
Dokter itu tersenyum kepada Kinaya. Dia memberi hormat setelah itu meletakkan alat pemeriksaannya di atas meja yang ada disamping tempat tidur Kinaya. Sang dokter sebelumnya menanyakan mengenai gejala-gejala yang mungkin berhubungan dengan kehamilan Kinaya. Sang dokter hanya tersenyum sesekali ketika Kinaya menjelaskan apa saja yang dia rasakan belakangan ini. Dokter itu pun memeriksa denyut nadi Kinaya disela Kinaya menjelaskan hal-hal yang dia rasakan beberapa minggu ini. Kinaya terlihat serius menjelaskannya. Sedangkan Samuel terlihat fokus memperhatikan sang dokter memeriksa istrinya. Dia sangat ingin mendengar kabar baik dari sang dokter di depannya ini. Namun dia harus bersabar karena dia takut jika dugaannya salah maka bukan dia yang bersedih melainkan istri tercintanya yang bersedih dan dia tidak mau melihat semua itu. Dia lebih memilih bersedih sendiri dari pada melihat Kinaya bersedih di depannya. Oleh karena itu, Samuel tidak memberi tahu Kinaya dulu mengenai kemungkinan Kinaya hamil ini. Dia takut Kinaya akan patah hati nantinya dan meratapi sendiri kesedihannya.
Setelah melakukan pemeriksaan yang penuh dengan ketelitian karena hal ini menyangkut keluarga Malaka Wijaya keluarga yang disegani di kota ini, sang dokter pun terlihat tersenyum. Dia merasa yakin sekali dengan pemeriksaannya. Setelah selesai menyusun kembali alat-alat yang dia bawa dan dia gunakan pada Kinaya, dokter itu pun berdiri di depan Kinaya dan Samuel. Samuel yang saat ini tengah ikut duduk di samping Kinaya dengan satu tangan memegang tangan Kinaya dan satu tangannya lagi memeluk tubuh Kinaya yang bersandar di bahunya. Dokter itu pun tersenyum kearah pasutri itu. Kinaya bingung sendiri dengan raut wajah sang dokter yang terlihat tersenyum kepadanya, bukan seperti senyuman yang diberikan ketika sang dokter memeriksanya tadi. Kinaya hanya bisa menunggu hasil pemeriksaan yang keluar dari mulut dokter itu sendiri. Samuel pun bahkan sudah mulai geram karena sang dokter di depannya, dia bahkan sudah menunggu hasil pemeriksaan Kinaya sejak dokter yang pertama memeriksa istrinya. Dia tidak bisa menahan lagi dan langsung angkat suara mendengar hasilnya.
" Dok. Sebenarnya apa yang terjadi pada istri say? Jangan senyum terus dan jelaskan pada kami sekarang juga. " Samuel sudah mulai kesal dengan senyuman dokter itu. Tidak tahu apa hatiku rapuh mendengar berita yang membuatnya patah hati nantinya tapi dia terus berdoa agar hasilnya memuaskan pikir Samuel dalam hatinya.
Kinaya sendiri bingung melihat reaksi Samuel. Kenapa Samuel kesal begitu. Ini bahkan belum apa-apa. Kinaya pun hanya geleng-geleng kepala dan kembali menunggu penjelasan Sang dokter.
" Maaf tuan karena sudah membuat anda menunggu penjelasan dari saya. Kalau begitu saya akan memberitahu bahwasanya sudah 4 minggu..anak anda berumur." jelas dokter mengantung ketika nama anak disebut.
__ADS_1
Kinaya menutup mulutnya tidak percaya. Air matanya tiba-tiba lolos begitu saja. Dia melihat kearah Samuel dan Samuel pun ikut menangis tapi tidak separah Kinaya yang sudah membanjiri pipinya. Kinaya pun memastikan sekali lagi apa yang dia dengar benar atau tidak dan dokter itu menjawabnya dengan sangat yakin dan percaya diri akan pemeriksaannya itu.
" Selamat tuan, nyonya. Kalian akan menjadi orangtua kedepannya. " seru dokter itu memberikan senyuman yang tulus. Dokter itu turut bahagia karena ini adalah anak pertama Samuel setelah 2 tahun menjalin rumah tangga.
" Makasih dok. Makasih sudah memberikan kabar bahagia ini pada kami. " seru Samuel karena Kinaya masih belum bisa bicara. Dia hanya tersenyum sembari mengelus perutnya.
" Sama-sama tuan. Kalau begitu saya mohon pamit dulu. Sekali lagi selamat untuk tuan dan nyonya yang akan menjadi ayah dan ibu. " seru dokter itu yang langsung keluar dari kamar pasutri itu. Dokter itupun diantar oleh buk Yas yang sudah disuruh Samuel menunggu diluar.
" Iya Nay. Mas bahagia sekali karena kita akan menjadi seorang ayah dan ibu. Makasih Nay karena sudah memberikan kebahagian yang tidak bisa mas beli didunia ini. Kalian berdua adalah kebahagian mas yang sangat mas cintai melebihi apa pun di dunia ini.
__ADS_1
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.