
Dokter itu pun menelpon dokter kandungan sesuai dengan permintaan Samuel. Dia terlihat mangut-mangut. Setelah beberapa saat dia pun menutup teleponnya dan kembali dia masukkan poselnya ke dalam jasnya. Sedangkan Samuel kini tengah tersenyum bahagia. Dia pun menghampiri Kinaya yang baru keluar dari kamar mandi. Samuel langsung memeluk Kinaya dari depan. Dia memeluk erat sang istri dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya. Kinaya sendiri bingung dengan tingkah suaminya itu. Dia pun mendongakkan kepalanya, mengerutkan keningnya, menatap heran wajah sang suami.
" Ada apa mas? Kenapa kamu Senyam-senyum begitu?" seru Kinaya. Samuel hanya geleng-geleng kepala lalu mengajak Kinaya untuk duduk di sofa.
" Kapan terakhir kamu datang tamu Nay? " tanya Samuel tersenyum. Kinaya nampak mengingat kapan terakhir dia kedatangan tamu. Kinaya pun membelalakan matanya sendiri mengingat dirinya sudah 2 minggu telat datang bulan.
" Yaampun mas. Aku sudah 2 minggu telat datang bulan. Kenapa aku tidak memikirkan itu sih. Emang kenapa mas! Aku tidak apa-apa kan? " tanya Kinaya. Samuel pun tersenyum dan mengelengkan kepalanya.
" Kamu tunggulah sebentar. Dokter akan memeriksamu sekali lagi. Kalau kamu lelah istirahatlah, biar nanti mas bangunkan jika dokternya sudah tiba. " seru Samuel.
" Loh emang ada apa dengan ku mas? Kan tadi aku udah di periksa?" balas Kinaya.
" Tidak apa-apa kok. Istirahatlah." seru Samuel tersenyum.
" Temanin." balas Kinaya manja. Samuel pun tersenyum dan menuntun Kinaya ketempat tidurnya.
Pasutri itu menunda istirahatnya karena Kinaya terus bermanja - manja dengan Samuel. Dia tengah merebahkan kepalanya di dada sang suami dengan lengan dia eratkan di pinggang Samuel dan bahkan membelai perut Sixpack suaminya dengan jemari mungil nya. Samuel pun membiarkan Kinaya melakukan itu, dia bahkan senang istrinya seperti ini padanya. Sedangkan Samuel sendiri tengah menyisir rambut istrinya dengan jemarinya. Dia rapikan rambut Kinaya yang terlihat kusut akibat bersandar di dada bidangnya. Setelah bermanja satu sama lain akhirnya terdengar bunyi ketukan pintu di kamar mereka. Samuel pun bangun dari tidurnya dan meminta Kinaya untuk beranjak sebentar karena dia tahu pasti dokter kandungan yang dia minta sudah tiba. Samuel pun berjalan keluar dan melihat ARTnya tengah berdiri di depan pintu kamarnya.
" Iya bik. Apa dia sudah datang? " tanya Samuel datar.
" Maaf tuan. Seorang wanita ingin bertemu dengan nyonya. " seru ART itu. Samuel mengernyitkan keningnya karena bukan dokter kandungan yang datang.
" Siapa yang datang emangnya bik? " tanya Samuel.
__ADS_1
" Katanya namanya Laras tuan. " balas ART itu.
Samuel terlihat kesal mendengar nama Laras di sebut di depannya. Samuel pun memilih menyuruh ART itu mengusir wanita yang bernama Laras tadi. Entah kenapa Samuel membenci orang yang bernama Laras sekarang ini.
" Suruh saja dia pergi bik dan bilang kami sudah istirahat dan tidak bisa diganggu." perintah Samuel yang akan menutup pintu kamarnya namun langkahnya terhenti karena Kinaya sudah mendengar semuanya.
" Kenapa diusir mas. Lagian aku masih belum tidur kok. Aku akan kebawah menemuinya sekarang. " seru Kinaya yang sudah berada di samping Samuel.
" Tidak. Kamu disini saja. Dokter akan segera datang. " perintah Samuel yang langsung menutup pintu dan menguncinya dari luar.
