
Beberapa hari kemudian. Di kediaman Tuan Malaka.
"Pa. Mama kangen Kinaya. Kita main ke rumah mereka yuk. Sore kita balik lagi, yah. " Nyonya Malaka membujuk suaminya untuk pergi menjenguk menantunya.
"Baiklah. Tapi Papa selesaikan ini dulu yah. " seru Tuan Malaka tersenyum lalu sekilas mengusap kepala Nyonya Malaka.
Meski Samuel sudah menjadi seorang suami. Tuan dan Nyonya Malaka selalu terlihat romantis. Hal ini mereka lakukan karena mereka saling mencintai dan menyayangi. Mereka juga ingin menunjukkan kepada anak-anaknya bahwa komunikasi antar suami istri sangatlah di butuhkan untuk menjaga hubungan di antara suami istri.
Setelah beberapa saat akhirnya Tuan Malaka menyelesaikan pekerjaannya. Dia langsung mengenggam tangan istrinya dan mengajaknya bersiap-siap. Setelah selesai mereka pun langsung pergi ke kediaman Samuel dan Kinaya.
Setelah beberapa menit akhirnya mereka pun tiba di kediaman Samuel dan Kinaya.
"Assalamualaikum. Sayang Mama datang. " seru Nyonya Malaka. Dilihatnya Kinaya tengah duduk di sofa dekat ruang keluarga. Sembari meneguk susu hamilnya. Nyonya Malaka pun mendekati Kinaya.
"Loh. Kemana suamimu Nak? Kenapa kamu sendirian! Bukankah sekarang hari libur? " seru Nyonya Malaka berturut-turut. Dia pun melihat sekeliling rumah untuk mencari keberadaan anak semata wayangnya itu. Kinaya pun paham lalu memegang tangan Mamanya yang sedang berada di sampingnya. Dia tersenyum melihat wajah Mamanya.
"Ma. Mas Samuel sedang keluar sebentar. " seru Kinaya tersenyum.
"Keluar. Jadi Samuel keluar dan pergi meninggalkan kamu sendirian di rumah? "Nyonya Malaka kesal namun Kinaya berusaha menenangkan Mamanya.
"Mama jangan marah dulu. Mas Samuel pergi karena aku juga yang memintanya. Jadi, Mama jangan marah sama mas Samuel yah. " seru Kinaya tersenyum. Nyonya Malaka pun ikut tersenyum lalu memberikan Kinaya buah yang ada di atas meja. Tuan Malaka sendiri memilih duduk di sofa yang ada di dekat dua wanita itu.
"Mama kalau sudah berduaan jadi lupa dengan Papa. Kayaknya, Papa tidak boleh sering-sering membawa Mama kesini. Biar kita bisa berduaan. " seru Tuan Malaka tersenyum. Lalu langsung sibuk dengan ponselnya. Kedua wanita itu hanya bisa tersenyum karena mereka berpikir anak dan ayah sama saja. Namun mereka bahagia karena memiliki cinta dan kasih sayang dari suami yang sangat mencintainya.
"Papa ini bagaimana sih. Kepada menantu saja masih cemburu. Taruh cemburu Papa itu pada tempatnya, okey Pa. " Nyonya Malaka menyindir dengan menatap sang suami dengan ekor matanya.
"Baiklah. Karena Papa sayang Menantu Papa satu-satunya ini jadi Papa biarkan kalian berduaan. " Mengusap kepala Kinaya. "Kalian bersenang-senang lah. Lebih baik menunggu putra Papa kembali sembari melihat senyuman kalian itu. " seru Tuan Malaka lalu tersenyum melihat dua wanita yang dia sayangi dan cintai itu.
__ADS_1
Setelah beberapa menit akhirnya Samuel datang dengan tangannya membawa dua kantong plastik. Samuel mengedarkan pandangannya. Melihat dimana keberadaan sang istri. Dilihatnya Kinaya tengah berduaan dengan Mamanya. Dan sang Ayah tengah memperhatikan dua wanita itu. Samuel pun mendekati mereka.
"Ma. Pa. Kapan Mama dan Papa datang? " tanya Samuel mendekati Kinaya lalu memberikan kecupan di pipi istrinya. Samuel pun ikut duduk di samping istrinya. Nyonya Malaka sendiri memilih untuk duduk di sofa yang dekat dengan Tuan Malaka agar putranya bisa duduk bersama istri tercintanya.
"Barusan. Mamamu merengek untuk menemui istrimu. Jadi, Papa tidak bisa menolak dan langsung datang kesini. " Tuan Malaka meletakkan tangannya di pinggang sang istri lalu tersenyum. Dia pun mendapat cubitan di pinggang oleh istrinya.
"Mama kan bosan Pa. Lagian rindu pada anak sendiri apa salahnya coba. Kita kan Mama dan Anak sudah biasa saling merindukan bukan. " Menatap Samuel dan Kinaya bergantian.
"Ya, ya. Jika sudah berada di sini maka bersenang-senang lah kalian. Cih. " sindir lembut Tuan Malaka pada Nyonya Malaka.
