Belenggu Seorang Istri

Belenggu Seorang Istri
Keyakinan


__ADS_3

Di mobilnya James selalu mengingat wajah Diana. Dirinya terlihat tersenyum - senyum sendiri ketika mengingat wajah kesal Diana kepadanya saat itu. Entah kenapa terlihat mengemaskan untuknya. Saat James sedang sibuk dengan pikirannya mengingat wajah Diana tiba-tiba ia langsung melihat gadis itu di depannya. James melihat Diana sedang duduk di sebuah kursi taman. James pun menyuruh supirnya untuk menghentikan mobilnya.


James turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri Diana. James tersentak karena melihat gadis yang terus masuk ke dalam mimpi indahnya itu sedang meneteskan air mata. James terdiam sebentar di posisinya. Berusaha mencari tahu apa yang terjadi terhadap Diana. Setelah menguasai dirinya James pun menghampiri Diana. James berdiri di depan Diana. Memberikan sapu tangan miliknya kepada Diana.


"Jika kamu tidak mau melihatku maka aku akan menjauh. Jika kamu tidak keberatan aku di sini aku akan menemanimu sampai kamu tidak kesepian lagi. " ucap James. Diana pun mendongakkan kepalanya ke atas. Menatap James yang melihatnya dengan wajah memelas yang penuh kehangatan. Seketika Diana menangis dengan derasnya. Bahkan lebih deras dari sebelumnya. James pun mendekati Diana. Memberikan pinggangnya untuk sandaran Diana ketika menangis. Diana menerimanya. Memeluk erat pinggang James dan mengeluarkan semua kesedihannya di depan James. Tidak mengingat egonya yang selalu ia jaga seperti biasanya.


James mengusap lembut kepala Diana. Memberikan ketenangan dan kenyamanan kepada gadis itu.


Sudah hampir satu jam lebih lamanya Diana menangis. James dengan sabarnya dan ikhlas memberikan pinggangnya kepada Diana. Dirinya bahkan sudah tidak peduli lagi jika bajunya kotor oleh Diana. Dan James terkenal dengan kebersihannya apalagi terhadap orang asing. Entah mengapa hatinya lebih tidak terima jika melihat gadis itu bersedih. James bahkan tidak peduli kalau kakinya sudah pegal dan kelelahan ketika Diana bersandar di pinggang. Dan dia selalu berdiri tegak di sana untuk Diana. Sampai akhirnya Diana terdiam. Dan sudah tidak terdengar tangisan lagi.


James menengadahkan matanya melihat Diana. Terlihat gadis itu terlelap sembari memeluknya dengan erat. Ada senyuman di bibir James ketika melihat wajah gadis itu. James pun memegang kedua bahu Diana agar wanita itu tidak goyang dan jatuh. James duduk di samping Diana. Menyandarkan kepala Diana di bahunya. James menyelipkan rambut Diana yang menutup matanya kebelakang telinga.


Secara tidak sadar James mengusap lembut pipi Diana lalu meninggalkan kecupan lembut di pipi gadis itu. James melihat mata gadis itu bengkak karena terlalu lama menangis. Dan satu kecupan lagi di kedua mata gadis itu.


"Apa yang terjadi dengan dirinya? Sisi dirinya yang kemarin seolah tidak tahu hilangnya entah kemana. " lirih James menatap lekat wajah Diana.


Setelah cukup lama James menunggu Diana bangun dari tidurnya. Akhirnya James memutuskan untuk membawa Diana ke dalam mobilnya. James membawa Diana ke kamar hotelnya. Tidak terjadi apapun di sana. James hanya fokus memperhatikan Diana yang terlihat menyedihkan menurut James.


Di tempat lain di waktu yang sama Samuel terlihat memperhatikan sang istri bersama seorang pria yang sudah dari dulu Samuel jauhkan dari sang istri. Dirinya bahkan tidak jadi menyantap makan siangnya karena terlalu menghawatirkan istrinya itu. Samuel takut sang istri akan berpaling darinya. Dan pergi meninggalkannya sendirian.


