
Samuel masih mengingat kejadian sore tadi yang mana Kinaya mual-mual. Samuel pun memakai pakaiannya lalu ikut berbaring di samping Kinaya. Samuel memiringkan tubuhnya menghadap Kinaya. Dilihatnya lekat wajah Kinaya. Mata Samuel berpindah ke tubuh sang istri. Samuel pun mengusap perut Kinaya pelan-pelan. Samuel memberikan kehangatan melalui tangannya di tubuh Kinaya. Kinaya terlihat nyaman dengan sentuhan tangan Samuel di perutnya. Kinaya tersenyum dengan mata masih tertutup rapat. Samuel pun ikut tersenyum melihatnya dan terus memberikan kenyamanan di perut Kinaya dengan jemarinya.
"Mas mencintaimu Nay. Selamat tidur Nay sayang. " Kecupan lembut di pipi dan bibir Kinaya. Samuel terus mengusap perut Kinaya Sampai akhirnya Samuel pun ikut masuk ke dalam mimpi indah sang istri.
Keesokan harinya Samuel mengajak Kinaya bersamanya pergi ke kantor. Samuel tidak mau jauh-jauh dari istrinya. Apalagi mengingat kejadian kemarin sore yang mana Kinaya mual-mual dan tubuh istrinya terlihat lemah. Samuel takut terjadi sesuatu pada Kinaya apabila dia tidak ada di rumah. Samuel pun memutuskan untuk membawa Kinaya pergi bersamanya. Samuel tidak punya pilihan lagi selain mengajak Kinaya ikut bersamanya ke kantor. Meski Kinaya sudah menolak namun Samuel tetap dengan prinsipnya atau dia akan terus di rumah menjaga sang istri yang mana membuat Kinaya tidak punya pilihan selain menurutinya.
"Mas. Kita ke tempat bubur ayam yang biasa nanti yah. Tempatnya kan searah dengan kantor mas. Aku kepengen makan buburnya mas Kalau mas nggak bisa kita bungkus saja buburnya dan bawa ke kantor untuk di makan. " seru Kinaya di saat dia sedang memakaikan dasi untuk Samuel.
"Kita makan di sana saja. Lagian mas ada waktu untuk kamu kok. Karena semua waktu mas milikmu, Nay. " balas Samuel menarik pinggang Kinaya agar mereka semakin dekat tanpa ada jarak sedikit pun.
"Apaan sih mas. Ngegombal terus pagi-pagi. " Kinaya mencubit pinggang Samuel lalu menghambur memeluk Samuel karena malu mendengar ucapan Samuel.
"Mas nggak ngegombal, Nay. Mas serius dengan perkataan mas. Mana ada mas bohong sama kamu. Kamu segala-galanya bagi mas, Nay. " balas Samuel memeluk erat Kinaya lalu meletakkan kepalanya di bahu Kinaya.
Setelah membantu Samuel memakaikan jasnya Kinaya pun mengambil sling bagnya dan bersiap-siap pergi ke tempat restoran buburnya. Samuel meletakkan tangannya di pinggang Kinaya saat mereka menuruni tangga rumah. Sudah menjadi kebiasaan baginya melakukan hal itu bersama Kinaya dari pagi.
"Bi. Bibi makan saja bersama yang lain menu makanan yang Bibi buat pagi ini. Hari ini saya kepengen makan bubur ayam yang biasa saya beli. Dan juga hari ini saya akan ikut ke kantor bersama suami saya. Saya titip rumah dengan Bibi dan juga yang lain. " seru Kinaya ramah kepada Bibi Yas yang merupakan kepala ART di sana.
"Baik, Nyonya. Terima kasih atas perhatian Nyonya dan Tuan kepada kami. Hati-hati di jalan Nyonya, Tuan. " balas Bi Yas dan para ART yang lain membungkukkan badannya memberi hormat.
"Baiklah. Makasih Bi. Kami pergi dulu. Kalau ada apa-apa hubungi saja kami. Jangan ragu untuk menghubungi saya. " balas Kinaya tersenyum lalu mengikuti langkah kaki Samuel meski Samuel sudah meletakkan tangannya di pinggangnya.
__ADS_1
Setelah sampai di tempat restoran buburnya dan telah memilih meja untuk duduk Samuel pun memesankan buburnya untuk Kinaya.
