
Samuel membawa Kinaya masuk kedalam. Melirik mata istrinya yang sembap lalu membaringkan Kinaya di kasur. Kinaya langsung menangkap tangan pria itu ketika dia hendak keluar. Dengan mata memelas dia meminta agar Samuel ikut tidur di sampingnya. Samuel pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mengangkat selimut keatas lalu memasukkan kakinya ke bawah selimut.
" Apa anak ayah begitu kangen pada ayah, huh. " Mengelus perut yang masih datar,
" Dan tidak mau ditinggal oleh ayah nak? " tanya Samuel mencium perut Kinaya yang masih datar. Kinaya tersenyum mendengar obrolan Samuel dengan anaknya yang belum berwujud itu dan ia lebih memilih merebahkan kepalanya di dada Samuel dan satu tangannya memegang perut Sixpack Samuel.
" Apa yang akan terjadi pada Laras nanti mas? "Kinaya mendongakkan kepalanya menatap wajah Samuel. Mencoba menenangkan pikirannya dengan sedikit meminta saran dari Samuel. " Apalagi jika dia tahu bahwa aku sudah hamil anakmu. " membenamkan wajahnya di dada Samuel.
Samuel menatap lekat mata Kinaya yang penuh dengan rasa penyesalan, " Kamu tidak perlu memikirkan dia. Sekarang kamu tidur saja Nay. Mas lelah dan malas memikirkan itu. Besok Akan mas pikirkan caranya. Sekarang kita istirahat saja yah. " seru Samuel memeluk erat Kinaya kedalam pelukannya dengan erat.
" Tapi mas..." seru Kinaya mengantung karena Samuel lebih duluan memotong sangahhannya.
" Ssstt mas lelah Nay. Udahan ya. " Samuel menutup mulut Kinaya dengan jari telunjuknya lalu membenamkan kepala Kinaya di dadanya. Kinaya tidak bisa melawan lagi, dia nyerah dan memilih untuk diam lalu memejamkan matanya.
Beberapa jam setelah itu Kinaya terbangun dari tidurnya. Dia melihat Samuel masih terlelap. Kinaya memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah selesai Kinaya memilih pakaian santai karena hari ini dia memutuskan untuk bersantai di rumah mertuanya. Beberapa menit setelah itu Samuel terbangun dan tidak mendapati Kinaya disisinya. Samuel pun turun dari tempat tidur dan mencari keberadaan istrinya. Dilihatnya Kinaya tengah berada di sisi Mamanya, Samuel pun tersenyum dan memutuskan untuk membersihkan dirinya ke kamar mandi. Setelah selesai dia pun pergi ke tempat istrinya bersantai di ruang keluarga. Samuel duduk disisi Kinaya. Mama Samuel duduk disisi sebelahnya lagi. Mama Samuel menatap sebal sama anaknya itu.
" Kenapa kamu disini? Apa kamu akan membawa menantu dan calon cucu Mama lagi? Ayuk sayang. Kita lebih baik menjauh darinya. Kalau tidak dia akan menganggu kita lagi." sindir Nyonya Malaka kepada putranya.
" Apa yang Mama lakukan? Aku mau di dekat istriku "seru Samuel kesal karena Mamanya berusaha menjauhkan nya dari istrinya.
" Mama hanya mau mengajak istrimu keluar sebentar. Kebetulan bunga-bunga di taman Mama lagi bermekaran. " seru Nyonya Malaka datar.
" Aku akan ikut. " seru Samuel yang hendak berdiri namun dihentikan oleh Mamanya.
" Tidak boleh. Ini urusan wanita. Kamu disini saja bersama Ayahmu. Akan ada banyak urusanmu bersama Ayahmu ketimbang kamu ikut dengan kami. " Nyonya Malaka menatap suaminya. Tuan Malaka hanya mangut-mangut sembari menyesap teh di depannya.
" Tapi Ma..."
__ADS_1
" Mas ... jangan berdebat lagi dengan Mama. Aku hanya ke taman saja. Nanti aku akan menemui kamu lagi. " Kinaya menatap Samuel. Setelah pergi dia hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya yang tidak mau berpisah dengannya, meski dia sudah di temani oleh Mertuanya.
" Dia bahkan tidak mau aku lama-lama pisah dengannya Ma. "Kinaya tersenyum menyeringai hangat karena melihat ulah suaminya.
" Itu karena dia mencintaimu sayang. Mama ikut senang melihat kedekatan kalian berdua. Mama senang lihat kalian berdua yang tidak terpisahkan. " Nyonya Malaka menatap wajah Wanita di sampingnya dan menepuk punggung tangan wanita di sampingnya itu, " berjanjilah kalau kalian selalu bersama. Mama akan senang bila melihat kalian bahagia. " seru Nyonya Malaka tersenyum.
Maafkan aku Ma. Aku hampir saja merusak kepercayaan mu. Aku janji akan mempertahankan hubunganku dengan mas Samuel.
Setelah tiba di taman. Kinaya menatap lekat bunga-bunga yang baru bermekaran itu. Dia berjongkok dan memetik satu bunga di depannya, " Mama pasti merawat bunga ini. Dia terlihat segar dan wanginya ... umm ... ini wangi sekali Ma. " Kinaya menghirup wangi bunga itu. mengelus-elus mahkota bunga itu dan sekali lagi mencium wangi bunga yang dia petik.
