
Tubuhnya menempel erat di samping sang suami. Bagaimana tidak, Samuel memeluknya sangat erat. Bahkan, Samuel melarang sang istri bergerak agar tidak ada jarak di antara mereka. Samuel mengusap kepala Kinaya. Memberikan kecupan di pucuk kepala Kinaya. Samuel sesekali mengusap bahu Kinaya. Agar memberikan kenyamanan untuk sang istri.
Kinaya yang mendapatkan sentuhan hangat dan lembut itu terlihat bahagia. Dia merasa sangat di cintai oleh suaminya. Ya, Samuel memang sangat mencintai istrinya. Di hatinya hanya ada Kinaya seorang. Dia sudah menutup hatinya untuk wanita lain. Hatinya sudah di penuhi oleh Kinaya, sang istri tercinta.
Ajaran orang tuanya dari kecil yaitu jangan mencintai 2 orang sekaligus. Meski pasanganmu mengizinkannya. Tapi, itu akan membuat hati kecilnya terluka. Hal kecil menurut kita tapi akan berdampak buruk untuk hubungan suami istri. Karena itulah, Samuel menolak mentah-mentah ajakan Kinaya untuk menikah lagi dengan wanita lain yang tidak dia cintai.
Bagi Samuel sekali ia mencintai seseorang maka cinta itu akan abadi untuk selamanya tanpa ada pihak ketiga di rumah tangganya.
"Nay, jika suatu hari nanti kamu menyuruh mas untuk menikahi orang lain lagi. Maka, Lebih baik bagi mas untuk hilang di dunia ini dari pada mas melihat mu terluka. " lirih Samuel disaat Kinaya sudah masuk ke dalam mimpinya.
Pagi harinya pasangan suami istri itu sudah berada di meja makan. Di saat Kinaya hendak mengambilkan Samuel sarapan tiba-tiba Kinaya mual-mual. Kinaya bergegas menuju wastafel. Samuel mengikutinya dari belakang. Wajahnya terlihat khawatir terhadap keadaan sang istri. Samuel mengikat rambut Kinaya dengan tangannya dan mengangkat rambut Kinaya ke atas agar tidak terkena cipratan muntah Kinaya. Samuel mengusap tengkuk Kinaya untuk melancarkan keluarnya air bening dari mulut Kinaya.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini, Nay? Mas tidak tahan lagi liatnya.Β " seru Samuel. Iba terhadap keadaan Kinaya. Kinaya tersenyum mendengar ucapan Samuel.
"Tidak apa-apa, mas. Ini normal di alami oleh seorang wanita yang sudah menikah. 2 bulan lagi ini tidak akan terjadi lagi. Mas tenang saja. Aku baik-baik saja. " seru Kinaya tersenyum di hadapan Samuel. Namun, dia tetaplah seorang Samuel. Tidak mau melihat wanitanya tersiksa. Dirinya akan selalu merasa khawatir bila melihat istrinya seperti itu.
Kinaya melangkahkan kakinya kembali ke meja makan. Lalu menatap wajah Samuel.
"Apa mas masih mau makan setelah kejadian tadi? Atau mas makan di kantor aja. Aku akan meletakkannya di kotak makanan. " seru Kinaya. Samuel tersenyum menatap wajah Kinaya.
Samuel mendekati Kinaya lalu membawa wanita itu duduk di pangkuannya. "Mas akan makan bersamamu. Seperti biasa mas mau menyuapimu. Kalau tidak pasti kamu juga tidak akan makan dengan baik di rumah sendirian. " seru Samuel menyuapi sang istri. Kinaya tersenyum. Lalu menerima suapan sang suami. Kinaya mengambil sendok yang di pegang oleh Samuel lalu ikut menyuapi suaminya.
"Makasih ya sudah perhatian padaku. Kalau begitu, mas harus makan banyak. " kembali menyuapi Samuel. Samuel menerimanya.
Sarapan pagi pun selesai. Seperti biasa Kinaya mengantar sang suami keluar.
"Apa aku boleh keluar nanti mas. Aku mau beli sesuatu untuk anak-anak panti. Tidak apa-apakan? " tanya Kinaya saat mereka sedang berjalan keluar rumah.