" Mas. Apa yang kamu lakukan! Kenapa kamu mengurung ku disini! Mas! Cepat buka pintunya mas. " seru Kinaya dengan suara sedikit keras. Samuel hanya diam di balik sisi pintu itu. Dia sebenarnya tidak mau memperlakukan Kinaya seperti ini, takut Kinaya akan membencinya tapi dia tidak mau mengambil resiko untuk istrinya dan calon anaknya yang belum dipastikan itu. Setelah Kinaya tak bersuara Samuel pun membuka pintu kamarnya lagi dan melihat sang istri tengah berbaring di kasur kingsize mereka. Dia pun menghampiri Kinaya. Samuel duduk di samping istrinya. Dia mengusap sisa airmata di pipi Kinaya. Kinaya yang merasakan ada jemari di wajahnya dia pun membuka matanya dan melihat sang suami ada dihadapannya. Kinaya pun bangun dan memeluk Samuel. Dia peluk erat suaminya dan kembali meneteskan air matanya.
" Mas. Jangan tinggalkan aku seperti tadi lagi. Aku tidak bisa tanpa ada kamu disisiku mas. Jangan pernah tinggalkan aku mas." seru Kinaya diisak tangisnya. Samuel bingung seharusnya saat ini Kinaya marah padanya tapi nyatanya malah kebalikannya. Samuel pun mendorong pelan tubuh Kinaya dan menatap lekat wajah istrinya. Tidak terlihat kebohongan sedikit pun di mata sang istri.
" Apa kamu tidak marah sama mas Nay? Harusnya kamu marah sama mas karena sudah menguncimu dari dalam." seru Samuel menatap serius sang istri. Kinaya geleng-geleng kepala.
" Maafkan mas karena sudah membuat kamu menangis dan mengunci kamu di dalam sendirian tadi. Lain kali mas tidak akan
melakukannya lagi. Mas janji. " seru Samuel yakin.
" Tapi apa kamu tidak mau tahu kenapa mas melarangmu bertemu dengan wanita itu? " tanya Samuel yang masih dalam keadaan memeluk sang istri.
" Aku tahu mas. Kamu pasti sudah menyelidiki semua yang aku lakukan belakangan ini. Maafkan aku mas, aku tidak punya cara lain lagi, hanya ini yang bisa membuat kita mendapatkan seorang cucu untuk mama. Dengan begini mama akan senang mas karena keinginannya akan segera terwujud. " seru Kinaya.
__ADS_1
" Nay sayang. Apa kamu sudah bilang rencana ini sama mama? " tanya Samuel memegang kedua bahu Kinaya. Kinaya hanya geleng-geleng kepala menjawabnya.
" Kamu tuh yah. Seperti tidak tahu mama saja. Bukanya mama bahagia tapi pasti mama akan marah besar dan membenci kamu kedepannya karena sudah berani memberikan anak satu-satunya ke wanita lain. Lain kali jika kamu mau melakukan sesuatu maka kamu harus bilang sama mas karena mas tidak tahu kedepannya akan bagaimana nantinya. Bisakah mas menyelesaikannya untuk mu atau tidak kamu harus tetap menceritakan sama mas oke. " lanjut Samuel mengusap pipi Kinaya. Kinaya pun tampak serius mendengarkan Suaminya dan terlihat menganggukkan kepalanya.
" Emm iya mas. Aku akan mengatakan semuanya padamu. Kamu memaafkan aku kan mas? Jangan pernah marah padaku, apalagi meninggalkanku. " seru Kinaya dengan wajah imutnya memohon. Samuel pun gemes dengan sang istri, dia pun berencana mencium Kinaya namun lagi-lagi di ganggu oleh ketukan pintu. Membuatnya kembali mengumpat di dalam hatinya. sedangkan Kinaya hanya tersenyum melihat reaksi Samuel yang sedang kesal.
" Mas akan menghukum ART itu jika hanya mau mengabarkan tentang wanita itu. " gerutu Samuel beranjak dari duduknya dan membukakan pintu kamarnya. Kinaya hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala.
"Maaf tuan. Tadi saya diperintahkan oleh pihak rumah sakit untuk memeriksa keadaan nyonya. " seru seorang dokter kandungan.
Samuel pun tampak meredakan emosinya dan menyuruh sang dokter masuk kedalam kamarnya.
" Silahkan dok. Istri saya ada di dalam kamar. " seru Samuel mempersilahkan sang dokter masuk kedalam kamarnya.
" Baiklah tuan. "jawab dokter itu ramah dan langsung menghampiri Kinaya yang sedang berbaring di kasurnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.