"Kenapa, kak! Apa kamu yang melakukannya! Kenapa kakak melakukan hal itu? Lepaskan Laras, kak. Dia pasti takut dengan apa yang sudah kakak lakukan padanya. " seru Kinaya.


Di tempatnya duduk Samuel bingung maksud perkataan istrinya.


Apa yang terjadi! Kenapa mereka membahas tentang Laras. Apa yang terjadi sebenarnya? tanya Samuel kepada dirinya sendiri.


Kembali ke Kinaya.


"Apa yang kakak sembunyikan dari ku sebenarnya? Tolong katakan semuanya, kak. " seru Kinaya yang sudah mulai khawatir dengan keadaan Laras.


"Tidak ada yang terjadi padanya, Kinaya. Kamu pasti salah dengar saja. " elak Roy menggenggam tangan Kinaya.


"Lepaskan tanganku, kak. Tidak ada yang boleh menyentuhku selain suamiku. " ucap Kinaya menepis tangan Roy yang membuat Samuel yang ada di belakangnya tersenyum penuh kebanggaan.

__ADS_1


Aku tahu Itu. Kinaya tidak akan pernah membuatku ragu kepadanya. Dia adalah wanita sempurna yang sudah masuk ke dalam hatiku untuk selamanya. Gumam Samuel tersenyum hangat menatap wajah istrinya.


"Maafkan kakak Kinaya. Tapi, kamu harus percaya pada kakak. " seru Roy.


"Maaf, kak. Aku tidak bodoh seperti yang kakak kira. Aku jelas-jelas mendengarnya sendiri bahwa Laras sudah kakak sembunyikan. Jika kakak tidak mau mengakuinya tidak apa-apa. Aku akan mencari tahu sendiri. " ucap Kinaya berdiri lalu pergi meninggalkan Roy sendirian. Ketika Kinaya sudah menjauh Samuel pun menghampiri Roy.


"Aku tidak bodoh. Aku tahu bahwa itu kamu yang melakukannya. Meski begitu, aku berterima kasih karena kamu sudah melindungi Kinaya di belakang ku. Tapi ingat, bahwa aku tidak akan membiarkan Kinaya berada di sampingmu. Dia hanya milikku satu-satunya.  Dan jauh-jauhlah dari istriku mulai sekarang. " seru Samuel menatap dingin Roy. Roy tidak bisa berkata-kata, dirinya bahkan tidak bisa berbuat banyak untuk bisa memiliki Kinaya. Roy tahu bahwa Samuel memiliki kekuasaan lebih dari pada dirinya.


Samuel pun mengikuti Kinaya dari kejauhan. Sebelum itu Samuel memberikan kabar kepada Hiro bahwa dia harus pulang sekarang. Samuel tidak mempedulikan lagi pekerjaannya. Saat ini istrinya lebih penting dari apapun. Uang bisa di cari lain kali. Dan saat ini yang Samuel inginkan hanyalah sosok istrinya itu. Sosok istri yang selalu ada di sampingnya.


Saat Kinaya sudah sampai di mansionnya. Samuel menunggu sebentar di persimpangan. Samuel tidak mau Kinaya curiga kepadanya. Saat sudah waktunya Samuel pun masuk ke dalam mansionnya. Samuel langsung masuk ke dalam kamarnya. Dilihatnya sang istri tengah bersama dengan anaknya, Reza. Samuel pun tersenyum dan mendekati sang istri. Samuel memeluk Kinaya dari belakang. Menyandarkan kepalanya di punggung Kinaya.


"Mas merindukanmu, Nay. " lirih Samuel. Kinaya pun menoleh ke belakang dan mengernyitkan keningnya.


"Bukannya mas ada urusan mendadak di kantor hari ini? " tanya Kinaya.


