Belenggu Seorang Istri

Belenggu Seorang Istri
Menyemangati


__ADS_3

Kinaya memperhatikan Ani. Dilihatnya perut Ani yang sudah membesar. Kinaya tersenyum dan ikut mengusap perutnya yang masih kecil.


"Silahkan duduk mbak. " ucap Kinaya kepada Ani di sebuah sofa yang ada di teras rumah. Ani hanya diam saja. Menatap rendah kepada Kinaya.


"Bagaimana dengan kabarmu. Apa kamu sudah memiliki kabar gembira untuk nyonya Malaka? " tanya Ani mengusap perutnya yang besar.


Kinaya bingung.


"Maksud nya, mbak? " tanya Kinaya.


"Apa kamu sudah memberikan anak untuk mas Samuel? " tanya Ani. Kinaya mau menjawabnya tapi di potong oleh Ani.


"Aku.... "


"Jika belum, kamu tenang saja. Aku sudah memberikannya. Usianya sudah 6 bulan dan sebentar lagi aku akan lahiran. Dia akan menjadi anak laki-laki yang tangguh untuk keluarga Malaka ke depannya. " seru Ani yang seperti sambaran petir oleh Kinaya ketika mendengar ucapan Ani. Tubuh Kinaya bergetar. Belum bisa mencerna ucapan Ani kepadanya.


"Apa maksudmu, mbak? Sejak kapan kalian berdua melakukannya? " tanya Kinaya gemetaran.


"Pasti mas Samuel tidak bilang padamu. 6 bulan lalu di pesta ulang tahun tante Melani. Mas Samuel diam-diam menarik ku ke dalam kamarnya yang ada di sana dan terjadilah semua itu. Dan sekarang kami sudah tidak sabar menanti buah hati kami ini. " ucap Ani mengusap perutnya.


"Itu tidak mungkin! Mas Samuel tidak akan melakukannya dibelakangku. Mbak pasti sedang membohongi aku. " ucap Kinaya belum menerima penjelasan Ani.


"Tidak akan ada pria manapun yang menolak wanita cantik di depannya. Kamu harus tahu itu. Jangan kamu pikir ada laki-laki yang setia di dunia ini. " ucap Ani meyakinkan Kinaya.


"Itu tidak mungkin. Aahhh perutku. Mbak Sisil, Yosi. Perutku, ahhh. " ucap Kinaya menahan perutnya yang sakit. Dengan cepat Sisil dan Yosi menghampiri Kinaya.


"Apa yang telah kamu lakukan kepada nyonya kami? " tanya Yosi dengan tatapan dinginnya. Sedangkan, Sisil membantu memeriksa keadaan Kinaya karena sedikit banyaknya Sisil mengetahui tentang ilmu kedokteran. Kinaya sudah memejamkan matanya. Kinaya pingsan di pangkuan Sisil.


"Apa yang terjadi di sini? " tanya Samuel dengan raut dinginnya. Samuel terkejut melihat Kinaya berada di pangkuan Sisil dalam keadaan tidak sadar.


"Apa yang terjadi kepada istriku? Kenapa dia bisa pingsan ? " tanya Samuel khawatir.


"Maaf, Tuan. Sebaiknya kita membawa nyonya kerumah sakit terlebih dulu. Keadaan nyonya tidak baik-baik saja saat ini. " ucap Sisil khawatir karena detak jantung Kinaya tidak teratur.


Samuel dengan wajah khawatirnya mengendong Kinaya ke dalam mobil. Membaringkan Kinaya di pangkuannya. Tangan Samuel bergetar hebat ketika Kinaya tidak merespon panggilannya.


"Sayang, bangunlah. Jangan membuat mas cemas seperti ini. Kinaya, sayang. Sadarlah, sayang. Jangan buat mas takut. " ucap Samuel menangis sembari memeluk erat tubuh Kinaya. Berkali-kali Samuel menghapus air matanya tapi air matanya terus saja berjatuhan. Sampai akhirnya mobil Samuel sudah berada di rumah sakit. Samuel langsung mengendong tubuh Kinaya ke dalam rumah sakit. Dengan cepat juga perawat dan suster datang dengan brankar.


