
Samuel menatap lekat wajah sang istri. Melihatnya dengan senyuman tulus di bibirnya. Dia membelai lembut, mengusap pelan wajah sang istri.
"Mas sudah menyiapkan semuanya. Kamu tidak perlu memikirkan apapun lagi. Biar mas menyelesaikan semuanya. " seru Samuel tersenyum. Kinaya pun manggut-manggut.
"Apa mas mau minum dulu. Biar aku ambilkan. Kopi apa jus? " tanya Kinaya yang sudah berdiri dari duduknya.
"Tidak perlu. Mas mau istirahat saja. Kita ke dalam yuk. " ajak Samuel. Samuel berdiri dari duduknya. Menyematkan jemarinya di jemari sang istri. Agar sang istri mengikutinya dari belakang. Reza yang berada di pangkuan Samuel sudah mulai terlelap. Samuel pun meletakkan Reza di tempat tidur bayi tersebut. Dengan pelan-pelan dan hati-hati Samuel meletakkan Reza di box bayi. Kinaya membantu menyelimuti Reza.
"Sepertinya Reza sangat nyaman tidur di pangkuan mas. Dari tadi aku ajak tidur tidak mau. Saat mas mengendongnya dia langsung saja menutup matanya dengan tenang. " seru Kinaya menatap Reza dengan senyuman di bibirnya. Samuel menoleh kepada Kinaya dan tersenyum. Samuel menarik lembut tangan sang istri. Membuat Kinaya berdiri dekat dengannya. Samuel meletakkan satu tangannya di pinggang Kinaya dan satu tangannya lagi di pipi sang istri.
"Bukan hanya Reza saja. Kamu juga seperti itukan. Bila tidak ada mas di sampingmu. Kamu akan susah tidur semalaman. " goda Samuel. Kinaya merona mendengar ucapan Samuel. Kinaya pun memalingkan wajahnya dari tatapan Samuel. Benar kata Samuel. Dirinya akan merasa gelisah semalaman jika tidak mendapati kehadiran Samuel di sisinya. Samuel yang melihat istrinya berpaling dua pun memegang dagu sang istri. Membuat wanita itu menatapnya lekat. Samuel dengan cepat mengecup bibir Kinaya. Dengan lembut Samuel memberikan kecupan di seluruh wajah Kinaya. Tangannya menggerayangi tubuh Kinaya. Menarik wanita itu agar lebih dekat dengannya. Setelah puas Samuel membawa Kinaya ke kasur mereka.
Samuel kembali melakukan serangannya. Mengecup bibir sang istri. Kecupan lembut pun kini singgah di leher, bahu dan dada Kinaya. Satu per satu Samuel melepaskan ikatan di baju Kinaya. Samuel menatap wajah Kinaya. Di belainya pipi sang istri. Lalu kecupan lembut di kening istri, sangat lama hingga Kinaya memejamkan matanya. Detik berikutnya Samuel merasai setiap lakukan di tubuh sang istri dengan bibirnya. Tanda kepemilikan pun tertinggal di mana-mana.
Samuel tidak melakukan hal lebih. Dia takut akan membahayakan calon bayinya yang masih sebiji kacang itu. Setelah puas Samuel pun bersandar di kepala kasur. Membelai lembut kepala Kinaya yang ada di dadanya. Kecupan lembut tidak lupa ia berikan di sana. Dia merasa puas setelah melakukan tugas yang luar biasa menurutnya itu. Setelah selesai beristirahat Samuel kembali memakaikan pakaian Kinaya. Tidak lama setelah itu pintu kamar mereka di ketuk. Kinaya pun membukanya.
"Maaf nyonya. Makan siangnya sudah siap. Apa Nyonya mau makan di bawah atau saya antarkan ke kamar? " tanya salah satu pelayan.
"Tidak perlu Mbak. Saya akan segera turun ke bawah. " balas Kinaya. ART itu pun menundukkan kepalanya. Memberi hormat kepada Kinaya.
"Kenapa, Nay ? " tanya Samuel yang sedang bersandar di kepala kasur.