"Emm. Tapi, tidak ada yang lebih penting dari mu, Nay. " balas Samuel. Tiba-tiba saja perut Samuel tidak bekerja sama dengan suasana romantis kali ini. Samuel pun tersenyum kikuk di depan istrinya.


"Apa mas melupakan makan siang mas? " tanya Kinaya. Samuel tidak menjawab dan hanya tersenyum jenaka di depan istrinya.


"Maafkan mas Nay. Tadi mas sangat merindukanmu jadinya mas langsung ke sini. " alasan Samuel. Kinaya terlihat menghela napasnya. Berusaha mengontrol emosinya. Dilihatnya sang suami yang menunjukkan wajah memelasnya membuat Kinaya tidak bisa melakukan apapun lagi.


"Yaudah. Aku akan buatkan mas makanan. Gantilah pakaian mas dulu. Aku akan siapkan makan siangnya. " ucap Kinaya. Samuel pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu Samuel memberikan kecupan lembut di kening sang istri.


"Mas mencintaimu. Sangat,  sangat mencintaimu. " ucap Samuel yang berhasil membuat rona di wajah Kinaya.


"Apaan sih. " balas Kinaya memukul bahu Samuel lalu pergi meninggalkan Samuel di kamar mereka. Samuel tersenyum melihat sang istri.


"Tidak akan mas biarkan kamu di ambil orang oleh orang lain. " lirih Samuel melihat kepergian sang istri.


Samuel langsung menganti pakaiannya. Setelah selesai Samuel pun melihat sebentar Reza di tempat tidurnya. Dilihatnya anak itu masih tertidur. Samuel pun tersenyum dan meninggalkan kecupan lembut di kening sang anak. Setelah itu Samuel pergi menyusul Kinaya.


Di dapur Kinaya tengah menyiapkan makan siang untuk Samuel bersama Nyonya Malaka. Sedangkan Tuan Malaka sedang sibuk dengan laptopnya di samping rumah. Samuel pun tersenyum dan mendekati sang istri. Memeluk erat pinggang Kinaya dari belakang. Tanpa mempedulikan keberadaan Mamanya yang ada di sana.

__ADS_1


"Nih anak. Tidak lihat - lihat tempat napa jika ingin bermesraan. " seru Nyonya Malaka. Samuel hanya tersenyum dan malah meledak Mamanya itu.


"Lepaskan mas. Aku tidak bisa kerja kalau kamu kayak gini. " gerutu Kinaya. Namun Samuel tidak peduli dan malah mempererat pelukannya. Kinaya pun menatap tajam ke arah suaminya yang berhasil membuat Samuel menghentikan kegiatannya.


"Baiklah, baiklah. Kalau begitu, mas akan menunggu mu di sana. " ucap Samuel menunjuk tempat Papanya berada.


"Rasain. Emangnya enak. Hahahaha. Anak yang malang. " seru Nyonya Malaka yang berhasil membuat Samuel menatap sinis Mamanya. "Apaan! Mau ngapain kamu, huh? " tanya Nyonya Malaka setelah melihat wajah sinis anaknya itu.


"Sudahlah, Ma. Mas Samuel emang kayak gitu. Kalau di ladenin malah nambah nyebelin. " seru Kinaya yang membuat Nyonya Malaka tersenyum hangat.


"Semoga kalian selalu begini selamanya. Mama akan selalu ada di sampingmu, Kinaya. " seru Nyonya Malaka.


"Terima kasih, Ma. Kinaya beruntung memiliki Mertua seperti Mama. Menganggap Kinaya sebagai anak sendiri. " ucap Kinaya lalu memeluk Nyonya Malaka.


.


.


.


.


.


Bersambung.


IG : gx_shi7


Terima kasih 😊😊


Jangan lupa dukungannya yah kesayangan. Aku pada kalian 😚😙😙


By : Nadila Sizy

__ADS_1


#Kinaya&Samuel_LFR


__ADS_2