"Letakkan pasien dengan hati-hati. Apa yang terjadi kepadanya? " tanya perawat di sela-sela mereka mengantarkan Kinaya ke ruang UGD.


"Nyonya tiba-tiba saja pingsan dan tidak sadarkan diri. Detak jantungnya tak beraturan. " jawab Sisil yang ikut mendorong brankar Kinaya. Samuel hanya bisa diam dan memperhatikan sang istri. Air matanya terus bercucuran ke pipinya. Tangisnya tak bisa tertahankan lagi.


"Harap keluarga pasien menunggu di luar. Biarkan dokter memeriksa nya dengan fokus. " ucap perawat tersebut yang langsung menutup pintu UGD dan dokter pun langsung menangani Kinaya.


Di luar pintu UGD Samuel terlihat gemetaran. Matanya selalu tertuju ke pintu yang ada Kinaya di dalamnya. Samuel pun tersadar dan menoleh ke arah Sisil.


"Apa yang telah kalian lakukan? Bagaimana bisa istri saya pingsan di dalam pengawasan kalian. Saya tidak akan memaafkan kalian jika terjadi sesuatu pada istri saya. " ucap Samuel mencengkeram leher baju Sisil tanpa memandang bahwa Sisil itu adalah seorang wanita.

__ADS_1


Sisil sampai terbatuk - batuk karena cengkeraman Samuel yang terlalu kuat.


"Bagaimana bisa Kinaya pingsan? " tanya Samuel dingin.


"Semua ini karena wanita tadi, Tuan. Dia mengatakan bahwa anak yang di kandungannya adalah anak Tuan dan wanita itu. Semuanya terjadi di saat ulang tahun tante Melani. Dia bilang Tuan dan dia pergi ke kamar dan terjadilah hal itu. " jawab Sisil terbata-bata. Samuel mengepal tangannya lalu melayangkan tangannya ke dinding. Ada darah segar bercucuran di punggung tangan Samuel.


"Seharusnya sudah dari dulu saja aku singkirkan wanita itu. " ucap Samuel mengepal erat tangannya.


Sisil yang melihat tangan Samuel yang sudah berdarah, berinisiatif untuk mendekat dan mencoba mengobati luka Samuel namun di tepis kasar oleh Samuel.


"Jangan berani-beraninya kamu menyentuh ku. Hanya Kinaya istriku seorang yang boleh menyentuhku. " ucap Samuel mendorong Sisil untuk menjauh.


"Siapa keluarga pasien di sini? " tanya dokter yang memeriksa Kinaya.


Samuel pun menghampiri dokter tersebut.


"Saya suaminya, dok. Bagaimana dengan keadaan istri saya, dok? " tanya Samuel dengan tangannya yang sudah gemetar.


"Pasien tidak apa-apa, Tuan. Pasien hanya syok saja. Kedepannya jangan buat hal seperti ini terjadi lagi karena kehamilan pasien sangat lemah. Apalagi ini adalah kehamilan pertamanya semenjak kalian menikah. " ucap dokter itu. Samuel terlihat sesekali menganggukkan kepalanya, paham.


"Apa saya boleh melihat istri saya, dok? " tanya Samuel.


"Silahkan, Tuan. " ucap dokter itu mempersilahkan Samuel masuk. Samuel langsung masuk ke dalam. Dilihatnya Kinaya tengah berbaring di kasurnya. Ada selang infus di punggung tangan kiri Kinaya. Samuel menatap sendu sang istri. Samuel memilih duduk di samping kasur Kinaya.


"Maafkan mas, Nay. Semua ini terjadi gara-gara mas. Mas akan menyelesaikan kesalahpahaman ini. " lirih Samuel. Tiba-tiba Kinaya terbangun dari tidurnya. Kinaya menatap Samuel yang sedang ada di sampingnya. Samuel pun juga melihat Kinaya yang melihatnya.


"Aku ingin sendiri,mas. Tolong pergilah dari sini. " ucap Kinaya yang mulai berkaca-kaca matanya. Samuel mengelengkan kepalanya.