" Apa kamu suka, Nak! " Nyonya Malaka mendekati Kinaya, " kalau kamu suka Mama akan mengirimkannya ke rumahmu nanti. Atau biar Mama tanam juga di rumahmu, sayang. "Memegang satu bahu Kinaya. Kinaya pun berbjnar-binar matanya mendengar kalimat Nyonya Malaka.
" Apakah boleh, Ma! Kalau begitu aku mau Ma." seru Kinaya bahagia.
" Baiklah. Habis kamu pulang akan Mama kirimkan bunganya. " berpindah mengelus-elus kepala Kinaya dengan senyuman tulus seorang Ibu pada anak kandungnya sendiri.
" Makasih Ma. Kinaya memeluknya Nyonya Malaka dengan erat. Membenamkan kepalanya di dada mertuanya.
" Kita masuk ke dalam rumah, yuk. Cuacanya sudah mulai dingin. " seru Nyonya Malaka tersenyum lalu memegang tangan Kinaya agar juga ikut masuk ke dalam rumah.
Saat Ibu dan istrinya masuk. Samuel langsung menoleh kearah 2 wanita yang amat dia sayangi itu. Dia menghentikan sebentar obrolannya bersama Ayahnya. Samuel tersenyum kepada Kinaya dan mengisyaratkan kepada Kinaya bahwa dia masih ada beberapa urusan bersama Ayahnya. Kinaya paham dan memutuskan untuk masuk duluan ke kamar. Namun, sebelum Kinaya ke kamarnya, dia memutuskan untuk membawa air minum kedalam kamarnya. Kinaya mengambil pitcher yang ada di lemari. Kinaya sedikit berjinjit karena pitchernya ada di lemari yang ada di dinding dapur. Lemari itu lumayan tinggi. Kinaya hampir menjangkau pitcher itu di tangannya dan hampir dia genggam pitcher itu. Disaat pitcher itu dia tangkap sempurna dengan tangannya tiba-tiba pitcher itu terjatuh dan membentur kepala Kinaya. Membuat Kinaya meringis dan mengusap keningnya yang sakit. Dan suara dari pitcher yang jatuh itu membuat Samuel dan Ayahnya terkejut sehingga mereka menghampiri dapur.
Samuel segera mendekati istrinya yang terlihat menahan rasa sakit di keningnya. Dia menyentuh kening istrinya yang memerah. Dia tiup kening mulus istrinya dan memindahkan Kinaya untuk duduk di kursi yang ada di dapur itu.
Samuel sedikit khawatir. " Kenapa kamu tidak bilang aja sama mas kalau kamu butuh sesuatu Nay? " tanya Samuel meniup kening istrinya. " Apa ini sakit? Apa kita ke dokter saja agar mereka memberimu obat pereda rasa sakit Nay? " Samuel merasa bersalah karena membuat Kinaya terluka.
" Aku tidak apa-apa mas. Hanya kejedot sedikit saja. Di tiup dan kasih obat dingin pasti sembuh. " Kinaya menolak di bawa ke dokter karena baginya ini bukanlah apa-apa.
__ADS_1
" Kalau begitu kamu bawa saja istrimu ke kamar Sam. Beri dia salep dan obat untuk kening istrimu. " seru Ayah Samuel, " oh, iya. Dimana mamamu, Nak? " tanya Ayah Samuel ke Kinaya.
" Mama sudah ke kamar Yah." Balas Kinaya.
"Yaudah, kalian langsung saja ke kamar. Dan beristirahatlah. Kalau ada apa-apa panggil saja Ayah, okey. "
" Baiklah Yah." balas Samuel. Samuel pun membawa Kinaya masuk ke kamar mereka, " lain kali kalau ada apa-apa tu panggil mas yah Nay. Mas tidak mau hal ini terjadi lagi." Samuel memapah Kinaya masuk ke dalam kamar mereka.
" Iya mas. Aku juga tidak tahu kalau ini akan terjadi. " balas Kinaya.
" Yaudah, sekarang kamu berbaring dulu. Mas akan mengambil salep dingin dulu." Samuel membaringkan Kinaya di kasurnya, " bentar ya Nay. " Samuel pergi mencari obat untuk Kinaya.
Setelah beberapa saat.
Samuel mendekati Kinaya dan duduk di samping Kinaya. " Mas akan memakainya. Kamu istirahat saja Nay." Samuel menghentikan langkah Kinaya yang hendak duduk dari tidurnya. " Apa ini sakit? " Samuel memastikan lagi.
"Tidak apa-apa mas. Makasih yah udah perhatian sama aku." balas Kinaya tersenyum.
" Ini bukanlah apa-apa bagi mas Nay. Jangan berterima kasih untuk hal yang tidak perlu lagi, okey. " Samuel kembali meletakkan salep itu ke laci di nakas kamarnya. " sekarang kamu istirahat yah. "Samuel berdiri dan ikut berbaring di samping Kinaya. Dia menghadap ke arah Kinaya lalu memeluk erat pinggang Kinaya. " Mas akan menjaga kamu. Kamu istirahatlah Nay. " Samuel mencium kening istrinya agar merasa mendingan. Setelah beberapa saat dan mendapatkan perhatian penuh dari Samuel, Kinaya pun kembali tertidur. Samuel masih setia meniup kening istrinya dengan sekali-kali mencium kening yang sudah memerah itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.