"Lakukanlah apapun yang kamu mau. Tapi, jangan lepas dari pandangan mereka. "Menatap 2 pengawal Kinaya yang sudah berdiri tepat di belakang mereka dengan ekor matanya. "Hubungi mas jika sesuatu terjadi padamu. " lanjut Samuel tersenyum. Samuel mencium kening Kinaya. Seluruh wajah tidak luput dari bibirnya. Menebar kemesraan di mana-mana. Samuel pun membungkukkan badannya lalu berpamitan kepada cabang bayi yang ada di perut istrinya. Jangan buat Mamamu tersiksa. Jadilah anak yang baik. Papa akan berangkat ke kantor. Mencari uang untuk membahagiakan kalian bertiga. " seru Samuel mengecup perut Kinaya yang terhalang pakaian Kinaya. Kinaya tersenyum sembari mengusap lembut kepala Samuel.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan, mas. Semangat kerjanya ya. " seru Kinaya. Kinaya pun mencium punggung tangan Samuel. Samuel menunjuk bibirnya untuk mendapatkan kecupan di sana. Kinaya tersenyum. Malu-malu dia memberikan kecupan di bibir Samuel. Karena ada orang lain di belakang mereka. Samuel puas mendapatkan kecupan dari Kinaya.
"Mas berangkat dulu. " satu kecupan lembut di bibir dan pipi Kinaya. Kinaya tersenyum mendapatkan kecupan itu. Dia pun tersenyum sembari menatap Samuel yang sudah berada di dalam mobil. Samuel melambaikan tangannya kepada Kinaya begitu juga sebaliknya.
Kinaya membalikkan badannya setelah mobil Samuel menjauh. Dia menatap 2 orang wanita di depannya. Yang satu seumuran dengannya dan yang satu lagi tidak beberapa jauh umurnya di bawah Samuel.
"Maaf mbak. Yang namanya mbak Sisil siapa dan juga mbak Yosi yang mana ya? Maaf saya lupa soalnya. " tanya Kinaya tersenyum kikuk sembari mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya Sisil dan teman saya namanya Yosi. " balas Sisil. Sisil berusaha menunjukkan bahwa levelnya dengan Kinaya tidak sama. Seharusnya Kinaya tidak perlu meminta maaf kepadanya. Mereka sebagai pengawal lah yang harus lebih mengingatkan lagi Nyonya mereka.
"Hei, tidak perlu seperti itu. Panggil saja saya Kinaya. Mbak lebih tua dari saya kan. Saya tidak mau menghilangkan rasa hormat saya kepada orang yang lebih tua. " Memegang satu tangan Sisil " Panggil saja nama saya. Tidak perlu pakai embel-embel Nyonya. Oke, mbak. " seru Kinaya. Sisil tidak menjawab. Dia tetap dalam aturan kerjanya. Yang mana dia harus menghormati majikannya. Kinaya menghela napas melihat wajah Sisil yang seakan menolak permintaan Kinaya.
"Baiklah. Tapi, kita bisa berteman kan? " tanya Kinaya lembut. Sisil pun menganggukkan kepalanya.
Kinaya menoleh ke arah Yosi. Wanita itu terlihat datar. Tidak tertarik sedikit pun dalam obrolan mereka.
"Benar-benar berbeda dengan yang lainnya. Baru kali ini aku di perlakukan seramah ini oleh majikan. Nyonya benar orang yang ramah dan baik hati. Tidak sama dengan suaminya yang dingin itu. " seru Sisil. Yosi hanya diam seperti patung. Tidak berkeinginan untuk menjawab ataupun mengutarakan pendapatnya.
Kinaya masuk ke kamarnya. Dia melihat Reza yang sedang bermain dengan mainannya. Kinaya mendekat lalu mengendong putranya itu. Kinaya membawa Reza ke balkon kamarnya. Kinaya membawa Reza untuk duduk di sebuah sofa yang berukuran besar sehingga ia bisa menidurkan Reza di sana. Bentuknya pun tidak tinggi ataupun terlalu rendah. Sehingga Kinaya merasa aman kalau Reza duduk di sana.
