
Samuel selalu mengambil kesempatan terhadap apa yang ada pada istrinya. Memberikan kecupan dan hisapan di bagian atas tubuh Kinaya. Tangannya masih betah di pinggang Kinaya. Istrinya itu duduk di antara kedua pahanya. Kinaya bisa merasakan bagian bawah suaminya itu sudah bangun. Tapi, Kinaya berusaha untuk tenang agar Samuel tidak memintanya hari ini. Jujur saja, hari ini Kinaya sangat lelah sekali.
"Mas menginginkannya, Nay. " lirih Samuel yang membuat Kinaya meramang.
"Emm, itu aku sangat lelah mas. Besok saja, ya. " ucap Kinaya. Samuel pun semakin memeluknya erat. Tidak tahan lagi untuk menyalurkan hasratnya.
"Sebentar saja, Nay. " Samuel berusaha membujuk istrinya itu.
"Tapi..."
"Mas yang memimpin. Dan mas akan berhenti saat kamu sudah mengatakan lelah, sayang. " Samuel mencium tengkuk Kinaya. Aroma istrinya itu sungguh menjadi candu untuknya. Tidak ada obatnya selain menyatukan diri bersama istrinya tersebut. Karena tidak mendapatkan jawaban dari sang istri. Samuel pun menganggapnya sebagai persetujuan dari sang istri. Samuel pun berdiri. Keluar dari Bathtup lalu Samuel mengendong tubuh mungil Kinaya. Meletakkannya di bawah shower. Samuel tidak mau melakukannya di kamar mandi. Samuel takut sang istri terpeleset dan terjadi hal yang tidak diinginkan.
Setelah menyiram tubuh mereka. Samuel pun mengambil handuk kimono milik sang istri. Memakaikannya di tubuh Kinaya. Samuel pun mengambil handuk untuk dirinya. Setelah itu, Samuel mengendong tubuh kecil Kinaya ala Bridal Style. Perlahan-lahan Samuel meletakkan Kinaya di kasur kingsize mereka.
"Mas mulai ya. " ucap Samuel yang di anggukan oleh Kinaya.
Samuel pun tersenyum lalu mulai mencium bibir ranum Kinaya. Samuel memberikan kecupan -kecupan lembut di wajah Kinaya. Di leher Kinaya, Samuel meninggalkan jejak kepemilikannya di sana. Ada beberapa tanda kepemilikan di leher Kinaya. Samuel pun tersenyum melihatnya.
"Ini adalah milik mas, Nay. Jangan biarkan orang lain menikmatinya. " ucap Samuel yang langsung mendapatkan pukulan oleh Kinaya.
__ADS_1
"Emang siapa lagi yang akan melakukannya selain kamu mas. Mas ih. Bikin aku kesal saja. " ucap Kinaya cemberut. Memukul lengan panjang Samuel. Samuel pun tersenyum. Menatap nanar sang istri.
"Maksudnya bukan begitu, Nay. Maksud mas itu kamu tidak boleh membiarkan orang lain melihat hasil kemesraan kita. Nanti mereka malah kepengen lagi. Kalau mereka melakukannya dengan pasangannya tidak apa-apa. Jika tidak kan bisa repot, Nay. " goda Samuel. Kinaya pun tersenyum mendengarnya.
"Apaan sih. " balas Kinaya. Samuel pun kembali melanjutkan aktivitasnya. Disaat sedang asyiknya tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dari luar. Samuel pun mengumpat di dalam hatinya. Siapakah yang mengganggu kesenangannya itu.
Karena tidak mau semakin kesal. Samuel pun mengambil jubahnya yang sengaja ia gantung di salah satu sudut ruangan tersebut. Jubah hitam dengan lengan panjang Samuel lampirkan di tubuhnya. Masih mengerutu tak jelas di wajahnya. Kinaya sampai tergelak tak bersuara olehnya.
"Jangan emosi, mas. Cepat tuanya. " ucap Kinaya. Samuel pun tersenyum lalu mengiyakan sang istri.
Saat pintu kamar sudah terbuka. Ternyata ada Bik Yas di sana. Reza menangis di pangkuan ibu paruh baya tersebut.
"Bibik tidak tahu kenapa. Saat di taman kompleks den Reza terus menangis, Tuan. " ucap Bik Yas.
"Yaudah, Reza sama saya saja, Bik. Bibik kembali ke belakang saja. " jawab Samuel. Bik Yas pun menganggukkan kepalanya. Memberi hormat kepada majikannya itu.
"Reza nya kenapa, mas ?" Tanya Kinaya berjalan ke arah Reza.
"Tidak tahu, Nay. Coba kamu gendong deh
__ADS_1
Siapa tahu dia diam. " ucap Samuel berjalan mendekati istrinya. Kinaya pun mengambil alih Reza di gendongan suaminya.
"Anaknya Mama. Kenapa, hem? Mau susu? " tanya Kinaya. Kinaya pun mencoba berjalan ke balkon. Kinaya memutuskan untuk melihat langit sore. Sebentar lagi sunset akan menunjukkan bentuknya
Samuel pun tersenyum melihat istrinya yang sudah bisa menenangkan sang bayi. Bayi itu menurut padanya. Samuel pun memutuskan untuk memakai pakaiannya. Setelah selesai, Samuel pun berjalan arah keluarga kecilnya berada.
"Sini Reza nya, Nay. Kamu pakailah baju dulu. Biar mas yang menjaga Reza. " ucap Samuel. Kinaya pun tersenyum dan memberikan Reza kepada Samuel.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1