"Jangan pedas ya mas. Biasa aja. Dan kasih bawang gorengnya yang banyak sama abang tukang buburnya. " seru Kinaya ketika Samuel hendak memesan bubur ayam untuk Kinaya dan juga dirinya.
"Iya Nay. Ada lagi nggak? Minumannya mau apa? " Samuel melihat menu minuman yang di letakkan di atas meja.
"Nggak ada mas. Minumnya air putih aja. " seru Kinaya melipat tangannya di atas meja.
"Baiklah. kamu tunggu sebentar yah. Biar mas pesan dulu buburnya. " balas Samuel.
Samuel pun berdiri dan pergi memesan pesanan Kinaya. Saat Samuel pergi memesan buburnya tiba-tiba ponsel Samuel yang di letakkan nya di atas meja berdering. Kinaya hendak memanggil Samuel namun Samuel sudah keburu jauh. Awalnya Kinaya membiarkannya namun sudah tiga kali ponsel itu berdering. Kinaya pun mengangkat namun saat Kinaya hendak meletakkan ponsel tersebut di telinganya tiba-tiba Samuel datang dengan membawa pesanannya. Kinaya pun memberikan ponsel tersebut kepada Samuel.
"Siapa Nay? " tanya Samuel setelah meletakkan dua mangkok bubur ayam di atas meja.
"Sudah di putusin. Biarin aja. Mungkin dari perusahaan peminjaman. " seru Samuel. Samuel pun mengatur mode diam di ponselnya agar tidak menggangu waktu makan paginya bersama dengan Kinaya. Kinaya pun membiarkannya dan lebih memilih untuk menghabiskan bubur yang sudah di hidangkan di depannya.
Setelah menyantap sarapan paginya dan membayar buburnya. Samuel pun langsung berangkat ke kantornya.
Beberapa menit kemudian akhirnya Samuel memberhentikan mobilnya tepat di depan perusahaannya. Samuel membantu membukakan pintu mobil untuk istrinya. Kinaya tersenyum lalu berterima kasih kepada Samuel. Setiba di dalam kantornya semua karyawan dan juga staf memberi hormat kepada Kinaya dan juga Samuel. Kinaya terlihat membalas dan membungkukkan badannya sedikit sembari berjalan dan juga tersenyum sedangkan Samuel hanya diam saja sambil menuntun Kinaya masuk ke lift.
Setiba di dalam ruangannya Samuel mengajak Kinaya untuk duduk di sebuah sofa yang tidak jauh dari pandangannya apabila dia kerja nanti.
__ADS_1
"Mau minum apa Nay? Biar mas pesankan pada asisten mas. " seru Samuel setelah Kinaya dan juga dirinya duduk di sebuah sofa berwarna abu-abu gelap.
"Susu hangat saja mas. Apa aku boleh minta di bawain beberapa majalah atau sesuatu yang bisa di baca nggak mas biar aku nggak bosan di sini terus. " pinta Kinaya.
"Baiklah. Akan mas pesankan. Kalau begitu kamu duduklah di sini dulu. Sebentar lagi susu hangat dan buku-bukunya akan datang. " jawab Samuel tersenyum. Meninggalkan kecupan di bibir istrinya lalu mengusap kepala Kinaya. Kinaya pun menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu mas kesana dulu yah Nggak apa-apa kan mas tinggal sendiri? " tanya Samuel sembari menunjuk ke meja kerjanya.
"Iya mas. Aku nggak apa-apa sendiri kok. " balas Kinaya tersenyum. Samuel pun tersenyum lalu pergi melangkah ke tempat dia akan bekerja.
Samuel pun pergi ke meja kerjanya lalu memesankan apa yang di minta oleh Kinaya kepadanya. Beberapa menit setelah itu datang dua orang pelayan wanita membawakan segelas besar susu hangat dan beberapa buku yang di pesan oleh Samuel. Samuel pun memerintahkan pelayan tersebut agar memberikannya kepada Kinaya. Kinaya tersenyum dan berterima kasih kepada kedua pelayan itu setelah mereka telah meletakkan pesanannya. Kedua pelayan itu ikut tersenyum membalas senyuman dari Nyonya bosnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.