"Makan siangnya udah siap. Kita turun dulu yuk, mas. " seru Kinaya menghampiri Samuel. Samuel pun bangun dari tempat tidur.
__ADS_1
"Ayuk. " Samuel meletakkan tangannya di pinggang Kinaya. Memegang erat pinggang sang istri. Membuat jarak mereka terkikis habis.
Mereka segera ke lantai 1 setelah melihat keadaan Reza.
Makan siang pun berlanjut seperti biasa. Seperti biasa Samuel menyuapi sang istri. Wanita itu tidak menolak. Kinaya pun ikut menyuapi sang suami. Tidak lama setelah itu ponsel Samuel berdering. Samuel pun mengangkatnya.
"Baiklah. Sebentar lagi saya akan datang. " balas Samuel. Samuel pun memutuskan panggilannya.
"Ada apa, mas? Apa ada masalah ? " tanya Kinaya khawatir. Samuel pun berusaha menenangkan Kinaya. Dengan bersikap tenang dan menunjukkan senyumannya kepada Kinaya agar wanita itu tidak curiga.
"Tidak ada. Hanya masalah kantor. Habis ini mas akan kembali ke kantor. Kamu tidak apa-apa kan? " seru Samuel membelai lembut pipi Kinaya.
"Tidak apa-apa, mas. Pekerjaan lebih penting. Aku akan mengantar mas keluar. " balas Kinaya menyentuh tangan Samuel yang ada di pipinya.
"Yaudah. Bukannya mas akan pergi ke kantor. Nanti terlambat loh. " seru Kinaya.
"Baiklah. Mas akan pulang tepat waktu. Habis ini istirahatlah. Mas akan menelpon kamu nanti. " seru Samuel. Dengan lembut Samuel menurunkan Kinaya dari pangkuannya. Berdiri dan kembali memakai jasnya. "Mas berangkat dulu. " Kecupan lembut di seluruh wajah sang istri dan kecupan lembut lagi di perut Kinaya. Meminta izin kepada anak mereka yang masih di dalam perut sang istri.
"Iya mas. Mas hati-hati di jalannya dan jangan terlalu kelelahan. " Kinaya mengantar Samuel sampai di depan teras rumah. Samuel masuk ke mobil dan melambaikan tangannya kepada Kinaya. Tersenyum kepada sang istri tercinta. Kinaya pun membalasnya dengan hal yang sama.
Di dalam perjalanan Samuel serasa mendidih. Sudah tidak sabar memberi hukuman kepada seseorang. Selepas melepaskan pandangannya dari istrinya tadi. Di saat ia masih di rumah. Samuel berusaha menahan amarahnya agar tidak membuat wanita itu takut ataupun khawatir terhadapnya. Samuel tahu saat ini istrinya itu sangatlah sensitif apalagi saat ini Kinaya sedang mengandung anaknya yang baru beberapa minggu itu.
Samuel langsung menyetel wajah dinginnya yang penuh amarah setelah jauh dari area kediamannya. Selang tidak lama Samuel tiba di sebuah gudang tua peninggalan Belanda.
__ADS_1
Samuel langsung di sambut oleh beberapa pria bertubuh kekar dan tinggi. Memakai seragam yang mendominasi warna hitam. Salah satu dari mereka membuka pintu untuk Samuel. Samuel dengan dinginnya masuk ke dalam tanpa mengindahkan sapaan para pengawalnya. Setibanya di dalam ruangan yang kumuh itu. Samuel di sambut oleh Rio si tangan kanannya. Rio langsung mempersilahkan Samuel duduk di kursi yang sudah di siapkan oleh bawahannya. Samuel pun menatap dingin Rio dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Bawa dia kesini? " seru Samuel. Menatap Rio dengan ekor matanya.
"Ba- baik tuan. " balas Rio gugup. Rio pun pergi menemui temannya dan menyuruh mereka membawa orang tangkapannya di depan Samuel. Mereka pun paham dan menganggukkan kepalanya.
.
.
.
.
.
Bersambung.
Terima kasih 😊😊
Jangan lupa dukungannya yah kesayangan 😚😙😙
By : Nadila Sizy
__ADS_1
#Kinaya&Samuel_LFR