Samuel dan Kinaya pun tersenyum lalu saling melirik satu sama lain. Samuel pun menarik tangan Kinaya lalu membuat wanita itu berada di pelukannya. Kinaya terkejut mendapati Samuel melakukan itu karena saat ini mereka sedang ada di depan orang tua mereka. Kinaya mencoba melepaskan pelukan Samuel namun pria itu malah mempererat pelukannya dan tersenyum senang melihat wajah malu-malu sang istri. Tuan dan Nyonya Malaka tersenyum melihat kedekatan anak dan menantunya. Mereka ikut senang melihat keduanya.
"Oh iya. Mana pesananku? " Kinaya menyodorkan tangannya di depan Samuel. Membuat Samuel tersenyum lalu mencium lembut bibir Kinaya di depan orang tuanya.
"Apaan sih mas. Malu dilihattin Mama dan Papa. " lirih Kinaya yang membuat Samuel tersenyum lalu mencubit hidung Kinaya karena gemes.
"Emang apaan tuh sayang? " tanya Nyonya Malaka menengok isi di dalam bungkusan plastik putih di tangan Kinaya. Kinaya tersenyum.
"Lapek sagu isi gula merah dan juga lapek bugih Ma. Enak banget. Aku jadi kepingin makannya Ma. Jadi, aku minta sama mas Samuel untuk membelikannya tadi. " seru Kinaya senang karena apa yang di inginkannya di belikan oleh sang suami.
Samuel pun menghampiri Kinaya setelah membawa sendok dan piring. Air putih tidak lupa Samuel bawakan juga.
"Sini. Berikan makanannya. Biar mas bukakan untukmu Nay. " seru Samuel mencoba meraih bungkusan di tangan Kinaya namun Kinaya malah menjauhkan nya dari Samuel.
"Tidak mas. Makanan ini lebih enak bila langsung di makan dengan bungkusan daun pisangnya. Tidak akan nikmat bila di makan dengan piring ataupun sendok. " seru Kinaya yang langsung membuka tusuk lidi yang ada di bungkusan daun pisang. Kinaya langsung melahap nya dengan perasaan gembira. Tanpa dia sadari Kinaya lupa mengajak Mama dan Papanya untuk bergabung makan bersama.
"Maaf Ma Pa. Aku terlalu senang karena makanan ini. Jadi lupa mengajak Mama dan Papa untuk makan bersama. " seru Kinaya tersenyum kikuk. Kedua orang tua itu dan juga suaminya tersenyum melihat Kinaya yang merasa bersalah. Samuel pun mengusap kepala Kinaya.
__ADS_1
"Kamu tuh yah. " seru Samuel tersenyum. Mengelus pipi Kinaya.
"Tidak apa-apa, Nak. Kalau kamu suka makanlah sendiri. Anakmu pasti suka dengan makanan itu. Untuk kamu saja yah. " seru Nyonya Malaka tersenyum gemes dengan tingkah menantunya. Kinaya pun ikut tersenyum lalu kembali menyantap makanannya.
Hari sudah semakin sore. Tuan dan Nyonya Malaka pun memutuskan untuk kembali ke kediaman mereka. Ketika Samuel akan mengajak Kinaya masuk ke dalam kamar mereka tiba-tiba Kinaya mual-mual. Kinaya langsung pergi ke wastafel yang ada di dekatnya. Samuel mengikutinya dari belakang. Samuel mengangkat rambut panjang Kinaya. Di usapnya tengkuk Kinaya agar menyamankan dan memberi kehangatan untuk tubuh istrinya.
"Kita ke rumah sakit ya Nay. Mas tidak tahan lihat kamu seperti ini. " seru Samuel memapah Kinaya setelah sang istri sudah mulai baikkan.
Kinaya bersandar di dada Samuel. Samuel pun membawa Kinaya duduk di sofa yang ada di dekatnya.
"Nggak perlu mas. Ini normal bagi orang hamil. Di bawa istirahat sudah tidak apa-apa kok. " Kinaya memilih merebahkan tubuhnya di dada Samuel dengan mata tertutup untuk menghilangkan rasa mualnya.
"Tapi Nay... . " seru Samuel terhenti karena melihat Kinaya memejamkan matanya dengan nafas yang sudah mulai tenang. Samuel pun tersenyum. Mengusap kepala Kinaya lembut dan membiarkan Kinaya tertidur di pelukannya. Samuel pun mengendong tubuh Kinaya ala Bridal Style dan membawanya ke dalam kamar mereka. Diletakkannya tubuh mungil istrinya pelan-pelan ke kasur lalu dia menarik selimut sampai ke dada sang istri.
"Aku mencintaimu istri kesayanganku. Jangan pernah buat mas merasa bersalah karena melihatmu seperti tadi. Meski kamu bilang tidak apa-apa tapi mas tetap akan menghawatirkan kamu Nay sayang. Sedikit pun kamu kesakitan mas akan sangat merasa bersalah melihatnya. " Mencium pucuk kepala Kinaya lama. Setelah itu Samuel memutuskan untuk bersih-bersih di kamar mandi. Setelah selesai mandi Samuel pun melihat istrinya dengan iba di tempat tidur.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.