
Happy Reading readers 🌼🌼🌼
Jangan lupa like dan komentarnya ya🌻🌻🌻
Terima kasih 🌸🌸🌸
••••
Pagi harinya Kinaya terbangun dari tidurnya. Ponselnya berdering sedari tadi. Kinaya pun membuka matanya. Di dapati nya Samuel memeluk erat tubuh Kinaya. Kinaya pun tersenyum lalu mengecup bibir Samuel.
Kinaya pun bersandar di kepala kasur. Mengambil ponselnya. Dilihatnya nomor tidak di kenal seperti sebelumnya. Entah kenapa, Kinaya teringat dengan Laras. Dengan cepat Kinaya mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo. " ucap Kinaya.
" Kinaya! Ini aku Laras. Selamatkan aku, Kinaya. Tolong bebaskan aku dari penjara Roy. Aku tidak punya banyak waktu. Tolong selamatkan aku, Kinaya. " ucap Laras yang langsung mematikan sambungnya. Tanpa menunggu balasan dari Kinaya.
Di tempat lain. Laras mengusap dadanya. Dengan cepat Laras kembali meletakkan ponsel di tangannya. Laras tidak mau di hukum lagi karena ketahuan menghubungi orang luar. Dengan cepat Laras pergi ke dapur untuk melakukan tugasnya sebagai pembantu di sana. Beberapa hari ini nasibnya tidak bagus karena karena kedatangan Roy. Roy datang dengan wajah yang terlihat sedang marah. Entah apa yang terjadi membuat Laras tidak berani melakukan apapun selain menuruti perintah dari orang yang ada di atasnya.
"Semoga Kinaya bisa aku manfaatkan kali ini. " gumam Laras yang langsung berlenggang ke dapur.
Di tempat lain. Terlihat Kinaya sedang khawatir. Kinaya memikirkan apa Laras baik-baik saja. Kinaya sempat melupakan perihal Laras karena masalahnya dengan Samuel tempo lalu.
"Ada apa, hem? Apa sesuatu terjadi padamu? " tanya Samuel membuyarkan lamunan Kinaya. Kinaya pun terkejut lalu menoleh ke arah Samuel.
"Apa ada masalah? " tanya Samuel lagi. Kinaya pun mengelengkan kepalanya.
"Aku minta izin pada mas. Apa aku boleh menemui Roy hari ini? " tanya Kinaya. Samuel pun membulatkan matanya. Menatap dingin sang istri. Samuel pun bangun dan duduk di samping Kinaya.
"Mas jangan salah paham dulu. Aku hanya ingin menanyakan perihal Laras kepada kak Roy. Aku janji akan langsung pulang setelah semuanya selesai. " ucap Kinaya meyakinkan.
"Baiklah. Tapi mas akan ikut denganmu. " jawab Samuel. Kinaya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Aku akan buat janji dulu sama kak Roy. " ucap Kinaya. Samuel pun memegang tangan Kinaya. Membuat Kinaya sulit mengetik pesannya.
"Kenapa mas? " tanya Kinaya.
"Jangan panggil pria lain dengan bibirmu, Nay sayang. Mas tidak suka mendengarnya. Paham! " ucap Samuel menatap tajam ke arah Kinaya. Kinaya pun memutar kan bola matanya. Tidak percaya dengan apa yang Samuel katakan. Tapi, Kinaya tidak punya pilihan selain mengiyakan permintaan sang suami.
"Baiklah. Kalau begitu, aku mengirim pesan dengan.... " ucap Kinaya mengantung. Meminta pada Samuel nama apa yang akan dia panggil untuk Roy.
__ADS_1
"Kutu besar. " jawab Samuel yang berhasil membuat Kinaya tertawa kegelian di perutnya yang sudah semakin besar.
"Baiklah. Aku akan mengirim pesan dengan kutu besar dulu. " ucap Kinaya yang langsung mengirim pesan pada Roy.
Setelah itu. Kinaya pun turun dari kasur. Samuel pun mengikut dari belakang.
"Mas mau apa? " tanya Kinaya. Samuel pun tersenyum nakal.
"Mandi bareng bersama sang istri tercinta. " jawab Samuel menarik tangan Kinaya ke kamar mandi.
Di tempat lain. Roy mendapatkan pesan dari Kinaya. Entah kenapa, kali ini Roy terlihat semangat sekali, yang sebelumnya terlihat wajah murung sekaligus kesal di mungkanya tersebut. Karena melihat kepergian Diana bersama James. Mereka terlihat mesra membuat Roy kesal. Entah apa yang terjadi. Yang jelas Roy tidak suka melihatnya. Melihat Diana dan James berduaan membuat darahnya mendidih seketika.
Setelah beberapa saat. Kinaya sudah selesai bersiap-siap untuk pergi menemui Roy di sebuah kafe XX bersama Samuel di sampingnya.