"Tidak, Nay. Mas ingin menemanimu di sini. " ucap Samuel memeluk Kinaya. Membenamkan kepalanya di dada Kinaya. Kinaya terlihat menahan air matanya. Dirinya tidak bisa marah kepada sang suami. Kinaya sadar bahwa dirinya juga bersalah dalam hal ini. Andai dia lebih duluan hamil, semua itu tidak akan terjadi seperti sekarang.


Kinaya terlihat mengerakkan badannya. Samuel otomatis menegakkan kepalanya.


"Apa kamu butuh sesuatu, Nay? " tanya Samuel.


"Aku mau ke kamar mandi mas. " balas Kinaya.


"Mas akan membantumu. " ucap Samuel. Mengenggam tangan Kinaya dan satu tangannya lagi memegang botol infus. Samuel pun menuntun Kinaya turun dari tempat tidur. "Mas akan mengantarmu ke kamar mandi umum dulu. Nanti kita akan pindah ke kamar VIP. " ucap Samuel. Kinaya hanya diam. Dirinya berusaha menahan tangisnya yang ia pendam sejak tadi.


Setibanya di kamar mandi.


"Aku ingin sendiri, mas. " ucap Kinaya.


"Mas akan menemanimu. " ucap Samuel.


"Aku tidak apa-apa, mas. " ucap Kinaya. Samuel pun mengalah. Samuel tahu, saat ini Kinaya butuh waktu untuk sendiri.


"Mas akan menunggumu di luar. Mas takut terjadi sesuatu padamu. " ucap Samuel. Kinaya hanya diam dan langsung mengambil botol infus di tangan Samuel.

__ADS_1


Setibanya di kamar mandi, air mata Kinaya tidak bisa terbendung lagi. Sudah dari tadi Kinaya menahan tangisnya. Kinaya langsung melorot di lantai kamar mandi yang masih kering. Mulutnya ia tahan agar tidak bersuara. Hanya air mata yang bercucuran di pipinya.


Inilah yang aku inginkan sebelumnya. Harusnya aku bisa mengendalikan perasaanku. Dia jugalah anak dari mas Samuel. Bahkan, kandungannya sudah berusia 6 bulan. Inilah yang akan terjadi bila saat itu mas Samuel menyetujui permintaanku. Harusnya aku sudah tahu itu. Aku tidak boleh egois dalam hal ini. Di zaman ini mana ada seorang suami yang betah dengan istrinya tanpa ada sosok seorang anak diantara kita. Aku terlalu naif jika mas Samuel akan tetap mencintaiku dengan tulus tanpa ada wanita lain di antara kita. Harusnya aku tahu bahwa banyak wanita di luar sana yang bisa memberikan kebahagiaan untuk mas Samuel. Gumam Kinaya di dalam hatinya. Air matanya turun tanpa bisa dihentikan. Tangannya mengepal erat hingga menimbulkan luka di tangannya bagian dalam.


Beberapa saat setelah itu, Samuel masih setia menunggu Kinaya di depan kamar mandi RS.


"Apa yang dilakukan oleh Kinaya di dalam? Semoga tidak terjadi sesuatu kepadanya. " ucap Samuel.


"Nay, sayang. Apa kamu baik-baik saja. Mas masuk ke dalam ya. " ucap Samuel dari luar.


Kinaya pun terlihat menyeka air matanya.


"Sebentar lagi mas. Tunggu saja di sana. " jawab Kinaya.


Tenanglah, Kinaya. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu tidak boleh egois. Inilah yang kamu harapkan sebelumnya. Gumam Kinaya. Kinaya pun berdiri dan berusaha menyemangati dirinya.


"Kamu tidak apa-apakan? " tanya Samuel ketika Kinaya sudah berada di depannya. Kinaya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Aku ingin pulang ke rumah, mas. " ucap Kinaya.


"Tapi kamu baru saja di periksa, Nay. " ucap Samuel.


"Aku tidak apa-apa, mas. Aku ingin istirahat di rumah. " ucapnya memelas.


"Baiklah, mas akan berbicara dengan dokternya dulu. " ucap Samuel. Kinaya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


.


.


.


.


.


Bersambung.


IG : gx_shi7


Terima kasih 😊😊


Jangan lupa dukungannya yah kesayangan. Aku pada kalian 😚😙😙


By : Nadila Sizy


#Kinaya&Samuel_LFR

__ADS_1


__ADS_2