Belenggu Seorang Istri

Belenggu Seorang Istri
Kandungan


__ADS_3

Keheningan merajalela di sebuah ruangan yang berukuran 10×15 m  itu. Tidak ada pembicaraan selama kurang lebih 10 menit. Samuel menindih kaki kirinya dengan kaki kanannya. Menyilangkan tangannya di dada. Menatap penuh kecurigaan terhadap Diana. Mata Samuel penuh selidik terhadap Diana.


"Apa kakakmu tidak ada orang lagi untuk di suruh ke sini. Sehingga memintamu datang sendirian? " tanya Samuel masih curiga dengan kedatangan Diana di kantornya.


Diana terlihat mengerakkan tangannya. Tidak bisa juga melawan dengan kata-kata ucapan Samuel. James yang ada di tengah-tengah mereka. Dia pun ambil suara. Tidak mau Diana kesusahan membalas ucapan Samuel.


Dengan hati-hati James berucap. "Maaf, Tuan. Dia adalah teman kampus saya. Dia ada di sini sekarang karena saya yang memintanya. " ucap  James. Samuel pun menatap ke arah James. Terlihat serius ucapan James menurutnya.


"Lalu, apa kakakmu tahu kamu ada di sini? " tanya Samuel kepada Diana. Diana pun mengelengkan kepalanya.


"Apa kamu kabur dari rumah?  " tanya Samuel lagi. Diana tidak menjawab tapi kepalanya terlihat mengangguk.


"Hei, kamu pikir aku asisten mu. Membuat diriku memahami sendiri ucapanmu itu. " kesal Samuel karena Diana tidak mengeluarkan suaranya. Hanya membalasnya dengan anggukan dan gelengan kepala.


"Maaf, kak. Aku tidak bermaksud begitu. " balas Diana.


"Aku tidak pernah punya adik. Apalagi adik sepertimu. " ketus Samuel. Ya, Samuel tidak pernah lembut kepada wanita kecuali kepada istrinya.


"Maaf, Tuan. Saya tidak akan melakukannya lagi. " seru Diana.


Samuel pun menatap ke arah James. " Aku tidak ingin melihatnya. Apa kita bisa melanjutkan kerja samanya. " ucap Samuel. James pun menoleh ke sampingnya.


"Maaf, Diana. Apa kamu bisa menunggu ku. Aku tidak akan lama. " seru James. Diana pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu saya pamit dulu. Permisi, Tuan. " ucap Diana memberi hormat kepada Samuel lalu berlenggang keluar.


Diana pun berjalan keluar. Kakinya berhenti di sebuah tempat duduk yang ada di area kantor. Diana pun mematung di sana. Dirinya juga tidak punya apa-apa di tangannya. Ponselnya tertinggal di rumah Roy. Dan uangnya, Diana tidak punya sepeserpun.


Beberapa jam menunggu akhirnya Diana tertidur di kursi itu. Tertidur dengan posisi duduk. Satu tangannya menopang kepalanya ke  pegangan kursi. Tiba-tiba seorang pria pergi mendekatinya. Ia duduk tepat di samping Diana. Matanya menatap penuh keinginan terhadap Diana. Pria itu melihat sekelilingnya, suasana terlihat sepi karena Diana memilih duduk di tempat yang tersudutkan. Pria itupun perlahan meletakkan tangannya di paha Diana. Diana langsung terbangun. Melihat sosok pria asing di depannya membuat Diana mundur ke belakang.


"Apa yang kamu lakukan? " tanya Diana takut.


"Tenanglah, Baby. Aku tidak akan menyakitimu.  " ucap pria itu. Kembali mendekati Diana. Diana langsung mundur.


"Menjauh dariku. Atau aku akan berteriak. " ancam Diana.


"Hei, kamu pikir kamu siapa, huh. " bentak pria itu. Diana pun melihat sekelilingnya. Tidak melihat siapa pun yang lewat. Diana mulai khawatir.


James, tolong aku. Tolong selamatkan aku. Gumam Diana di dalam hatinya. Untuk pertama kalinya gadis itu langsung mengingat sosok James di pikirannya. Entah kenapa sosok James sangat diinginkan kehadirannya oleh Diana saat ini.

__ADS_1


"Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu. Aku akan bermain lembut khusus kepadamu. " ucap pria itu semakin mendekati Diana ke sudut.


"Tidak, tolong, tolong aku. " ucap Diana tapi nihil. Tidak ada yang mendengar suara kecilnya.


"Mereka tidak akan mendengarkanmu. Karena saat ini mereka pasti sedang keluar. Ini adalah jamnya makan siang. Dan aku juga lapar saat ini. Kamu temani aku makan ya. Aku sudah sangat lapar saat ini. " ucap  pria itu. Pria itu mendekati Diana. Diana kembali mundur sampai akhirnya Diana sudah membentur tembok. Diana tidak bisa menjauh lagi. Diana sudah tersudutkan sekarang ini. Diana hanya bisa berdoa agar ada orang yang bisa menyelamatkannya.


Pria itu sudah merapat di samping Diana. Dia mengikat dan mengangkat tangan Diana ke atas. Mengunci pergerakan Diana yang mencoba melawan. Pria itu mencoba menabrak kan bibirnya dengan bibi Diana. Namun, tiba-tiba sebuah tendangan keras mengenai pinggang pria itu. Sontak pria itu mengaduh kesakitan di pinggangnya.