Roy sudah tiba terlebih dahulu di kafe XX. Roy menunggu Kinaya dengan perasaan yang tidak dapat di prediksi. Saat sedang menunggu Kinaya. Roy terlihat mengutak atik ponselnya. Menunggu telepon dari seseorang. Tapi tak kunjung dia dapati.
"Sialan. Apa gadis itu melupakanku. Aku sudah bilang kepadanya untuk menghubungi ku saat dia sudah tiba di kantornya. Tapi ini dari tadi belum sekalipun menghubungiku. Apa pria itu membuat dia sibuk bekerja? " tanya Roy pada dirinya sendiri.
"Hei kak. " sapa Kinaya yang sudah berada di depannya. Roy pun terkejut. Lantas mendongakkan kepalanya ke atas. Menatap lekat gadis itu. Ada senyuman di bibirnya. Memperhatikan mata bulat milik Kinaya.
"Jauhkan pandanganmu dari istriku. "Samuel menyandarkan kepala Kinaya di dadanya. Membuat Kinaya terperanjak karena Samuel mendadak memeluknya.
"Mas. Aku susah nafas mas. " ucap Kinaya yang berhasil membuat Samuel melepaskan pelukannya. lalu, memberikan tempat duduk di kursinya. '
"Biar mas bicara padanya. Kamu duduk saja di sini. " ucap Samuel pada akhirnya yang membuat Kinaya menghela napasnya, pasrah. Kinaya pun memilih untuk diam. Membiarkan Samuel melakukan apapun yang diinginkannya dari pada masalah kembali runyem pikir Kinaya .
"Kamu apakan Laras? " tanya Samuel langsung ke topik karena ingin segera pergi dari tempat ini.
"Aku! Mana aku tahu apa yang terjadi pada Laras. " jawab Roy. Kinaya yang ada di sana menjadi greget sendiri membuat dirinya buka suara. Samuel pun langsung memelototinya.
"Biar mas yang mengurusnya. Kamu diam saja di sini. " ucap Samuel yang berhasil membuat Roy tersenyum, geli.
"Apa yang kamu senyumkan? Nggak ada yang ngelucu di sini. " ucap Samuel menatap tajam ke arah Roy.
"Oke, oke." Roy mengangkat tangannya. Tidak bisa berbuat apa-apa di depan Samuel.
Kinaya menatap memelas ke arah Samuel. Membuat Samuel menghela napasnya, pasrah. Samuel pun mengibaskan tangannya. Membiarkan Kinaya melakukan apa yang diinginkannya. Selagi dia masih ada di sampingnya.
"Kak. Apa kakak masih belum melepaskan Laras! Jangan berbuat lebih kak. Aku tidak ingin aku menjadi sumber permasalahannya di ini. Aku harap kakak mau melepaskannya. Biar itu jadi masa lalu. Aku juga sudah memaafkan kesalahan Laras selama ini. Jadi, lepaskan Lah Laras, kak. " ucap Kinaya memelas. Memohon kepada Roy agar mau menuruti keinginannya. Roy terlihat menimang-nimang ucapan Kinaya. Roy pun menatap ke arah Samuel. Terlihat pria itu mengelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tapi kakak benar-benar tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Percuma kamu mengadu pada kakak, Kinaya. " Jawab Roy yang Jelas-jelas berbohong.
"Itu tidak mungkin, kak. Aku dengar sendiri bahwa dia bilang semua ini ulah kakak. Aku yakin sekali. Aku tidak mungkin salah denger. " Kinaya bingung. Samuel pun mengambil kesempatan agar Kinaya melupakan tujuannya.
"Sudahlah, Nay sayang. Dia tidak tahu sama sekali. Kita pulang yuk. Percuma juga kita di sini. " Samuel bangun dari duduknya. Membujuk Kinaya untuk pulang.
"Tapi mas.... " ucap Kinaya mengantung karena Samuel sudah menarik tangannya. Pergi meninggalkan Roy sendirianÂ
"Selamat tinggal kak. Aku pergi dulu. " Kinaya melambaikan tangannya ke arah Samuel.
"Sudahlah. Kamu tidak perlu izin padanya ketika kita pergi. " Samuel memalingkan wajah Kinaya ke arahnya. Kinaya pun bersungut kesal.
"Apaan sih. Aku kesal pada mas " ucap Kinaya yang duluan jalan di depan Samuel. Membuat pria itu tersenyum gemes dengan tingkah istrinya itu.
"Untung istri. " lirih Samuel melihat punggung Kinaya. Samuel pun tersenyum dan menyusul Kinaya ke dalam mobil.
.
.
.
.
.
Bersambung.
INGAT! SIMBIOSIS MUTUALISME 😊
IG : gx_shi7
Ikuti IG ku yah. Di sini akan ada Visual - visual para pameran novel ku. Dan nanti boleh bertanya-tanya seputar Update novel kesayangan kalian.
Terima kasih 😊😊
Jangan lupa dukungannya yah kesayangan. Aku pada kalian 😚😙😙
By : Nadila Sizy
__ADS_1
...#Kinaya&Samuel_LFR...