Beberapa jam setelah itu Kinaya memutuskan untuk pergi ke Mall. Dia sudah bersiap-siap, begitu juga dengan Reza. Kinaya sudah menyiapkan semua keperluan Reza saat di jalan nanti. Sebelum berangkat Kinaya menelpon Samuel dulu. Setelah mendapatkan jawaban dari Samuel Kinaya pun memutuskan untuk segera berangkat.
Sesampainya di Mall. Kinaya meminta Yosi untuk memilihkan baju anak yang berumuran 8-16 tahun sebanyak 30 pasang. Dengan ukuran yang sudah di bilang Kinaya. Beberapa mainan juga ia belikan. Beberapa mainan sudah Kinaya pilihkan. Setelah selesai Kinaya meminta tolong kepada Sisil untuk membungkus Pizza 20 kotak dengan menu khusus. Kinaya memberikan kartu rekeningnya kepada Sisil lalu menunggu Sisil di kursi yang di sediakan oleh pihak Pizza hut.
Selang tidak lama semua yang Kinaya butuhkan sudah tersedia. Dia pun meminta kepada sang sopir untuk membawa mereka ke tempat biasa. Sang sopir paham lalu melajukan mobilnya. Kinaya melihat jam di ponselnya. Sudah menunjukkan pukul 11 pagi.
Selang tidak lama mobil mereka tiba di sebuah 'Panti Asuhan Bunda' itu adalah tempat di mana Kinaya besar. Kinaya tumbuh dan besar di sebuah panti asuhan. Dirinya tidak minder ataupun malu sama sekali. Toh, dia bisa hidup dan besar dengan kebahagian di hatinya. Tanpa beban ataupun masalah di hatinya.
"Maaf ya, Bu. Kinaya tidak bisa lama-lama karena Kinaya mau ketempat suami Kinaya. Ada beberapa pakaian dan juga mainan untuk adik-adik. Maaf, Kinaya baru bisa hadir karena saat ini Kinaya sedang hamil dan mas Samuel melarang Kinaya untuk keluar rumah terlalu lama. " seru Kinaya ramah.
__ADS_1
"Apa!Β Kamu hamil. Syukurlah, akhirnya tuhan mengabulkan doamu, sayang. Ibu ikut bahagia mendengarnya. Semoga kamu bahagia selamanya. " seru Bu Nur, selaku pemilik panti asuhan.
"Iya, Bu. Terima kasih. Dan juga, Kinaya menemukan seorang.... " ucap Kinaya mengantung karena dia menyuruh Sisil untuk mendekatinya. Kinaya mengambil Reza di pangkuan Sisil. "Dia namanya Reza. Kinaya menemukannya di sebuah bioskop saat Kinaya sedang nonton bareng sama mas Samuel. Kinaya sudah menganggapnya sebagai anak sendiri. Kinaya pun memutuskannya untuk menjadikannya sebagai anak Kinaya. Mas Samuel sudah mengurus untuk memasukkan namanya di kartuΒ keluarga Kinaya. " seru Kinaya tersenyum menatap wajah Reza sembari mengusap lembut pipi Reza. Buk Nur ikut senang melihat Kinaya yang senang. Dia mendukung semua yang di inginkan oleh Kinaya.
"Dia tampan sekali. Siapa yang berani membuang anak setampan ini. Kasihan sekali dirimu,Β Nak. " seru Buk Nur yang ikut mengusap pipi Reza.
"Karena itu Kinaya kasihan kepadanya, Bu. Kinaya tahu bagaimana rasanya di buang oleh orang tua sendiri. Karena itu, Kinaya mengangkatnya sebagai anak Kinaya dan juga mas Samuel. Kinaya dan mas Samuel akan menyayanginya seperti anak kandung Kami sendiri. Tidak ada perbedaan di antara bayi yang ada di kandung Kinaya dengannya. Kinaya akan menyayangi mereka berdua dengan sayang dan cinta yang sama. " lirih Kinaya mengusap perutnya lalu mengusap pipi Reza yang ada di pangkuannya.
.
.
.
.
.
Bersambung.
IG : gx_shi7
Terima kasih ππ
Jangan lupa dukungannya yah kesayangan. Aku pada kalian πππ
By : Nadila Sizy
#Kinaya&Samuel_LFR
__ADS_1