merasa menjadi pelengkap wanita itu. Merasa kehadirannya sangat di butuhkan oleh wanita itu. Samuel nyaman dengan wanita bodoh itu. Berharap Kinaya selalu seperti ini selamanya sehingga Kinaya tidak bisa jauh-jauh darinya.
"Big Ben, Nay sayang. " Samuel mencubit gemes pipi Kinaya. Entah kenapa tangannya sudah gatal untuk mencubit pipi yang chubby tersebut.
__ADS_1
"Nah itu maksudnya. " balas Kinaya nyengir kuda. Tanpa dosanya tidak mau mengakui otaknya yang pas-pasan. Kinaya pun memukul dada Samuel setelah itu.
"Kenapa, Nay? " tanya Samuel.
"Keluarkan ponselnya, mas. Aku mau mengabadikannya. " ucap Kinaya semangat. Samuel pun tersenyum lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Samuel menarik pinggang sang istri hingga tidak ada jarak di antara mereka.
"Mari kita abadikan bersama dan kita tunjukkan kepada anak-anak kita nantinya. " ucap Samuel mencium bibir mungil Kinaya lalu, cekrek. Satu foto yang di abadikan dengan Samuel yang mencium bibir manis Kinaya.
"Iih mas ini. Jangan cium-cium. Malu dilihattin orang-orang. " Kinaya memukul dada Samuel. Samuel pun tersenyum dan kembali memfoto diri mereka dengan background jam Gadang yang berwarna putih itu.
.
.
.
.
.
Bersambung.
...INGAT! SIMBIOSIS MUTUALISME π...
IG : gx_shi7
Ikuti IG ku yah. Di sini akan ada Visual - visual para pameran novel ku. Dan nanti boleh bertanya-tanya seputar Update novel kesayangan kalian.
Terima kasih ππ
Jangan lupa dukungannya yah kesayangan. Aku pada kalian πππ
__ADS_1
By : Nadila Sizy
...#Kinaya&Samuel_LFR...