"Beraninya kamu menyentuh wanitaku. " ucap James. James sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya ketika melihat Diana yang sudah berderai air mata. James melihat Diana yang sudah sangat ketakutan. James pun mendekati Diana yang masih menutup rapat matanya.


James mendekat. Memegang tangan Diana. Diana terkejut dan memberontak di hadapan James.


"Saya mohon. Lepaskan saya, Tuan. Lepaskan saya Tuan. " ucap Diana berulang-ulang. Matanya sudah di penuhi oleh air mata.


Sedangkan pria yang mendapatkan tendangan keras dari James masih duduk di lantai menahan rasa sakit di pinggangnya. Samuel juga berada di sana. Samuel awalnya ingin melihat dulu situasi yang ada di depannya. Melihat sosok James yang sangat peduli terhadap Diana. Terlihat Samuel menarik sudut bibirnya. Setelah itu Samuel menoleh ke arah pria asing tadi.


"Security. Security. " Panggil Samuel dengan teriakan yang mengema di lantai 1 kantornya.


Beberapa Security datang dengan tergesa-gesa, mendekati Samuel.


"Ada yang bisa di bantu, Pak? " tanya Security itu.


Di sisi lain James terlihat mengepal tangannya karena melihat Diana yang sedang ketakutan.


"Lepaskan saya, Tuan. " ucap Diana berkali-kali. James pun memeluk erat tubuh Diana.


"Ini aku, James. Kamu sudah aman sekarang bersamaku. " ucap James. Namun Diana terlihat tidak percaya dan masih menutup rapat matanya. James pun memegang kedua pipi Diana.


"Hei, Diana. Lihat aku. Lihat aku Diana. " James menguncang pelan tubuh Diana agar gadis itu bisa melihatnya. Diana yang samar- Samar mendengar suara James. Diana pun memutuskan untuk membuka matanya. Diana langsung menangis sekejang-kejangnya. Melihat sosok James membuat Diana merasa lebih baik lagi. Diana langsung memeluk erat tubuh kekar James.


"Hiks, hiks, hiks. Ka...mu... kema...na... saja... aku... sang...at... tak...ut. " ucap Diana terbata-bata. James pun semakin memeluk erat Diana.


"Maafkan aku. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian lagi. Maafkanaku. " balas James mengusap lembut kepala Diana.


Diana terus menangis sampai akhirnya Diana tertidur di pelukan James. Samuel yang melihat James dan Diana hanya bisa tersenyum. Samuel pun mendekati James.


"Kamu bawalah dia pulang. Kerja sama kita akan tetap berlangsung. Saya akan memberikan kabar beberapa hari lagi. Yang terpenting sekarang adalah jangan tinggalkan dia sendirian mulai sekarang. Sepertinya dia akan sangat membutuhkan dirimu kedepannya. Saya pergi dulu. Semoga usahamu berjalan lancar. " ucap Samuel. Samuel tahu bahwa James menyukai Diana. Terlihat dari kekhawatirannya melihat Diana yang ketakutan tadi.


James pun mengendong tubuh Diana ke mobilnya. Meletakkan gadis itu pelan-pelan ke dalam mobil.

__ADS_1


Setibanya di hotel, James meletakkan Diana dengan hati-hati ke kasur. Setelah itu, James duduk di samping kasur Diana. Mengusap lembut wajah Diana. Kecupan lembut pun mendarat di kening Diana.


"Maafkan aku yang tidak ada di sampingmu tadi. Aku tidak tahu, apa yang akan terjadi padamu jika saja aku terlambat satu langkah, kamu pasti akan merasa terpukul karena aku tidak menjagamu dengan baik. " lirih James. James pun meninggalkan kecupan lagi, kali ini di bibir gadis itu.


James pun berdiri dari duduknya. Menyelimuti tubuh Diana sampai ke dada. Setelah itu, James pergi ke kamarnya. Menelpon seseorang lalu memutuskan untuk menganti pakaiannya. Setelah itu James kembali ke kamar Diana. Dilihatnya gadis itu masih tertidur dengan lelap.


Di tempat lain di waktu yang sama Kinaya terlihat sedang bersama temannya. Wulan adalah teman dekat Diana. Mereka adalah teman dari waktu mereka masih menempuh pendidikan menengah ke atas.


"Kandunganmu sehat-sehat saja, kan? " tanya Wulan.


" Semua baik-baik, Lan. Ngomong -ngomong kapan nyusul nih? " goda Kinaya yang malah membuat Wulan malu sendiri.


"Apaan sih. Pacar aja belum punya. Apalagi nyusul kamu yang sudah isian. " ucap Wulan.


"Apa mau aku bantu. Mas Samuel sepertinya punya temen yang nganggur deh. " balas Kinaya seolah-olah mengingat para sahabat cowok Samuel. Wulan pun memukul pelan bahu Kinaya.


"Sudahlah, Aku mau kerja dulu. Lekas itu baru pikirkan pernikahan. " ucap Wulan.


.


.


.


.


.


Bersambung.


IG : gx_shi7


Terima kasih 😊😊


Jangan lupa dukungannya yah kesayangan. Aku pada kalian 😚😙😙


By : Nadila Sizy


#Kinaya&Samuel_LFR

__ADS_1


__ADS_2